
Rey kembali ke ruangan Luna.
"Kau beli semuanya?" tanya Yasmin.
Rey mengangguk, Yasmin meminta Jiraiya untuk menaruh barang belanjaan dimeja yang sudah disiapkannya.
"Apa-apaan ini Rey? Kau membeli semua pem****t yang ada disana?" Yasmin heran.
Rey tersenyum malu, Yasmin mengalihkan pandangannya dari Rey. Senyuman Rey masih menggoda untuknya.
"Oia ini salahku, seharusnya aku menyertakan merk-nya" ucap Yasmin.
"Biarkan saja, anggap saja itu untuk stok" kata mami agar kesalahan pahaman tak berkelanjutan.
"Iya benar" kata Yasmin.
Luna tertidur, ia lelah menangis. Mami masih menggendong Avior yang mulai mengantuk, bayi mungil itu menguap dengan lucunya.
"Uuu... kau mengantuk Avior?" ujar mami kepada cucunya yang diberi baju berwarna biru, Alioth diberikan baju berwarna hijau muda.
"Bagaimana keadaan Luna?" Rey mendekati istrinya dan mengelus rambut Luna.
Yasmin terlihat sedikit iri, namun ia senang Luna mendapatkan pria yang baik seperti Rey.
"Dia masih agak sensitif, aku berjanji padanya untuk menjaga Avior dan Alioth. Lihat ini, ASI yang ia keluarkan bisa untuk kedua putramu selama Luna tertidur" ucap Yasmin.
Membantu Luna pumping sedikit menguras tenaganya, Yasmin duduk disofa yang ada diruangan itu.
"Ini minumlah, sebagai ucapan terima kasih ku padamu Yasmin" kata Rey sambil memberikan sebuah minuman hangat kepada Yasmin.
Yasmin tersenyum dan menerimanya dengan senang.
"Terima kasih Rey" Yasmin langsung meminumnya.
Alioth menangis, Yasmin hendak berdiri kembali. Rey menahannya.
"Biar aku yang menggendongnya, aku juga harus belajar merawat kedua bayiku" ucap Rey, ia meminta perawat membantunya untuk menggendong Alioth.
Sementara itu mami menaruh Avior di tempat tidur. Rey sangat senang bisa menggendong Alioth untuk pertama kali.
"Perasaan ini sangat menyenangkan" ucap Rey, ia menatap wajah Alioth yang belum merasa nyaman digendongannya.
Mami menghampiri Rey.
"Kau harus mengajaknya bicara dan mencium keningnya" kata mami, Rey mengikuti apa yang mami katakan.
Alioth mulai tenang, namun matanya terbuka. Rey dan Alioth saling tatap, Alioth terlihat tersenyum pada Rey.
"Lihat.. dia tersenyum padaku" Rey sangat antusias mendapatkan senyuman dari putranya.
"Dia menyukaimu Rey" tukas mami sambil mengusap punggung menantu kesayangannya.
__ADS_1
Rey senang mendengar ucapan mami. Mami melihat ke arah pintu, wajahnya terlihat khawatir.
"Kemana Rara? Kenapa dia belum juga kembali?"
♥️♥️♥️
Rara dan Armando duduk di taman yang ada dihalaman rumah sakit, Armando membelikan minuman kaleng rasa strawberry untuk Rara. Rara sudah menjenguk Erika dan Armando sudah bertemu dengan Bobby. Bobby memperingatkan Armando untuk tidak terlalu dekat dengan Rara.
"Terima kasih.." ucap Rara.
Armando dan Rara duduk bersama, mereka melihat ke arah halaman luas dimana banyak pasien yang diajak keluarganya menghirup udara bebas.
"Sekarang aku tak punya pengawal lagi" ucap Rara, Armando menoleh padanya.
"Bukankah pria berbadan besar itu diberikan nyonya besar untukmu?" tanya Armando yang tahu mami memberikan salah satu pengawalnya untuk Rara.
Rara menggeleng.
"Aku menolaknya, lebih baik aku ikuti kemanapun mami pergi daripada harus diikuti terus menerus. Aku menjadi sangat tak nyaman" cerita Rara, ia meneguk minuman kalengnya.
"Bukankah aku juga melakukan hal yang sama waktu itu?"
Rara menoleh ke arah Armando, ia tersenyum.
"Rasanya sangat berbeda" ucap Rara pelan.
Armando mengernyitkan dahinya, ia tak mendengar ucapan Rara.
"Aku tak nyaman pria besar itu mengikutiku, rasanya seperti diikuti mahluk halus" Rara terkekeh, Armando menahan tawanya.
"Tentu saja tidak, mana mungkin pria tampan sepertimu aku anggap mahluk halus.. eh.." Rara menutup mulutnya, ia tak sengaja mengatakan hal yang ada dihatinya.
Wajah Armando bersemu, ia memalingkan wajahnya dari Rara menutupi rasa malunya.
"Apa menurutmu aku cantik?" tanya Rara tiba-tiba.
Armando terkejut dengan pertanyaan Rara, ia menoleh dengan wajah bingung. Rara tampak kecewa dengan ekspresi Armando.
"Begitu ya, mungkin kau lebih suka dengan type wanita seperti Kak Luna atau Kak Yasmin" ujar Rara sedih.
Armando tak tahu harus menjawab apa, tak pantas rasanya ia memuji Rara karena akan memberi kesan ia menggoda nona mudanya. Apalagi Bobby sudah memperingatkannya.
"Kenapa nona bertanya begitu?" Armando mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa-apa, apakah salah jika aku bertanya?"
Armando bertambah bingung dengan ucapan Rara.
Aku harus menjawab apa? Apa sebaiknya aku bilang bahwa ia sangat cantik dan type favoritku?
Armando berpikir keras. Rara menatap Armando menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Rara.." sapa Ben yang baru datang, ia membawa sebuah hadiah besar.
Rara dan Armando menoleh ke Ben.
"Tuan Ben" wajah Rara senang melihat pria yang pernah menolongnya.
Armando menatap wajah Rara sekilas, lalu ia pamit pergi. Rara menghela nafas panjang saat Armando semakin pergi menjauh. Ben melihat ke arah Rara yang terus menatap Armando dan tersenyum.
"Ayo kita ke ruangan Luna, kemarin aku belum sempat melihat kedua putra kembarnya"
Rara mengangguk, ia berjalan bersama Ben masuk ke dalam namun sesekali ia menoleh ke arah Armando pergi.
"Ada apa?" tanya Ben heran.
"Tidak apa-apa" ucap Rara memaksakan senyumnya.
Mereka berjalan bersama.
"Mami aku kembali" ujar Rara, Ben berjalan dibelakangnya.
Rara langsung memeluk mami, mami tersenyum melihat Ben datang bersama Rara.
"Kalian daritadi bersama?" tanya mami dengan tatapan usil.
"Emm..."Rara ragu menjawabnya, kalau mami tahu ia bertemu Armando pasti mami kan marah.
"Ya aku bersamanya sejak tadi" Ben bisa membaca situasinya.
Rara tersenyum kepada Ben.
"Ini sudah mulai siang, aku harus pulang" kata Yasmin, ia pamit kepada semua yang ada disana dan keluar dari ruangan.
Rey menaruh Alioth, ia menerima hadiah dari Ben.
"Terima kasih Ben karena sudah membawa Luna kesini kemarin" ucap Rey sambil menjabat tangan Ben.
"Bukan masalah, aku melakukan hal yang seharusnya" kata Ben, matanya tertuju pada Luna yang sedang tertidur dengan mata sembab.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Ben heran.
"Kau tak perlu memikirkannya, ini hal biasa Ben" ucap mami sambil melirik sebal kepada Luna.
"Apa Luna terkena Baby Blues?" tanya Ben lagi.
Rey mengangguk, ia tak menyangka pria seperti Ben mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wanita.
"Ini pangeran-pangeran kecilmu?" ujar Ben, ia sangat suka melihat bayi-bayi yang ada ditempat tidurnya.
"Ya mereka akan merubah hidupku dan Luna" ucap Rey.
"Ben, Tante dan Rara ingin makan siang. Ayo kita makan bersama" ajak mami, Ben mengangguk.
__ADS_1
"Mami akan mengirimkan makan siang untukmu dan Luna nanti, jangan makan yang aneh-aneh Rey" ucap Mami, Rey mengangguk paham.
"Katakan pada Luna, saat pulang dari rumah sakit kalian akan tinggal dirumah mami. Mami sudah menyiapkan kamar khusus untuk Avior dan Alioth"