Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Romansa Mami


__ADS_3

Samuel tersentak, matanya membulat karena terkejut.


"Calon suami? Mami akan menikah dengan pengawal tua ini?" tanya Samuel dengan nada sedikit merendahkan Jiraiya.


Mami dengan sengaja mengaitkan tangannya di lengan Jiraiya.


"Iya.. Mami akan menikah dengannya sebentar lagi. Kau tidak boleh memberi perintah ataupun menyuruhnya seperti itu!" ujar mami kesal.


"Huh... drama macam apa ini? Pengawalku suamiku? Ya Tuhan..." Samuel tertawa agak mengejek.


"Ada yang salah dengan itu?" mami mulai melotot ke arah Samuel, membuat aktor terkenal itu mulai takut.


"Ti... tidak.. mi.. Jika mami suka mami boleh menikah dengan siapapun yang mami mau" ucap Samuel pada akhirnya.


"Ya sudah, nikmati video game itu. Mami mau pulang.." ucap mami lalu mengambil tasnya dengan cepat dan meraih tangan Jiraiya mengajaknya keluar dari ruangan rawat Samuel.


Samuel terperanjat melihat sikap mami. Ia tak menyangka mami sedang mabuk cinta hingga terlihat seperti anak muda yang sedang merajuk karena sang kekasih dianiaya oleh orang lain.


Yasmin yang baru datang bingung melihat mami keluar dengan wajah yang kesal.


"Ada apa dengan Tante Lauren?" tanya Yasmin pada Samuel yang terlihat pucat.


"Sam... apa kau baik-baik saja?" tanya Yasmin lagi yang khawatir karena sang suami diam saja, Yasmin memeriksa dahi Samuel.


"Sam.. Sam..." Yasmin menepuk pelan lengan Samuel.


Samuel mulai menyadari kehadiran istrinya.


"Kapan kau datang?" tanya Samuel dengan wajah polos.


Yasmin mendengus kesal, ia merapihkan pakaian Samuel dan memasukannya ke dalam lemari yang ada dikamar tersebut.


"Aku sudah datang 5 menit yang lalu tapi kau hanya mematung" kata Yasmin kesal.


"Aku benar-benar tak menyangka" kata Samuel.


"Tentang apa?" Yasmin masih acuh tak acuh.


"Apa kau tahu kalau mami berhubungan dengan Jiraiya?" tanya Samuel penasaran.


Yasmin menoleh ke arah Samuel dan tertawa.


"Tentu saja aku tahu Sam, aku lah yang membuatkan gaun pengantin dan jas untuk mereka menikah nanti"


❤️❤️❤️


"Nyonya..." panggil Jiraiya saat sudah berada di lobby rumah sakit.


Mami hanya diam dan masih berjalan cepat sambil menarik tangan Jiraiya.


"Nyonya..." panggil Jiraiya lagi.


Mami tak bergeming.

__ADS_1


"Lauren..." kali ini mami terdiam.


Jiraiya menarik tangan mami agar berdiri dekat dengannya. Mami menatap Jiraiya dengan wajah yang masih kesal.


"Jangan mencoba menasehati ku, aku berusaha agar Sam bisa menghormatimu" ujar Mami tegas membuat senyum Jiraiya makin berkembang.


"Baiklah.. Apakah sekarang nyonya ingin pulang?" tanya Jiraiya.


"Tidak.."


"Tidak? Jadi kemana nyonya mau saya antarkan?" tanya Jiraiya lagi.


"Aku ingin memperbaiki mood ku yang buruk saat ini, aku bertengkar dengan Luna saat sampai dirumah nanti" ujar mami sembari berpikir.


"Sepertinya nyonya butuh makanan manis"


Mami mengulum senyumnya perlahan, sesekali melirik ke arah Jiraiya.


"Saya akan mengantar nyonya ke kedai pancake kesukaan nyonya" ujar Jiraiya, mami mengangguk dengan cepat.


"Silahkan nyonya.."


Jiraiya mempersilahkan mami berjalan mendahuluinya. Mami mengernyitkan dahinya.


"Ini tidak benar" ucap mami sambil menggeleng.


Wajah bingung nampak diwajah Jiraiya. Mami mensejajarkan tubuhnya dengan Jiraiya dan mengaitkan tangannya dilengan Jiraiya.


"Ini baru benar" ucap mami sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Oh ya..." kata mami tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Bisakah kau berhenti memanggilku nyonya saat kita sedang berdua?" bisik mami.


Jiraiya menatap mata mami dan mengangguk. Mami dan Jiraiya berjalan ke arah mobil dan segera menuju kedai pancake kesukaan mami. Mereka segera memasuki kedai tersebut, tanpa mereka sadari Rara dan Armando juga berada disana.


"Nyonya.." bisik Armando pada Rara.


Rara langsung melihat ke arah yang Armando tunjukan. Ia tersenyum kecil melihat mami dan Jiraiya sedang memesan makanan sambil berpegangan tangan. Rara kembali melihat ke arah Armando sambil tertawa kecil.


"Mami seperti anak muda yang sedang berkencan" ucap Rara sambil terkekeh.


"Anak muda apa?" tiba-tiba saja mami sudah berada dibelakang Rara, membuat Rara terkejut.


"Kenapa kau ada disini? Seharusnya kau langsung kembali kerumah" ujar mami.


Rara membalikan tubuhnya dan tersenyum kecut kepada mami.


"Cepat pulang, nanti Rey akan mencarimu" ujar mami berniat mengusir Rara dan Armando dari tempat itu karena tak ingin diganggu.


Rara mulai gelagapan, ice cream yang Rara pesan baru dimakan setengahnya.


"Baik nyonya.." Armando segera mengajak Rara untuk pulang.

__ADS_1


Mau tak mau Rara mengikuti Armando sambil mengucapkan selamat tinggal pada sisa ice cream yang memanggilnya untuk dimakan. Setelah Rara pergi mami dan Jiraiya duduk bersama dan kali ini mereka tidak duduk diruang private namun sengaja mengambil tempat duduk Rara dan Armando yang terletak didekat jendela besar.


"Silahkan dimakan nyonya, tuan" ucap pelayan yang mengantarkan pesanan mami dan Jiraiya.


Mami hanya membalasnya dengan senyuman. Dan tanpa basa basi menyuap ice cream ke mulutnya.


"Apa kau mau?" tanya mami.


Jiraiya melihat ke sekitar, banyak anak muda yang bersama pasangannya disana. Duduk ditempat terbuka diusianya bersama pasangan saja membuatnya sungkan, apalagi harus makan ice cream dari tempat yang sama karena Jiraiya lebih memilih memesan kopi.


"Ck... Jangan terlalu memikirkan orang lain" ucap mami berdecak kesal.


Dengan sedikit terpaksa Jiraiya mengiyakan tawaran mami.


"Ini.." mami menyuapi Jiraiya.


Pandangan mata pemuda dan pemudi disana tertuju ke mami, sebagian besar berbisik-bisik membicarakan mami dan Jiraiya.


"Dasar anak muda menyebalkan" gerutu mami.


"Tak perlu marah, kita tidak mengenal mereka. Jadi biarkan saja"


Mami tersenyum mendengar kata-kata Jiraiya. Mami menyendokan lagi ice cream untuk Jiraiya.


Tulalit...


Ponsel mami berbunyi, dengan wajah malas mami menjawab telpon.


"Kenapa kau terus menerus menelpon mami?!!!!" seru mami pada Luna yang menelponnya.


"Mami dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Luna seperti ibu yang mengkhawatirkan anak gadisnya.


"Mami sudah besar, kenapa bertanya layaknya kepada anak muda?" ujar mami sewot.


"Ya Tuhaan mamiiiiiii.... segeralah pulang, ada Erika dan Bobby di rumah. Kita akan membicarakan tentang pernikahan mami dan Jiraiya"


"Sekarang? Kenapa tiba-tiba sekali"kata mami masih tak terima.


"Lalu kapan lagi? Pernikahan akan dilakukan dalam waktu dekat namun persiapan yang kita lakukan masih sangat minim. Apa mami mau pernikahan ini tidak sempurna?" ancam Luna.


"Selalu dan selalu saja kau mengancam mami!!!"


"Lagipula mami pergi tanpa memberitahuku, padahal Erika ingin bertemu dengan mami"


"Iya iya mami paham, mami akan segera pulang" kata mami pada akhirnya.


"Baiklah, aku tunggu mami di rumah. Mami sedang bersama Jiraiya kan?"


Mami melirik ke arah Jiraiya.


"Ya kau benar, mami sedang bersamanya"


"Ajaklah Jiraiya serta ke sini, agar pembicaraan mengenai pernikahan bisa disepakati bersama"

__ADS_1


"Tentu saja mami akan mengajaknya. Tapi berikan mami waktu 30 menit lagi untuk makan ice cream bersamanya"


__ADS_2