Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Mencoba Berdamai


__ADS_3

"Apakah kau mengajak mami untuk mempersiapkan pernikahan kita hubby?" Luna menatap ke arah Rey.


Rey menggeleng.


"Mami datang dan mengatakan ingin mengadakan resepsi pernikahan untuk kita, bahkan aku belum mengatakan apapun pada mami" ucap Rey, mami mengangguk setuju dengan ucapan Rey.


Luna menatap maminya dengan tatapan curiga.


"Apakah mami menyiapkan semuanya sesuai dengan keinginannya mami?"


"Ya tentu saja, mami harus andil besar dalam resepsi pernikahan mu ini. Kau adalah putriku satu-satunya, mami tidak punya kesempatan lain" ujar mami dengan sombongnya.


"Aku dan Rey sudah sepakat membuat pernikahan sederhana mi" Luna merengek.


Belum apa-apa mami dan Luna terlibat perdebatan, Rey menjadi bingung.


"Baiklah sweety, aku akan membicarakannya lagi dengan mami. Kau istirahat saja ya" Rey mengajak mami keluar dari ruangan rawat Luna.


Luna cemberut, maminya selalu saja berbuat sesuka hatinya.


"Ada apa? Kita sudah sepakat, kalian akan mengikuti kemauan ku"


"Aku mohon mi, biarkan aku bicara pelan-pelan pada Luna" ucap Rey sambil menangkupkan kedua tangannya didepan mami.


"Ya baiklah, kau bicarakan dengan Luna dan usahakan agar dia setuju" ujar mami lalu pergi.


Rey kembali masuk menemani Luna.


"Apa yang mami katakan?" tanya Luna sinis.


"Tidak mengatakan apa-apa" jawab Rey.


"Jangan berbohong, mami pasti memaksamu untuk membujukku kan? Kau juga, bagaimana bisa kau merahasiakan ini dariku?"


Rey terdiam, ia melihat wajah Luna frustasi.


"Ku mohon jangan marah, mami ingin yang terbaik untukmu. Dia menyiapkan segalanya untuk kita, bukankah itu adalah bukti dia menyayangimu?"


"Tidak! Mami selalu berbuat sesukanya! Aku tidak suka!"


Luna memalingkan wajahnya dari Rey. Rey merasa serba salah. Ia duduk disamping tempat tidur Luna.

__ADS_1


"Selama ini aku sangat ingin memiliki orang tua, aku jauh dari bibiku dan sudah lama tidak mendapatkan perhatian darinya. Saat mami datang dan memperbolehkan aku memanggilnya mami aku sangat senang apalagi mami mau repot-repot membuatkan pesta pernikahan untuk kita. Aku membantu mami merahasiakan ini darimu karena mami tidak ingin berdebat denganmu dan mempermudah persiapan pernikahan ini. Bila kau marah dengan apa yang kupikirkan ini, aku minta maaf sweety" kata Rey dengan wajah tertunduk.


Luna melirik ke arah Rey, ada penyesalan di wajahnya.


"Aku hanya ingin kau dan mami menjadi dekat, kau sangat beruntung memilikinya" sambung Rey sambil tersenyum.


Luna menghela napas panjang mendengarkan penjelasan Rey.


"Mami sudah berhasil mengambil hatimu, aku sangat iri" ucap Luna sambil menahan senyumnya.


"Tersenyumlah sweety, hatiku sangat sakit bila kau marah padaku" Rey memegang tangan Luna dan meletakkan didadanya.


"Kau bisa merasakan ini? Hatiku berkata aku mencintaimu lebih dari apapun" goda Rey, Luna mencubit dada Rey pelan lalu tersenyum malu. .


"Ya ya baiklah aku setuju dengan pernikahan ini, tapi jangan terus-terusan membela mami karena aku tak mau bersaing dengannya"


Rey mengangguk lalu mendekatkan hidungnya ke hidung Luna. Tak Lama Bobby mengetuk pintu dan masuk.


"Permisi tuan, nona. Apakah sore ini nona akan pulang?" tanya Bobby saat masuk ke ruangan Luna.


"Ya, namun kami akan pulang ke rumah mami untuk beberapa hari ini" kata Rey membuat Bobby terkejut.


"Baik tuan" ucap Bobby.


Dengan hati-hati Rey membantu Luna masuk ke dalam mobil.


"Aku mau kau tidak keluar kamar, jangan banyak berbicara pada mami" pesan Luna disambut anggukan oleh Rey.


Bobby melajukan mobil ke rumah mami, saat sampai para pelayan menyambut Luna. Mami sudah menyiapkan kursi roda untuk Luna, agar ia tak perlu lelah berjalan selama masa pemulihannya.


"Terima kasih mami" ucap Rey sambil tersenyum, mami memegang pipi Rey dengan gemas.


"Jangan terlalu lama menyentuh suamiku" ujar Luna ketus.


Mami melihat sebal kepada Luna, ia menjauhkan tangannya dari pipi Rey. Mami menyiapkan kamar di lantai bawah agar Luna tidak perlu naik tangga. Semua barang-barang Luna sudah disiapkan oleh mami dan Jiraiya sudah membawakan barang Rey.


"Aku dan Rey mau istirahat. Tutup pintunya" perintah Luna setelah masuk ke kamar.


"Ya Tuhan belum sehari aku disini, rasanya aku sudah mulai frustasi" keluh Luna, membuat Rey merasa bersalah.


"Apa kau ingin pulang saja?"

__ADS_1


"Tidak hubby, maaf atas keluhanku. Aku belum bisa akrab dengan mami dan tidak bisa bersikap baik padanya" Luna mengakui kesalahannya.


"Kau pasti bisa sweety, aku juga pernah bertengkar dengan bibiku. Tapi kami bisa kembali berbaikan dengan mudah karena kami bisa mengalahkan ego kami masing-masing"


"Itulah yang tidak aku dan mami miliki. Harga diri kami terlalu tinggi untuk melakukannya"


"Sangat disayangkan. Mami masih sehat dan seharusnya kau menyayanginya. Bila orang tua sudah tidak ada seperti ku nanti akan ada banyak penyesalan" Rey menakut-nakuti Luna, Luna memanyunkan bibirnya kepada Rey.


"Bila mami tak ada aku pasti sedih" Luna mengatakannya dengan suara pelan, nyaris saja Rey tak mendengarnya.


"Mulailah tersenyum padanya dan katakan hal-hal yang menyenangkan" usul Rey.


"Membayangkannya saja aku bergidik" Luna menggetarkan tubuhnya karena merasa geli.


"Cobalah sweety, itu akan mudah bila kau sungguh-sungguh melakukannya. Anggap aku mami dan tersenyum lah"


Luna menatap Rey dan mulai membayangkan wajah maminya.


"Tidak tidak aku tidak bisa melakukannya, aku malah jadi ingin memakimu" Luna memalingkan wajahnya dari Rey.


♥️♥️♥️


Erika kesal, Bobby sangat sibuk. Dua hari mereka tinggal bersebelahan namun tidak sekali pun mereka bisa bertemu.


"Bahkan kau tak membalas pesanku" gerutunya saat Bobby menjemputnya di restauran.


"Maafkan aku darling, sangat banyak hal yang terjadi membuatku sulit untuk menghubungi mu" Bobby memberi alasan, Erika mencibirnya.


"Para pria suka membuat alasan untuk tidak menghubungi kekasihnya, dan kau adalah salah satunya!"


"Bila aku perhatikan, wajahmu terlihat sangat mirip dengan ayahmu saat marah. Bahkan kerutan ayahmu pun nampak diwajahmu" goda Bobby, Erika memukul lengan Bobby pelan berkali-kali karena kesal.


"Hahaha kenapa kau memukulku?" Bobby tertawa lepas.


"Aku sebal kau mengatakan ayahku sudah tua" Erika menahan tawa.


"Tidak, aku hanya mengatakan ayahmu memiliki kerutan" Bobby tertawa lagi, Erika memukulnya kembali.


"Akan aku adukan kau kepada ayah"


"Jangan nona cantik, aku bisa dipecat dan bila aku dipecat maka aku tak punya uang untuk menikah denganmu" Bobby membuat wajah sedih.

__ADS_1


"Huh.. alasanmu terlalu dibuat-buat. Hal apa yang terjadi selama kau menjaga si kacamata?" Tiba-tiba Erika terlihat penasaran.


"Salah satunya aku harus memesan undangan pernikahan untuknya, namun aku jadi berpikir. Bagaimana bila kita percepat pernikahan kita?"


__ADS_2