Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Salah Paham #1


__ADS_3

"Untuk apa kesal? Aku melihat Samuel hanya sebagai pria yang menyukaimu, apa yang harus aku kesalkan?" Rey heran dengan pertanyaan Luna.


"Apakah kau pernah merasa cemburu satu kali saja kepadaku?" Luna penasaran karena selama ini Rey tidak pernah marah ataupun kesal kepadanya.


"Haruskah aku melakukannya sweety?" Rey balik bertanya.


Luna ragu untuk menjawabnya, karena ia juga tak mau mengambil resiko untuk membuat Rey cemburu kepadanya.


"Tapi bila dipikir-pikir, aku selalu iri pada Samuel. Kau begitu mencintainya dulu dan aku merasa selalu kalah darinya bila mengingat hal itu" kata Rey sambil menatap Luna.


"Sangat menjijikan bila mengingat hal itu" ujar Luna marah, ia berdiri dan hendak keluar dari kamarnya.


"Kenapa kau marah?" tanya Rey heran, ia memegang tangan Luna untuk mencegahnya keluar.


Luna berpikir sejenak, lalu menghela napas dalam.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku harus marah" ujar Luna bingung, namun ada kekesalan dihatinya bila mengingat hubungannya dengan Samuel dulu.


"Apa kau masih kesal bila mengingatnya?" Rey bertanya hati-hati ia menarik Luna agar mendekat padanya.


Luna diam lalu ia mengangguk pelan.


"Apa kau marah?" kali ini Luna bertanya pada Rey, Rey menggeleng.


"Kita semua punya masa lalu, baik dan buruknya itu bagaimana kita menghadapi masalah yang ada waktu itu. Aku tidak memiliki kemampuan untuk marah padamu"


Luna memeluk Rey erat, ia mencium dada suaminya itu.


"Bagaimana bisa suatu saat aku membuatmu marah?" tanya Luna ragu.


"Apa kau berniat melakukannya?"


Luna menggeleng.


"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti bukan? Siapa tahu aku membuatmu marah tanpa sengaja"


"Aku yang sering membuatmu marah" kata Rey menempelkan keningnya ke kening Luna.


"Sebenarnya kau membuatku marah tanpa sengaja, tidak ada yang tahu wanita itu benar-benar muncul dihadapan ku" ujar Luna dengan nada sedikit kesal.


"Sudahlah, kau tak perlu memikirkannya lagi" Rey mengeratkan pelukannya.


♥️♥️♥️


Tak terasa bulan madu Rey dan Luna sudah berakhir, mereka pamit kepada Bibi May dan Paman Ken. Wajah paman Ken terlihat malu kepada Rey.


"Aku akan menghubungi mu Bi" ucap Rey sambil mencium pipi bibinya.


Syafa memegang tangan Luna dengan erat. Luna memberikan sebuah gaun untuk Syafa dan perlengkapan sekolah untuk Lody.


"Sampai jumpa lagi Princess kecil" ujar Luna sambil menoleh hidung Syafa, Luna menghampiri Lody dan mencubit pipinya.


"Lain kali kau harus lebih berani untuk meminta apa yang kau inginkan ya" ujar Luna.


Rey dan Luna berangkat menuju kota, bulan madu sudah berakhir. Malam hari mereka sampai di kota.

__ADS_1


"Akhirnya kita kembali ke sini" ujar Luna sambil merebahkan dirinya di sofa apartemennya.


"Aku mau mandi, tubuhku terasa gatal selama perjalanan tadi" ujar Rey, ia langsung masuk ke kamar.


Luna beranjak untuk ikut masuk bersama Rey, namun ponselnya berbunyi. Nama Yasmin tertera disana.


"Luna, apakah kau sudah pulang?" tanya Yasmin, suaranya terdengar kurang sehat.


"Ada apa Yasmin? Kau baik-baik saja?" tanya Luna khawatir.


"Beberapa hari ini aku kurang sehat, bolehkah aku menginap ditempatmu? Aku benar-benar lemas dan tak tahu harus kemana" ujar Yasmin dengan suara yang semakin lama semakin lemah.


"Aku akan bicara pada Rey dulu, apa kau sudah ke dokter?" tanya Luna.


"Ya... a.. aku sudah ke dokter, kata dokter aku harus banyak istirahat" seketika suara Yasmin menjadi gugup.


"Baiklah, aku akan meminta pengawalku untuk menjemputmu"


"Siapapun pengawalmu, asalkan bukan Bobby" Luna terkekeh.


"Armando yang akan menjemputmu" ujar Luna lalu menutup telponnya.


Rey keluar dari kamar dan langsung menuju dapur.


"Hubby, Yasmin akan menginap disini. Kau tidak keberatan kan?" tanya Luna sambil berjalan menuju meja makan.


"Ya tidak apa-apa, apakah aku harus tidur diluar apartemen ini?"


"Tidak hubby, aku tak mau jauh darimu"


Rey membuat dua teh, untuknya dan Luna.


"Maafkan aku hubby, Yasmin butuh aku. Aku sangat tahu ia tak bisa mengandalkan keluarganya" ujar Luna sambil menatap Rey penuh haru.


Rey mengangguk lalu meminum tehnya. Luna ikut meminum tehnya.


"Apa boleh aku membuatkan bubur untuk Yasmin?" tanya Rey ragu.


Luna sedikit cemburu Rey perhatian pada Yasmin, ia memanyunkan bibirnya.


"Aku tidak akan membuatnya bila itu bisa membuatmu cemburu dan marah sweety" Rey meraih jemari Luna dan mengusap-usapnya.


Luna tersenyum senang.


"Ayo kita buatkan bubur untuk Yasmin, kau ajarkan aku membuatnya"


Rey mengangguk, lalu keduanya berjalan ke dapur dan membuat bubur bersama.


"Baunya sangat enak, aku akan mencobanya" Luna mengambil sendok dan mencicipinya.


"Heeemmm ini sangat enak, Yasmin pasti menyukainya" ucap Luna senang, ia memeluk Rey dengan erat.


Luna menautkan bibirnya pada Rey sebagai ucapan terima kasih.


Ting tong...

__ADS_1


"Pasti itu Yasmin" Luna melepaskan tautannya dan segera berjalan cepat menuju pintu.


Saat membuka pintu ternyata itu benar Yasmin. Wajahnya terlihat pucat, Luna membantunya untuk masuk. Armando memasukan barang-barang Yasmin ke dalam lalu pamit.


"Duduklah, aku akan mengambilkan air hangat untuk mu" kata Luna, ia berjalan cepat ke dapur dan mengambilkan minum serta bubur untuk Yasmin.


Rey hanya melihat dari meja makan, ia tak mau dekat-dekat dengan Yasmin untuk menjaga perasaan Luna.


"Ini minumlah, setelah itu makan bubur ini"


Yasmin menutup hidungnya, ia terlihat mual saat mencium aroma bubur yang dibawa Luna.


"Apakah aku boleh ke kamar mandi?" tanya Yasmin, Luna mengangguk dan mengajak Yasmin masuk ke kamar mandi.


Yasmin masuk sendiri ke kamar mandi, ia menyalakan keran air cukup besar sehingga apapun yang ia lakukan di kamar mandi tidak terdengar dari luar.


"Yasmin, kau baik-baik saja?" Luna mengetuk pintu kamar mandi yang ada dikamarnya.


"Iya aku baik-baik saja Luna" jawab Yasmin dengan suara pelan.


Luna menunggu Yasmin di depan kamar mandi, ia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Bolehkah aku merebahkan diriku ditempat tidurmu?" tanya Yasmin saat keluar dari kamar mandi.


"Ya tentu saja, kemarilah aku akan membantumu"


Luna merebahkan Yasmin di tempat tidur. Setelah Yasmin terlelap Luna keluar dari kamarnya.


"Maafkan aku Hubby, aku harus menemani Yasmin malam ini dan tak tahu sampai kapan. Yasmin benci pada rumah sakit, ia tak akan mau dirawat disana" kata Luna sambil mengelus punggung Rey yang sedang duduk di sofa.


"Aku tidak apa-apa sweety. Istirahat lah, hari ini kita menempuh perjalanan yang panjang"


Luna mengangguk, ia mencium kening Rey dan berjalan masuk ke kamarnya.


Esok paginya, Yasmin sudah tidak ada di tempat tidur. Seperti kemarin ia dikamar mandi dan menyalakan keran dengan suara yang kencang. Luna terbangun karena kaget.


"Luna bisa kah kau mengambilkan vitaminku di tas?" kata Yasmin sambil menyembulkan kepalanya.


Luna mengangguk dan mencari vitamin didalam tas jinjing yang biasa digunakan Yasmin. Ia terkejut melihat testpack yang ada di dalam tas Yasmin yang sudah digunakan dan tertera dua garis disana.


"Luna, apakah kau sudah menemukan vitaminku? Ada di tas besar, tempat baju-baju ku" kata Yasmin lagi.


Luna menyimpan test pack itu di sakunya. Ia segera mengambil vitamin yang diminta Yasmin dan keluar dari kamarnya. Rey sedang memasak sarapan untuk mereka semua.


"Pagi sweety" sapa Rey sambil mencium kening Luna.


"Pa... gi..." Luna menjawab dengan lambat, ia terlihat berpikir.


"Sweety? Apa kau baik-baik saja?" tanya Rey heran.


Lunas hanya mengangguk tanpa mendengar jelas apa yang Rey katakan.


"Bisakah kau membantuku mengambil serbet di meja makan?"


Luna tersadar dan berjalan cepat ke arah meja, testpack Yasmin jatuh dari sakunya yang kecil. Rey yang melihatnya mengambil test pack itu, saat mengetahui garis dua yang ada di testpack itu wajahnya menjadi senang.

__ADS_1


"Sweety apakah ini artinya kau sedang hamil?"


__ADS_2