Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Ingin Tahu


__ADS_3

Luna menoleh ka arah Rey, ia segera berlari mengambil testpack dari tangan Rey. Rey terkejut melihat Luna yang lari dengan cepat ke arahnya.


"Jangan berlari sweety, nanti si mungil diperutmu bisa merasa tersengal-sengal" ujar Rey sambil memegang perut Luna dengan wajah bahagia.


"Tapi bukankah kau boleh hamil setelah 6 bulan pasca molar pregnancy waktu itu?" Rey berkata dengan heran, namun ia sepertinya tidak memberikan Luna kesempatan untuk bicara.


"Tak apa-apa, nanti siang kita akan ke dokter untuk memeriksakannya. Semoga saja kali ini adalah kehamilan normal untukmu" Rey masih saja mengoceh.


"Hubby, dengarkan kata-kata ku.." kata Luna yang mulai kesal dengan ocehan Rey.


"Apa kau merasa mual atau ingin makan sesuatu? Ahh iya benar, sebaiknya kau menjauh dari dapur. Aku tak mau kau muntah mencium bau masakan disini" Rey mendorong tubuh Luna lembut dan mengajaknya duduk di sofa.


"Hubby, dengarkan aku!" seru Luna, Rey terdiam karena terkejut.


"Testpack ini bukan milikku" kata Luna sambil berbisik.


Wajah Rey seketika bingung.


"Ini milik Yasmin" bisiknya lagi, mata Rey membulat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Luna.


"Apakah Yasmin menikah saat kita bulan madu kemarin?" tanya Rey ragu.


Luna menepuk keningnya melihat kepolosan Rey.


"Bukan itu maksudku" ucap Luna gemas melihat keluguan suaminya.


Yasmin keluar dari kamar, ia menggunakan masker dan seperti akan pergi. Luna melihat heran pada Yasmin.


"Apa kau mau pergi?" tanya Luna penasaran.


"Ooh iya, aku ada janji dengan kolegaku yang mau melihat hasil design ku" ucap Yasmin gugup, ia tidak berani menatap Luna.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengantarmu" Luna beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya.


"Sebaiknya aku pergi sendiri, aku sudah merasa cukup sehat" kata Yasmin sambil tersenyum.


"Wajahmu begitu pucat Yasmin, aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu dijalan nanti" Luna sedikit memaksa.


"Eeem tidak usah Luna, aku sudah memesan taxi tadi. Kasihan supir taxinya bila aku membatalkan pesanan ku. Lagipula aku hanya ke galeriku yang berjarak tidak jauh dari sini. Aku berangkat.. Bye Luna.. Rey.." kata Yasmin, ia melambaikan tangan dan berjalan cepat keluar dari apartemen Luna.


"Yasmin.." Luna hendak mengejar Yasmin, namun Yasmin secepat kilat sudah menghilang dari pandangannya.


Luna segera mengambil ponselnya, menyuruh Bobby yang sudah stand by di bawah untuk mengikuti Yasmin. Bobby melihat Yasmin keluar dari gedung apartemen Luna dan menaiki taxi, perlahan-lahan Bobby mengikutinya dengan motornya. Sebenarnya Bobby akan menjemput Rey.


Luna terlihat mondar mandir didepan Rey, ia menunggu kabar dari Bobby. Selang setengah jam Bobby mengirimkan pesan singkat pada Luna. Luna membacanya dan berjalan cepat ke kamarnya, wajah Luna terlihat sedih bercampur kesal setelag menbaca pesan dari Bobby.


"Jelaskan padaku apa maksud semua ini? Bagaimana Yasmin bisa hamil bila ia belum menikah?" Rey masih saja belum paham.


"Nanti aku akan menjelaskannya padamu, aku mau mandi dan siap-siap menyusul Yasmin. Kau tetap disini, tidak perlu berangkat ke restauran" perintah Luna, ia segera masuk ke dalam kamar.


Rey masih duduk di sofa sambil berpikir. Tak beberapa lama Luna keluar dari kamar, ia langsung menarik tangan Rey dan mengajaknya keluar.


"Dia akan membahayakan dirinya sendiri" sambungnya, Rey mengikuti arahan Luna dan keluar bersamanya.


Rey mengendarai mobil dipandu oleh maps yang dikirimkan oleh Bobby. Luna terus berusaha menghubungi Yasmin namun ponsel Yasmin tidak aktif saat ini, hak itu membuat Luna semakin tak bisa diam.


"Apa yang dilakukan Yasmin disana?"


"Aku rasa ia akan menggugurkan kandungannya, kita harus membuatnya membatalkan niatnya itu" Luna terlihat sangat khawatir.


"Hubungi Bobby dan minta dia untuk masuk ke sana dan menolong Yasmin!" seru Rey, Luna mengangguk setuju.


Luna segera menelpon Bobby dan melakukan apa yang disuruhnya, Bobby sangat paham. Dengan segera ia masuk ke klinik itu, Bobby menggunakan jaket pengawal yang terlihat seperti polisi membuat orang yang berada disana berhamburan. Bobby langsung menghampiri Yasmin yang berada diruang tunggu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" Yasmin terbelalak melihat Bobby, bibirnya gemetar karena takut.


Tanpa berkata apapun Bobby menarik tangan Yasmin dengan cepat namun ia tak bisa bertindak kasar karena ia tahu Yasmin sedang hamil.


"Lepaskan aku! Jangan ikut campur urusanku" Yasmin meronta-ronta agar Bobby melepaskan pegangannya.


Bobby tidak bergeming ia tetap menarik tangan Yasmin. Yasmin berjongkok tak mau berjalan mengikuti Bobby. Bobby menoleh ke arah Yasmin dengan wajah sebal.


"Aku sudah bilang jangan mengurusiku! Pergilah!" bentak Yasmin, hal itu membuat Bobby menjadi jengkel.


"Aku tidak akan pernah ikut campur urusanmu, tapi ini adalah perintah nona Luna!" Bobby tak mau kalah, ia melotot pada Yasmin yang seketika terdiam saat Bobby menyebut nama Luna.


Bobby langsung menggendong Yasmin dan membawanya keluar dari klinik itu. Ia mendudukkan Yasmin dimotornya perlahan. Bobby memegangin Yasmin dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menelpon Luna, ia memberitahu kemana ia akan membawa Yasmin.


"Bobby sudah berhasil membawa Yasmin keluar dari sana, sekarang Bobby akan membawa Yasmin ke klinik persalinan yang sesungguhnya yang berada disana" kata Luna.


"Baiklah sweety sekarang jelaskan padaku, bagaimana bisa Yasmin hamil?"


Dengan nada agak kesal Luna menjelaskan pada Rey, Rey mengangguk-angguk paham. Ia hanya terkejut Yasmin melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria yang belum menjadi suaminya.


"..Aku pikir pasti Yasmin sudah gila! Dia sangat berani melakukan hal bo**h sebelum ia resmi menikah dengan pria itu, dan sekarang dia menyesalinya lalu ingin menggugurkan kandungannya!" gerutu Luna kesal.


"Aku pun masih tak menyangka nona Yasmin berani melakukan hal itu" kata Rey sambil menghela napasnya.


"Apa yang ada dipikirannya saat melakukan itu? Aku ingin sekali memukulnya" ujar Luna geram, ia mengepalkan tangannya.


"Jangan marah padanya, saat ini dia sedang mengandung. Kita harus tetap menjaga janin yang ada di rahim Yasmin, bagaimanapun bayi itu tidak bersalah" Rey menenangkan Luna.


"Ya kau benar, aku tidak boleh terlalu keras padanya. Bila pria itu tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan membantu Yasmin mengurus anaknya" Luna menghela napas panjang, ia berusaha membuat dirinya nyaman agar emosinya bisa stabil.


"Tapi... aku penasaran" Rey tidak melanjutkan kata-katanya, ia terlihat ragu untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Penasaran apa hubby?" tanya Luna heran.


"Emm.. aku hanya penasaran, siapa kira-kira ayah dari bayi yang dikandung Yasmin"


__ADS_2