
Bobby memeriksa tubuh Rey, ia menyobek lengan kemejanya dan melibatkan kain itu di atas lengan Rey agar racun tidak menyebar dengan cepat. Bobby segera mengambil motornya.
"Rey tetaplah sadar Rey..." Bobby menepuk-nepuk pipi Rey, mata Rey terbuka sedikit lalu terpejam lagi.
Bobby menaikan Rey dimotor dan melepas kemejanya agar bisa mengikat Rey dibadannya. Setelah itu ia segera melajukan motornya menuju rumah sakit terdekat.
"Rey jangan pingsan, ayo bangun!!" Bobby menggoyang-goyangkan badannya untuk menjaga kesadaran Rey.
Mereka sampai dirumah sakit, Bobby segera menggendong Rey di punggungnya.
"Dokter dokter!!!!!!" Bobby berteriak di lobby rumah sakit.
Para perawat yang melihat Bobby segera menyiapkan brankar untuk Rey, Bobby merebahkan badan Rey perlahan dan perawat segera membawa Rey untuk ditangani. Bobby mengusap wajahnya kasar, ia bersimpuh sambil menangis memukul-mukul lantai rumah sakit.
"Maafkan aku Rey maafkan akuu!!!" pekiknya lirih, air mata membanjiri wajahnya.
"Aku harus menghubungi nona" Bobby mengusap air matanya, ia mengambil ponselnya namun Luna menelponnya terlebih dahulu.
"Bobby, dimana Rey? Aku sudah sampai apartemen dan dia tidak ada disini" Luna langsung menghujani Bobby dengan pertanyaan.
"Nona, tuan Rey... tuan Rey ada dirumah sakit saat ini" ucap Bobby dengan suara menahan tangis.
"Apa!!!!! Dimana rumah sakitnya? Aku akan segera kesana!"
Luna segera mengambil tas dan kunci mobilnya, ia bergegas ke rumah sakit. Bobby mengirimkan nama rumah sakitnya melalui pesan elektronik kepada Luna.
Armando sudah menunggu Luna diparkiran, Luna tak heran. Ia sudah menduga Jiraiya sudah mengetahui apa yang terjadi dan mengirim Armando untuk mengantarnya.
"Apa kau tak bisa lebih cepat lagi, Armando!!" perintah Luna, wajahnya sangat gusar.
Armando hanya diam, dia tidak mengikuti keinginan Luna yang sedang panik. Setelah sampai dirumah sakit, Luna melihat Bobby sedang duduk bersama Erika dan Jiraiya. Dengan wajah marah Luna menghampiri Bobby.
"Apa saja yang kau lakukan! Bagaimana bisa Rey terluka dan kau baik-baik saja!!!" Luna memegang kerah baju Bobby sambil menarik-nariknya.
Bobby tidak dapat mengatakan apapun, Jiraiya menarik tubuh Luna dan melepaskan pegangannya dari baju Bobby.
"Tenanglah nona, semoga saja racun itu belum menyebar keseluruh tubuh tuan muda"
"Racun katamu? Bagaimana bisa ada yang ingin meracuni Rey!!" Luna bertambah kalut, ia menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Bobby sudah berusaha menghentikan laju racun ke seluruh tubuh tuan Rey, mari kita berdoa bersama"
Jiraiya mengajak Luna duduk bersama, Erika menenangkan Bobby yang terlihat masih merasa sangat bersalah.
"Aku akan segera menemukan dalang dibalik semua ini" ucap Bobby geram.
"Jangan gegabah honey, kondisimu belum stabil. Benar kata ayah sebaiknya kita doakan kacamata agar ia bisa segera pulih" Erika mengelus punggung Bobby.
Luna memegang tangan Jiraiya, rasanya tubuhnya mulai lemas membayangkan hal-hal yang buruk terjadi pada Rey.
"Bila Rey tak dapat diselamatkan aku akan mati bersamanya" ucap Luna, matanya kosong seolah tak bernyawa lagi.
"Tuan Rey pasti dapat diselamatkan nona, berdoalah untuknya"
Perawat menghampiri mereka dan meminta Luna untuk menemui dokter, Jiraiya menemani Luna. Dokter menjelaskan kondisi Rey, racun yang masuk ke dalam tubuhnya baru masuk sekitar 20% namun hal itu menyebabkan beberapa sistem syaraf Rey akan terganggu.
"...dengan perawatan intensif beberapa sistem syaraf itu akan dapat berfungsi dengan baik kembali" dokter menjelaskan kepada Luna dan Jiraiya.
"Berikan semua yang kau bisa dan terbaik untuk suamiku dokter, selamatkan dia" ujar Luna sambil menangis.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin nona. Tuan Rey akan kami pindahkan ke ruang perawatan sebentar lagi"
"Segera temukan orang-orang yang telah melukai Rey-ku! Dan bawa mereka hidup-hidup ke depanku!! Masa depan pekerjaanmu sedang berada diujung tanduk Bobby!!!" ancam Luna.
Bobby mengangguk dengan tegas.
"Malam ini juga saya akan mencari mereka"
"Tidak Bobby, kau harus istirahat. Bila kau mencarinya sekarang itu hanya akan membuatmu berada dalam bahaya" Jiraiya menahan Bobby.
"Dan itu perintah dariku!" sambungnya tegas.
Erika menggenggam jemari Bobby erat, ia ingin memberikan kekuatan kepada kekasihnya itu.
"Jangan mengikuti amarahmu, kacamata sudah berkorban untukmu jadi kau harus berhati-hati dalam bertindak" pesan Erika, Bobby mengangguk.
Malam itu Bobby menjaga Rey dirumah sakit, Luna pulang atas saran dari Jiraiya.
"Aku pasti akan menemukannya! Namun aku tak yakin aktor bodoh itu yang berada dibalik kejadian ini, aku harus mencari bukti untuk menguatkan dugaan ku" gumam Bobby dalam hati.
__ADS_1
Ia membuka ponselnya, mengetik sesuatu dan..
"Kena kalian!!"
Bobby menjentikkan jarinya, ia mendapat sebuah petunjuk mengenai tiga orang yang menghadang dirinya dan Rey. Bobby menghubungi pengawal Luna yang biasa bertugas malam bersamanya dahulu. Mereka berkoordinasi untuk menangkap para penghadang itu.
"... kita harus berhati-hati karena mereka bukanlah pembunuh bayaran biasa, orang yang membayar mereka juga bukan orang bodoh yang mudah untuk diketahui" Bobby memperingatkan pengawal lainnya melalui pesan singkat.
Setelah itu Bobby tertidur disebelah Rey, ia harus mengisi tenaganya untuk bertempur besok bersama teman-temannya.
Keesokan harinya Bobby terbangun karena Luna datang, wajahnya terlihat sedih.
"Apa kau tidur dengan baik semalam?" tanya Luna dengan nada ketus.
Bobby hanya mengangguk, Luna mendekati Rey. Ia menyentuh pipi Rey, air matanya menetes lagi.
"Tak akan aku maafkan orang yang sudah membuatmu begini!!" kecamnya dengan suara mendendam.
"Ingat bawa mereka hidup-hidup! Aku sendiri yang akan bertanya pada mereka siapa yang membayar mereka!" ujar Luna dengan marah.
"Saya paham nona"
"Bersiaplah dan jangan lupa sarapan, aku tak mau saat Rey siuman dia melihatmu menjadi kurus. Itu akan membuatnya sedih dan merasa bersalah" Luna melanjutkan kata-katanya, ia duduk disebelah Rey lalu menciumi jemari Rey.
"Cepatlah bangun hubby" bisik Luna.
Luna menaruh kepalanya disebelah kepala Rey, ia mengelus kepala Rey. Bobby pamit untuk pergi.
"Kita bertemu ditempat biasa" Bobby memberi perintah kepada pengawal lainnya yang sudah dihubungi olehnya semalam.
Bobby sudah berkumpul dengan rekan lainnya.
"Kita tidak akan menyerang mereka secara tiba-tiba, apa kau membawa apa yang aku minta?" Bobby bertanya kepada salah satu pengawal.
"Ini.." ia memberikan sebuah baju anti tusukan kepada Bobby.
"Aku yang diincar oleh mereka, entah apa yang mereka inginkan dariku. Mereka ahli bela diri, kita harus benar-benar waspada. Sedikit saja lemah kita bisa terbunuh"
"Kami paham, kau akan kami lindungi. Bila mereka menginginkanmu, mereka harus melewati kami" ujar salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Tidak, jangan lakukan itu. Tugas kalian adalah membawa mereka hidup-hidup kepada nona muda"