
Jiraiya meminta Erika untuk tidak bekerja hari itu, ia berkata badannya kurang sehat dan meminta Erika menjaganya.
"Tapi si kacamata belum sehat ayah sedangkan James sendirian di restauran" ujar Erika menolak halus permintaan ayahnya.
"Ayah sudah menelpon tuan Bob untuk meminjamkan seorang koki hotel untuk membantu James"
"Apakah ayah sudah merencanakan badan ayah sakit untuk hari ini?" Erika curiga.
"Aduuh kepala ku sakit" Jiraiya mengeluh, Erika memegangi ayahnya.
"Baiklah ayah, aku percaya kau sakit. Sudah cukup aktingnya" gerutu Erika yang kesal melihat tingkah ayahnya yang sangat terlihat dibuat-buat.
"Kenapa kau sangat curiga dengan rasa sakitku? Aku sudah tua dan sesekali ayah ingin diperhatikan olehmu, bayangkan usiamu sudah 22 tahun dan ayah baru bersamamu selama dua minggu"
"Iya ayah, aku akan mengambil libur hari ini untuk menghabiskan waktu denganmu" Erika masuk kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya, ia terkejut melihat ayahnya yang juga sudah mengganti pakaian seperti akan pergi.
"Ayo sekarang kau ikut ayah" Jiraiya mengajak Erika keluar menuju mobilnya.
"Apalagi ini ayah, kau bilang bahwa kau sakit dan sekarang kau malah mengajakku pergi keluar. Aku benar-benar tidak mengerti" keluh Erika, namun ia pasrah ayahnya menarik tangannya dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita mau kemana? Aku sudah memakai pakaian rumah seperti ini" Erika menunjuk kaos dan juga celana pendek yang dipakainya.
"Ayah ingin mengajakmu berjalan-jalan ke mall, akan ayah belikan semua yang kau inginkan. Tak perlu risau mengenai pakaian, semuanya akan ayah belikan yang baru"
"Tak perlu seperti itu ayah"
Jiraiya menutup pintu mobilnya dan mengingatkan Erika untuk memakai sabuk pengaman.
"Izinkan ayahmu ini memanjakanmu sesekali, selama hidup ayah bekerja dan mendapatkan banyak uang. Untuk apa uang ayah jika tidak bisa membahagiakan mu"
Erika tersenyum simpul, ia memegang lengan ayahnya.
"Baiklah, terima kasih ayah tapi tunggu aku mau memberitahu Bobby kalau aku tidak ke restauran hari ini"
Erika sibuk dengan ponselnya, tak lama wajahnya cemberut.
"Ada apa?" tanya Jiraiya.
"Hari ini Bobby akan sibuk membantu nona Luna di hotel, ia juga diminta ke kota sebelah untuk memeriksa hotel disana" Erika menatap ponselnya dengan wajah sedih.
"Ayah akan menemanimu seharian ini"
"Terima kasih ayah"
Mereka tiba di mall. Jiraiya melihat sebuah gaun di toko pakaian disana.
"Lihat ini, gaun ini sangat cantik. Kau pasti sangat cocok memakainya" Jiraiya menarik tangan putrinya dan memaksa Erika memakainya.
"Ayah aku tak suka memakai gaun seperti ini" ujar Erika saat sudah mencoba gaun pilihan ayahnya.
"Kau sangat mirip ibumu"
Wajah Erika memerah, ia tahu ibunya sangat cantik dan Erika sangat mengagumi ibunya.
__ADS_1
"Kalau ayah bicara begitu aku tidak keberatan menggunakan gaun ini" ujar Erika sambil tersenyum.
Jiraiya melihat Erika hanya menggunakan sendal jepit, ia mengajak Erika ke toko sepatu.
"Apakah ayah berniat membelikan semua barang dari ujung rambut sampai ujung kakiku?" Erika bertanya heran.
"Ya tentu saja, apakah kau mau membeli beberapa baju?" Erika menggeleng, ia mengaitkan tangannya ke lengan Jiraiya.
Mereka masuk ke salah satu toko sepatu yang ada disana, sepatu-sepatu itu terlihat bagus dan berkelas. Erika melihatnya dengan takjub.
"Ayah aku benar-benar boleh memilih yang manapun yang aku suka?" tanya Erika dengan mata berbinar.
Jiraiya mengangguk. Erika mencoba beberapa sepatu disana, ia terlihat sangat gembira. Jiraiya tersenyum melihat wajah bahagia putrinya.
Grace, aku akan menjaga dan membuatnya selalu tersenyum..
Janji Jiraiya dalam hati.
"Ayah lihat ini, apakah ini cocok untukku?" Erika menunjukan sepatunya yang berwarna silver dengan heels setinggi 5 cm.
"Apapun yang kau kenakan akan terlihat cantik" Jiraiya melihat Erika dengan tatapan sendu, ia senang melihat senyumannya.
"Aku mau yang ini saja, sangat pas dengan gaun yang aku pakai"
Jiraiya mengangguk. Setelah dari toko sepatu, Jiraiya mengajak Erika untuk makan karena hari mulai siang.
"Setelah ini ayah akan mengajakku kemana?" tanya Erika sambil menyuap pizza yang dipesannya.
"Ada lagi yang ingin kau beli?"
"Mulai sekarang kau harus ingat bahwa kau memiliki ayah yang dapat memberikan apapun yang kau mau. Apakah kau mau melanjutkan kuliah mu?" Erika menggeleng.
"Sepertinya tidak ayah, otakku sudah tak sanggup bila dipaksa untuk berpikir" ujar Erika sambil cemberut.
"Baiklah bila itu maumu, atau kau ingin kursus memasak profesional?"
Mata Erika berbinar, ia mengangguk dengan cepat.
"Bolehkah aku memintanya?"
"Ya tentu saja, ayah akan mendaftarkanmu untuk kursus nanti"
"Terima kasih ayah" ucap Erika, ia mencium pipi ayahnya.
Jiraiya sangat bahagia, dirinya dan Erika sudah bertambah dekat.
"Bagaimana bila setelah ini kau melakukan perawatan di salon?" ajak Jiraiya.
"Salon? Hahaha aku tak menyangka ayah mengatakan hal itu" Jiraiya tersenyum malu, ia mengetahui salon dari Luna yang sering melakukan perawatan.
"Hehehe ayah pernah mengantarkan nona ke sana"
Erika mengangguk, dia terlihat antusias.
"Cepat habiskan makananmu, lalu kita akan pergi ke salon"
__ADS_1
Setelah selesai makan, Jiraiya mengantar Erika ke salon yang biasa menjadi tempat Luna melakukan perawatan.
"Silakan nona"
Erika dibawa masuk oleh therapist yang ada disana. Setelah Erika masuk, Jiraiya keluar dari salon dan mengambil ponsel dari saku celananya.
"Bagaimana? Apakah persiapannya sudah selesai?"
"......."
"Baiklah, sekitar 2 jam lagi aku dan Erika akan pulang"
Jiraiya menutup teleponnya, ia masuk ke mobilnya dan membeli sebuah kue tart untuk dibawa pulang lalu ia kembali lagi ke salon.
"Aku sudah selesai ayah" Erika keluar dari salon dan menemui Jiraiya yang ada diruang tunggu sedang membaca majalah.
Jiraiya tersenyum melihat putrinya terlihat bertambah cantik.
"Terima kasih Tuhan, karena anakku sangat mirip dengan ibunya" kata Jiraiya dalam hati.
"Aku sudah cantik begini, apakah kita akan langsung pulang?" tanya Erika heran.
"Kita akan pergi ke tempat kursus untukmu. Ayah tahu tempat yang bagus"
Jiraiya dan Erika menuju tempat kursusnya.
"Kau ingin fokus dimasakan apa?" tanya Jiraiya.
"Sebenarnya aku sangat ingin bisa membuat kue dan biskuit-biskuit yang lucu ayah" kata Erika malu-malu.
"Nanti ayah akan membuatkanmu sebuah toko kue bila kau sudah mahir"
"Ayah berjanji?" wajah terlihat sangat senang.
"Ya ayah janji"
"Kau adalah ayah terbaik di dunia" puji Erika.
Setelah mendaftar kursus, Erika dan Jiraiya akan pulang hari sudah mulai malam.
"Terima kasih ayah untuk hari yang sangat menyenangkan ini" ucap Erika sambil memegang lengan ayahnya.
"Ya... ayah juga senang hari ini"
Jiraiya tidak mengarahkan mobilnya ke arah rumah, Erika heran kenapa mereka tidak kembali ke rumah.
"Apakah ayah akan pergi ke suatu tempat hari ini?" tanya Erika dengan nada penasaran.
"Ayah ada pekerjaan sebentar di hotel, tadi nona mengirimkan pesan kepada ayah"
Jiraiya memarkirkan mobilnya di depan lobby hotel. Beberapa pengawal menggunakan pakaian rapi, Erika bertambah bingung melihatnya.
"Apakah ada acara yang sedang berlangsung di hotel ini ayah?"
Visual Jiraiya 😍😍
__ADS_1