
Bobby berjalan menelusuri trotoar sambil menggendong Erika. Erika menaruh kepalanya di bahu Bobby.
"Apakah kau benar-benar sudah tidak mencintaiku Bobby?" bisik Erika di telinga Bobby.
Bobby hanya diam saja. Erika membenamkan wajahnya dipunggung Bobby.
"Aku sangat mencintaimu Bobby, apakah kau tidak bisa memberikan kesempatan padaku untuk bisa bersamamu?" tanya Erika lagi.
Bobby tetap diam, dia tidak ingin terpengaruh dengan kata-kata Erika.
"Aku tahu badanku berat dan aku memaksamu untuk menggendongku ke rumah ayah. Bila kau memang keberatan turunkan aku"
Erika memberontak seperti anak kecil, Bobby bertahan untuk diam tak menganggapi kelakuan Erika.
"Apa kau sedang mengabaikanku?"
Bobby menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Erika.
"Sepertinya kau sudah bisa berjalan sendiri, dari tadi kau terus mengoceh membuatku pusing"
"Yang sakit itu kakiku, jadi wajar saja bila aku masih bisa berbicara banyak"
Bobby menurunkan Erika dari punggunya dan mendudukkannya di kursi yang ada dipinggir jalan.
"Kau benar-benar akan meninggalkan ku!" Teriak Erika, Bobby berjalan meninggalkannya.
"Apakah kau baik-baik saja nona?" Seorang pria muda mendekati Erika, Erika terdiam.
"Ya aku baik-baik saja" jawab Erika gugup.
Bobby menoleh mendengar ada seorang pria mendekati Erika.
"Apa kau keberatan bila aku membantumu?" Pria itu mengulurkan tangannya.
Erika mengulurkan tangannya dan bermaksud menerima pertolongan pemuda itu.
"Ya aku keberatan, jauhkan tanganmu dari wanitaku!"
Erika terkejut Bobby sudah ada didekatnya.
Dari jauh Rey dan Luna tersenyum puas di dalam mobil, pria muda bayaran mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik.
♥️♥️♥️
__ADS_1
Siang itu Samuel gusar saat tahu mami sudah merestui pernikahan Rey dan Luna, ia tidak bisa menerima begitu saja.
"Kenapa mami melakukan ini kepadaku?" protes Samuel saat bertemu mami dirumahnya.
"Luna terlihat benar-benar bahagia bersama suaminya, mami tak bisa memisahkan mereka" mami terlihat tidak bersemangat menanggapi Samuel.
"Mami tahu aku adalah yang terbaik yang seharusnya menikah dengan Luna" ucap Samuel dengan wajah memelas.
Mami memegang tangan Samuel, mami sangat mempercayai Samuel dan menyayanginya. Sudah lama mami mengenal Samuel semenjak Luna berpacaran dengan Samuel. Walaupun mami sudah memutuskan merestui hubungan Luna dan Rey tapi dalam hati mami masih sangat menginginkan Samuel menjadi menantunya.
"Kalau mami punya anak gadis lagi, pasti mami akan menikahkannya denganmu" ucap mami sambil tersenyum.
"Tapi mi, Sam mau menikah dengan Luna. Hanya Sam yang pantas mendampingi Luna" Samuel mulai frustasi.
"Lagipula kenapa mami semudah itu merestui hubungan mereka? Kita belum tahu apa tujuan pria miskin itu menikahi Luna.. Bagaimana bila dia berpura-pura?" Samuel mulai menghasut mami lagi.
"Dia sudah menyelamatkan hidup Luna dua kali" kata mami sedikit membela Rey.
"Ini sangat mencurigakan, bagaimana bisa dia dengan sangat tiba-tiba bisa menolong Luna? Apa mami tidak berpikir dia adalah orang dibalik pemabuk dan penculikan Luna?" Samuel memelankan suaranya.
Mami terlihat berpikir, ia menatap Samuel. Samuel membalas tatapan mami untuk meyakinkannya.
"Mami akan menyelidikinya, bila memang dia salah semua ini kita akan membongkarnya didepan Luna" ucap mami menyetujui kata-kata Samuel.
Samuel sudah menyiapkan semuanya agar semua tuduhan tertuju kepada Rey. Bahkan ia membayar dua orang mabuk yang pernah hampir menyerang Luna untuk menuduh Rey.
"Mami sudah mengutus orang untuk menyelidiki semua ini" kata mami meletakan ponselnya.
"Iya mi, kita harus selalu waspada kepada orang-orang seperti si Rey itu" Samuel menyeringai.
Lagi-lagi mami terkena bujuk rayuan Samuel yang terdengar manis namun menyesatkan.
"Kita tunggu hasilnya dan mami akan segera mengambil langkah selanjutnya" mami terlihat geram, ia benar-benar termakan hasutan Samuel.
"Iya mi, ayo kita makan" ajak Samuel menggandeng mami berjalan ke ruang makan.
Sementara itu Rey sedang berada di restauran melihat Bobby dan Erika kembali mesra.
"Terima kasih Rey, berkat pemuda bayaran nona aku bisa kembali bersama Erika. Aku tak sanggup melihatnya dengan pria lain" ucap Bobby sambil merangkul Rey, Rey tertawa.
"Aku tidak terkejut kau bisa tahu mengenai orang bayaran itu"
"Terlalu cepat 10 tahun untuk kalian mengelabuiku" Bobby tertawa lepas.
__ADS_1
"Bahkan aku sudah tahu dari awal kalian menjebakku untuk berdua dengan Erika di taman hiburan" sambung Bobby, Rey menggaruk kepalanya yang melihat ke arah lain dalam hatinya merasa malu kepada Bobby karena ketahuan merencanakan banyak hal untuknya.
"Tapi kau masih mengikutinya, sebenarnya kau sendiri masih ingin berduaan dengan Erika" Rey tertawa puas.
"Tentu saja, aku bisa menjadikan nona sebagai alasan bertemu dengannya"
"Aku dan Luna sangat senang kau dan Erika bisa kembali bersama, kalian sangat cocok. Hanya Erika yang dapat menyamai kegilaan mu" ledek Rey.
Bobby mencekik leher Rey pelan dengan lengannya sambil tertawa.
"Apa katamu kacamata? Jangan membuatku menggorengmu diminyak panas ini" Erika yang mendengar kata-kata Rey ikut menimpali.
"Nah lihat kan, bahkan kalian sangat kompak saat menyiksaku" Rey terkekeh sambil melepaskan kepalanya dari lengan Bobby.
"Hahaha untuk memberimu sesuatu aku tidak akan mampu, kau adalah suami dari bosku" Bobby terkekeh.
"Sstt kecilkan suaramu itu" Rey menutup mulut Bobby.
"Bukankah kemarin kalian bersama-sama liburan ke water park dan seharusnya semua pegawai disini sudah tahu statusmu kan?" bisik Bobby.
"Tidak, Luna berada jauh dariku. Dia bahkan tidak berenang, aku tetap bersenang-senang dengan yang lain tapi bila aku tidak sengaja dekat dengan pegawai wanita dia langsung melototiku" Rey menepuk wajahnya pelan mengingat tingkah Luna kemarin.
"Nona muda tidak akan membiarkanmu didekati wanita lain sekarang, dia memang sangat posesif ups..." Bobby menutup mulutnya lalu melihat ke sekitar, ia takut ada yang mendengarnya.
"Pelankan suaramu honey, atau kacamata akan merebus mulutmu" ucap Erika mengingatkan.
"Kau itu sangat sadis Erika" ledek Rey.
Erika hanya diam saja melihat obrolan tak berguna Bobby dan Rey. Terlihat mereka berdua sangat akrab dan Erika bersyukur dekat dengan dua pria yang bersahabat itu.
Ponsel Bobby berbunyi, ada pesan dari Jiraiya. Bobby membacanya dan tertawa lebar.
"Ya Tuhan, apakah kesenangan ini akan terus datang?" Bobby tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa Bobby?"
Bobby menunjukan pesan yang dikirimkan Jiraiya padanya, lalu ia meletakan jari telunjuk di bibirnya memberi tanda untuk tidak bicara apapun tentang isi pesan itu.
"Apa yang ia akan lakukan padaku?" bisik Rey terlihat khawatir.
Bobby memang tertawa tapi ada kekesalan diwajahnya.
"Aku masih belum paham harus berapa kali aku membuatnya malu dan buang air kecil di celana"
__ADS_1