
Samuel terdiam lalu menunduk malu. James hanya menatap datar kepada Yasmin dan Samuel.
"Mau apa kalian disini?" tanya Samuel agak sinis, Yasmin menginjak kaki Samuel pelan sambil melotot.
"Adikmu datang bersama kekasihnya, mereka adalah tamu kita. Tidak seharusnya kau bersikap buruk pada mereka" bisik Yasmin dengan kesal.
Yasmin merangkul Anne dan mengajaknya masuk, ia menutupi rasa malunya dengan baik. Sedangkan Samuel melihat ke arah James dengan tatapan tidak suka.
"Duduklah, aku ingin mengganti pakaian dan melihat Sheryl sebentar" ujar Yasmin, lalu ia masuk ke kamar diikuti oleh Samuel.
Samuel berusaha memeluk Yasmin dari belakang dan menciumnya.
"Jangan lakukan Sam!" tolak Yasmin.
"Kenapa? Tadi kau sangat menginginkannya" kata Samuel yang tak mau melewatkan kesempatannya.
Yasmin melirik Samuel dengan sebal.
"Kau lupa apa yang baru terjadi tadi? Aku sangat malu ketahuan sedang bercumbu denganmu oleh James dan Anne. Apa kau tak punya malu?!" seru Yasmin sewot.
"Aku seorang aktor, aku sering berciuman dan bercumbu didepan kamera agar orang-orang menontonnya" ucap Samuel santai.
Yasmin berdesis menahan amarahnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengan pria murahan sepertimu? Bahkan cumbuan adalah bagian dari pekerjaanmu" gerutu Yasmin sambil melihat Sheryl yang sedang tertidur di boxnya.
Melisa selalu menjaga Sheryl dengan baik hal itu yang membuat Yasmin tenang meninggalkan Sheryl bersamanya.
"Dia adalah malaikat" kata Yasmin sambil mengelus pipi bulat putrinya.
"Cuci tangan dulu, bila perlu mandi sebelum menyentuh Sheryl" Samuel meniru kata-kata Yasmin.
"Iya iya.." Yasmin bersungut-sungut dan berjalan ke arah kamar mandi.
Lagi-lagi Samuel mengikuti langkah Yasmin.
"Kau mau apa?!" tanya Yasmin sambil menghalangi langkah Samuel masuk ke kamar mandi.
"Tentu saja aku ingin mandi bersamamu" ucap Samuel enteng, ia tetap berusaha untuk masuk.
"Tidak tidak... Jangan besar kepala Sam! Hal itu tidak akan terjadi!"
__ADS_1
Samuel menyeringai.
"Itu bisa saja terjadi"
Samuel langsung menggendong Yasmin dan masuk bersamanya ke kamar mandi.
Anne dan James menunggu di luar, Melisa menyediakan mereka minuman.
"Aku sangat gugup.." ujar Anne, James masih dengan wajah santainya.
"Ini.. pegang tanganku" ujar James sambil mengulurkan tangannya, Anne tersenyum dan langsung menyambut tangan James.
Lebih dari 1 jam Anne dan James menunggu, hari pun mulai gelap. Tak lama Samuel keluar lebih dahulu. Ia berjalan ke dapur dan minum lalu menghampiri Anne dan James. Samuel duduk disofa tepat disebelah Anne.
"Kau mau apa ke sini?" tanya Samuel sambil membuka kaleng soda yang baru diambilnya.
Anne melepaskan genggamannya dari James.
"Aku ingin mengatakannya saat kak Yasmin sudah berada disini" kata Anne pelan.
Samuel memicingkan matanya ke arah Anne.
Anne terkejut dengan pertanyaan Samuel.
"Ti.. tidak kak, aku bahkan belum pernah melakukannya dengan James" ucap Anne pelan nyaris saja tak terdengar, ia malu bila James mendengarnya.
"Lalu?" Samuel menjadi penasaran.
"Tunggulah sampai kak Yasmin keluar dari kamar" kata Anne dengan wajah agak kesal.
Tak lama Yasmin keluar sambil menggendong Sheryl, rambutnya yang basah ia lilit dengan handuk asal. Anne mengulum senyumnya, sambil melirik ke Yasmin.
"Kalian menungguku?" tanya Yasmin saat semua mata tertuju padanya.
Anne mengangguk, Samuel meminta untuk menggendong Sheryl dan berdiri. Yasmin menggantikan posisi Samuel duduk disebelah Anne.
"Ada apa?" Yasmin memang sudah merasa ada hal penting sehingga Anne datang bersama James.
Anne menoleh ke arah James, James mengangguk tanda setuju. Walaupun agak ragu, Anne berusaha mengatakan maksud dan tujuannya menemui Yasmin dan Samuel.
"Aku akan menikah dengan James dan kami berencana akan pindah ke negara X bersama tuan Bob, hal itu kami lakukan untuk mempermudah pengobatan ayah James" ujar Anne, akan ada banyak masalah yang timbul apabila mereka bertiga pindah dari kota itu.
__ADS_1
"Apa kalian sudah membicarakannya dengan Luna?" tanya Yasmin khawatir, Anne menggeleng pelan.
Luna adalah yang terkena dampak paling besar karena ketiganya adalah koki andalan di hotel dan restauran.
"Dia pasti terpukul jika kalian semua pergi meninggalkannya" kata Yasmin sambil berpikir.
"Hal itu yang menjadi pertimbangan berat untuk kami" ujar Anne dengan wajah sedih.
Yasmin menghela nafas panjang, ia tak bisa membayangkan betapa murkanya Luna saat tahu akan kehilaangan mereka bertiga dalam waktu yang sama.
"Apakah keputusan ini sudah tak bisa berubah?" tanya Yasmin lagi.
"Pergilah kalian yang jauh! Dasar tak tahu terima kasih! Kalian pikir darimana kalian mendapatkan uang selama ini hah!!! Seenaknya saja berpikir untuk pergi dari Luna!" tiba-tiba Samuel ikut bicara, ia terlihat geram dengan keputusan Anne dan James.
Yasmin terkejut mendengar kemarahan Samuel karena biasanya Samuel hanya perduli dengan dirinya sendiri.
"Luna tak pantas mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang seperti kalian! Cepat pergi dan jangan menunjukan wajah kalian lagi dihadapannya!" seru Samuel lalu berjalan masuk ke kamar bersama Sheryl.
Anne menitikkan air matanya, James sedikit terguncang dengan kata-kata Samuel. Mata James membulat, ia seakan tak pernah memikirkaan Luna sampai sejauh itu.
"Cobalah kalian pikirkan lagi hal ini matang-matang, maaf bila Sam terlihat emosional mungkin dia adalah salah satu orang yang paham bagaimana Luna merintis usahanya" ucap Yasmin, ia melirik ke arah pintu kamar.
Anne mengangguk, James terlihat malu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"ehem.. tapi untuk rencana pernikahan sebaiknya dipercepat, aku tak sabar membuatkan gaun pengantin yang indah untuk adik ipar tersayangku" hibur Yasmin sambil menyenggol bahu Anne dengan bahunya.
Seketika kesedihan itu berubah menjadi rona bahagia, Anne tersenyum sambil menoleh ke arah James.
"Emm.. untuk pernikahan. Aku akan bertemu dengan orang tua Anne terlebih dahulu untuk melamarnya, apa menurutmu orang tua Anne akan setuju bila dia menikah dengan pria tua seperti ku?" James terlihat kurang percaya diri.
Yasmin tertawa kecil.
"Apa yang kau katakan? Mami dan papi adalah sosok yang hangat. Namun.... kau harus lebih gigih dalam mendapatkan hati mereka, karena Anne adalah putri mereka yang berharga" ucap Yasmin membuat James mulai berpikir jauh.
"Baiklah.." jawaban James seolah menggantung, pria yang memang awalnya tidak memikirkan tentang pernikahan seketika terlihat galau.
Anne memperhatikan wajah James yang gusar, ia tersenyum manis. Ekspresi yang James tunjukkan adalah sesuatu yang baru untuknya karena biasanya James selalu yakin dengan apa yang ia lakukan terutama dalam hal memasak.
"Anne.. apa kau yakin menikah dengannya?" bisik Yasmin yang gemas dengan reaksi lucu dari James.
"Ya tentu saja, bahkan aku lebih yakin daripada kau saat menerima lamaran kak Sam yang pura-pura pingsan saat itu"
__ADS_1