
*Flash Back 1 jam yang lalu*
Rara baru sampai dirumah mami, mami terus memeluknya untuk memberikan kekuatan pada Rara.
"Sabarlah sayang, semua surat-surat sudah diurus. Kau akan menjadi anak mami yang sah dimata hukum" ujar mami sambil mengelus punggung Rara.
"Terima kasih mami.." ucap Rara sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.
"Tak akan mami biarkan ada orang yang menyakitimu" kata mami.
Rara mengangguk paham, ia dalam situasi yang sangat menyedihkan namun ia sadar masih memiliki mami, Rey dan Luna yang selalu akan menyayanginya.
"Istirahatlah sayang.." ujar mami lagi.
Rara mengangguk lagi, ia dan mami masuk ke kamar masing-masing. Setelah mengganti pakaian, Rara keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman.
"Ya saya akan menjaga nona Rara disini, semoga saja dia bisa sabar bila mengetahui semua ini"
Rara mendengar Armando sedang menelpon, dan menyebut namanya. Ia langsung menghampiri pengawal yang dipercaya oleh kakak iparnya itu.
"Mengetahui apa?" tanya Rara, wajahnya terlihat sangat penasaran.
Armando terkejut melihat Rara ada dihadapannya. Ia mencoba menutup telponnya, namun Armando tak dapat mengatakan apapun pada Rara.
"Katakan padaku Armando" kata Rara dengan lirih.
Armando masih terdiam, ia menunduk karena tak bisa menjawab apapun.
"Apa ini ada hubungannya dengan kematian ayahku?" Rara bertanya lagi, air matanya menetes kembali.
Armando menatap mata Rara yang melihat nanar kepadanya.
"Apa ayahku dibunuh oleh seseorang? Dan kau tahu siapa pembunuhnya?" Isak Rara, suaranya mulai serak.
Armando menghela nafas panjang, Rara memegang tangaan Armando. Memohon agar pria yang ada dihadapannya itu mau memberitahu apa yang terjadi.
"Saya tidak dapat memberitahukan apapun pada nona, tapi..." Armando menggantung kata-katanya.
"Tapi apa???" Suara Rara mulai lemah, ia benar-benar ingin mengetahui kebenarannya.
"Sebaiknya nona ikut dengan saya"
Armando membukakan pintu mobil untuk Rara, kepala Rara dipenuhi dengan tanda tanya.
*Back On*
Feli menatap Rey sambil menyeringai.
__ADS_1
"Aku membutuhkan uang yang banyak.. Dengan membunuh Yoshida, maka aku bisa membayar hutang-hutangku dengan uang asuransi miliknya"
Plak.....
Tamparan keras mendarat di pipi Feli dari putri yang selama ini tertekan selama hidup dengannya. Air mata Rara mengalir deras sambil menatap penuh emosional kepada ibunya.
"Kau sangat jahat ibuuu!!!" teriaknya dengan kesal.
Rey terkejut, Rara sudah berada disampingnya dengan wajah sangat marah.
"Beraninya kau anak kurang a*ar!" seru Feli berusaha membalas tamparan Rara namun Armando segera menahannya.
"Kau lagi! Lepaskan aku! Aku harus memberikan pelajaran pada anak tak tahu diri ini!" Feli meronta agar dilepaskan oleh Armando.
Rey langsung memeluk Rara dengan erat.
"Kenapa ibuku bisa sejahat itu pada ayah, kak" Isak Rara.
Rey mengelus lembut rambut adiknya, ia sangat takut hal ini akan mempengaruhi kesehatan Rara.
"Kenapa kau mengajaknya ke sini?" Bobby berbisik dibelakang Armando.
"Dia harus tahu yang sebenarnya" jawab Armando.
Bobby mengusap wajahnya kasar.
"Kau harus bicara denganku nanti" kata Bobby dengan nada marah.
"Tenanglah Rara.." ucap Rey, ia melepaskan pelukkannya dan menatap Rara dalam-dalam.
"Rara! Cepat lepaskan ibu! Apa kau mau disebut anak durhaka!" seru Feli kembali berteriak.
Rara menoleh ke arah ibunya dengan tatapan geram.
"Akan aku pakai seluruh uang asuransi ayah untuk menjebloskan ibu ke penjara selamanya!" ucap Rara lirih, air matanya masih mengalir deras.
Semua orang yang ada disana terkejut dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Rara. Feli ternganga mendengar ucapan putri polosnya.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan Rara? Aku ini ibumu?! Aku yang telah melahirkanmu ke dunia ini!" bentak Feli kesal.
Rara melihat Rey sedang memegang uang, ia mengambil uang dari tangan Rey dan melemparnya ke wajah Feli dengan marah.
"Ambil uang itu! Anggap sebagai uang muka! Dan aku akan membayar setiap tetes darah yang mengalir ditubuhku!" Rara terlihat sangat marah, sesuatu yang selama ini ditahannya.
Rey memeluk Rara dari belakang dan menahan adiknya agar tidak lebih marah lagi.
"Tenanglah Rara.. Jangan seperti itu.." ucap Rey, ia melirik ke arah Bobby.
__ADS_1
Bobby mengangguk dan menyuruh Armando untuk membawa Rara pergi. Armando membungkukkan badannya dan langsung menggendong Rara pergi dari tempat itu.
"Kau sudah mendengarnya kan? Anakmu tak akan membebaskanmu dari sini. Jadi bersiaplah membusuk dipenjara" ucap Bobby, lalu ia pergi bersama Rey.
Feli langsung bersimpuh sambil memegang kaki Rey.
"Bebaskan akuuu.. Ini semua idenya, aku hanya menuruti kata-katanya" ujar Feli sambil menunjuk suaminya.
Rey diam saja ia terus berjalan keluar dari ruangan tempat Feli dan suaminya sedang diinterogasi.
♥️♥️♥️
Rara perjalanan pulang bersama Armando ke rumah mami, wajah Rara masih terlihat kesal.
"Bolehkah aku ke tempat itu sebentar?" tanya Rara saat melihat sebuah taman dengan danau ditengahnya.
Armando paham Rara sedang dalam keadaan sedih, ia mengabulkan keinginan Rara. Demi Rara semua hal diterobosnya.
"Aku sangat menyedihkan ya?" ucap Rara saat ia duduk di kursi taman dan Armando berdiri disebelahnya.
"Tidak, kau sangat berani" puji Armando, Rara menatap Armando tak percaya.
Tak biasanya pengawal dingin itu langsung menjawab apa yang Rara katakan.
"Kenapa kau mengajakku ke sana?" tanya Rara pada akhirnya.
"Kau berhak tahu semuanya, kau adalah anak dari tuan Yoshida. Bagiku tak adil jika semua orang menutupi masalah ini darimu" kata Armando memberi alasan.
"Oh begitu.." ucap Rara singkat.
"Aku tahu itu bisa berakibat fatal untuk jantungmu namun entah mengapa hatiku berkata kau harus mengetahui hal ini secepatnya, karena bila kau lambat tahu maka kekecewaan dihatimu akan bertambah besar"
Rara menatap haru Armando.
"Bisakah kau duduk disini.."
Rara menepuk tempat duduk disebelahnya.
"Apa ini perintah?" tanya Armando ragu.
"Jika perintah membuatmu duduk maka jawabanku adalah iya" kata Rara dengan yakin.
Armando menuruti perintah Rara, ia duduk disebelah Rara dengan posisi tegak. Perlahan tapi pasti Rara menaruh kepalanya di bahu Armando.
"Ini perintah dariku, kau hanya cukup diam dan pura-pura tak tahu apa yang aku katakan" kata Rara dengan nada sedih.
Armando mengangguk, ia tak berani menoleh ke arah Rara. Rara menghela nafas sebelum mengatakan apa yang ingin ia ucapkan.
__ADS_1
"Dari hatiku yang terdalam, entah mengapa aku merasa lega ibu mendapatkan ganjaran yang setimpal namun ada sakit yang tak terkira bersemayam didasar hatiku saat tahu ibu yang membunuh ayah. Selain itu, berjauhan dari ibu membuatku lebih nyaman hidup didunia ini" kata Rara, membuat Armando terkejut.
"Setelah bertemu Kak Rey banyak hal indah yang belum pernah aku rasakan, mulai dari kasih sayang, kepedulian, kekhawatiran dan jatuh cinta"