
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan Yasmin?" Luna naik pitam, ia semakin kesal kepada Yasmin.
"Sadarlah Luna, pernikahanmu dan Rey adalah sebuah kontrak. Jangan bermimpi memilikinya selamanya"
Luna terdiam, ia benci dengan apa yang dikatakan oleh Yasmin. Bahkan ia membenci dirinya yang sudah membuat kontrak itu.
"Bisakah kau diam dan pergi dari sini!" Akhirnya Luna mengusir Yasmin.
"Aku akan memintanya saat kontrakmu selesai kau camkan itu Luna!" ucap Yasmin dengan nada marah.
"Akan ku hancurkan kontrak itu dan aku akan bersama Rey selamanya!"
Yasmin menunjuk wajah Luna dengan tatapan membunuhnya, Luna tak kalah menatap Yasmin dengan tatapan mengancam.
"Jangan ganggu suamiku, dia akan menjadi milikku selamanya!"
"Kau sudah berjanji Luna! Dan kau akan menyesal karena telah mengingkarinya!"
"Aku akan lebih menyesal bila aku melepaskan Rey untuk wanita yang gila seperti mu!"
Yasmin mendengus kesal lalu keluar dari ruangan Luna dengan marah. Jiraiya yang melihat kejadian itu tersenyum dan memberikan jempol untuk Luna. Luna mengangguk, dia merasa senang bisa mempertahankan keteguhan hatinya kepada Rey.
"Apa yang kau pikirkan Jiraiya?" tanya Luna saat Jiraiya akan keluar dari ruangannya.
"Saya merasa senang nona bisa memiliki suami yang baik seperti tuan Rey" katanya sambil tersenyum.
"Aku bersyukur kau juga menyukainya, kau adalah orang yang paling teliti saat menilai orang lain"
Luna mengacungkan jempolnya kepada Jiraiya, Jiraiya membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan Luna.
♥️♥️♥️
Hari sudah sore Luna segera pulang, ia tak sabar bertemu dengan Rey namun karena Rey pulang malam ia menghampiri Rey ke restauran.
"Dimana Rey?" tanya Luna saat masuk ke restauran, salah satu pelayan yang menyambut Luna menjadi salah tingkah.
"Apa kau tuli? Aku bertanya dimana Rey?" bentak Luna kesal.
"Ada apa nona?" Bobby keluar dari dapur mendengar suara Luna yang sedang marah.
"Mana Rey?" Luna mengulangi pertanyaannya.
"Tuan Rey ada di dapur nona, apakah nona mau saya memanggilkannya?" Luna mengangguk, ia melirik sinis kepada pelayan yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Siapa namamu?" tanya Luna ketus.
"Na.. nama saya Andrea nona"
"Apa kau tahu siapa aku?!"
"I..iya nona, nona adalah pemilik restoran ini"
"Bagus kalau kau tahu, belajarlah lagi yang benar bagaimana cara menyambut tamu. Bila besok kau masih seperti ini, aku akan menyuruh James memecatmu!"
__ADS_1
Luna berjalan menuju ruangan James, ruangan itu kosong karena James sedang memasak di dapur. Rey berlari memasuki ruangan James, ia mencari Luna.
"Apa nona mencariku?" tanya Rey takut.
Luna berdiri dan memeluk Rey.
"Aku sangat merindukanmu" ucapnya, Rey melepaskan pelukan Luna pelan.
"Maafkan aku nona, ini masih direstauran dan semua pegawai bisa melihat kita" ucap Rey pelan.
"Begitukah?" Rey mengangguk.
Luna menghela napasnya kesal, ia tak mungkin meminta Rey pulang cepat walaupun ia adalah pemilik tempat itu. Luna menjunjung tinggi profesionalitas.
"Aku akan bosan menunggumu di apartemen seorang diri" rengek Luna.
"Kalau begitu tunggulah disini, aku akan membuatkan kau makanan agar kau tidak lapar selama menungguku" hibur Rey membuat Luna tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggu disini"
Luna mengeluarkan ponselnya dan mulai sibuk membaca email yang masuk. Rey tersenyum melihat Luna yang sudah tenang lalu ia keluar dari ruangan James dan segera kembali bekerja.
"Apakah nona Luna ke sini hanya untuk menemuimu?" Bisik Bobby, Rey mengangguk.
"Kau adalah pria yang benar-benar beruntung" Bobby menyenggol bahu Rey dengan bahunya.
"Ehem, apakah kau merasa tidak beruntung karena wanitamu adalah aku?" tanya Erika dari belakang Bobby, Bobby membalik tubuhnya dan memberikan senyum termanisnya untuk Erika.
"Huh!" Erika membuang wajahnya dari Bobby lalu pergi.
"Kau lanjutkan bekerja, aku harus mengurus kekasihku" Bobby berjalan mengikuti Erika sambil terus berupaya menjelaskan kata-katanya tadi.
Rey tertawa kecil melihat tingkah Erika dan Bobby.
Sudah saatnya restauran ditutup, Luna sudah menunggu Rey dimobilnya.
"Hari ini aku akan pulang bersama nona muda, kau antarkan saja Erika"
"Apa aku tak salah dengar kau masih menyebut nona kepada istrimu itu?" ledek Bobby.
"Aku tak berani memanggil namanya" Rey menunduk.
"Cobalah memanggilnya "Honey" atau "istriku" atau panggilan sayang lainnya agar kalian benar-benar terlihat sebagai suami istri yang bahagia" ujar Bobby gemas.
"Sudahlah, jangan mengurusiku. Kau cukup mengurusnya" Rey melihat ke arah Erika yang sedang berjalan ke arahnya dan Bobby.
"Oia kau benar, ayo darling kita pulang. Kekasihmu yang tampan ini akan mengantar mu sampai kosan" ucap Bobby, Erika memukul dada Bobby pelan.
Rey masuk ke dalam mobil Luna, ia duduk dikursi pengemudi.
"Kau sangat lama" gerutu Luna sambil cemberut.
"Maafkan aku nona, aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu" ucap Rey sambil memasang sabuk pengaman, Rey melihat Luna belum mengenakan sabuk pengaman.
__ADS_1
Dengan sigap Rey memasangkan sabuk pengaman untuk Luna dan ia mendapatkan hadiah kecupan di pipinya.
"Terima kasih nona"
Mobil pun berjalan menuju apartemen Luna.
"Akhirnya......" Luna masuk kedalam apartemen dan duduk di sofa, Rey berjalan menuju lemarinya yang ada didekat kamar mandi.
"Apakah nona mau minum teh hangat?"
"Ya aku mau, tapi aku mau mengganti bajuku dulu ya"
"Oke"
Luna masuk kedalam kamarnya, Rey merebus air dan mencuci tangan serta wajahnya. Tak lama Luna sudah menggunakan kaos putih polos yang terlihat kebesaran dan celana pendek, ia juga membawa iPadnya keluar.
"Apakah ada palu?" tanya Luna santai.
"Palu?"
"Iya, ambilkan aku palu"
Rey menatap heran kepada Luna, ia mengambil palu yang ada dilemari dapur bagian bawah dan memberikannya kepada Luna.
"Kau tahu ini apa?" Luna memegang iPad dengan satu tangannya.
Rey melihat benda yang Luna pegang sambil berpikir.
"Bukankah itu benda dimana nona menulis kontrak dan aku menandatanginya?" jawab Rey agak ragu.
"Ya kau benar"
Buk buk buk...
Dengan tiga kali pukulan keras menggunakan palu yang diberikan Rey Luna menghancurkan iPadnya. Rey terperangah.
"Nona apa yang kau lakukan?" Kata Rey terkejut bukan main.
"Aku menghancurkan kontrak antara kau dan aku"
Rey masih tidak mengerti, ia benar-benar merasa aneh dan bingung.
"Itu artinya pernikahan antara kau dan aku bukan pernikahan kontrak lagi, tapi aku dan kau sudah menjadi pasangan suami istri sungguhan" ucap Luna lalu memeluk Rey.
"Benarkah? Apakah aku bermimpi saat ini? Ya Tuhaaaan..." Rey tersenyum lebar dan memeluk erat Luna.
"Kau tidak bermimpi Rey, kau akan menjadi milikku selamanya" Luna menautkan bibirnya ke bibir Rey.
Ponsel Luna berbunyi nyaring, nama mami tertera dilayarnya. Luna melepaskan tautannya dan mengambil ponselnya, ia mengangkat telpon dengan malas.
"Ada apa mi?"
"Besok mami akan pulang, katakan pada suami miskinmu itu mami akan melaporkannya ke polisi karena sudah menculik Samuel!"
__ADS_1