
"Mi... mamii..." Luna mengetuk kamar maminya, sudah 3 hari ia tak berbicara dengan wanita yang melahirkannya itu.
Mami selalu menghindari Luna, ia hanya bicara dengan Rara dan Rey. Namun saat melihat Luna ia langsung lari masuk ke kamar dan menguncinya.
"Kita harus bicara mi.. Jangan menghindariku terus" bujuk Luna.
"Ada apa sweety? Kenapa kau mengetuk kamar mami begitu keras?" tanya Rey heran sambil berdiri dibelakang istrinya.
Luna menoleh dengan wajah kecewa.
"Mami tak mau bicara denganku" kata Luna sambil memanyunkan bibirnya.
"Kita bicara dikamar" Rey mengajak Luna berjalan menuju kamar mereka.
Rey dan Luna duduk disofa yang ada dikamar, Rey menggenggam erat jemari istrinya. Ia paham suasana hati Luna tidak baik.
"Aku ingin membicarakan hubungan mami dengan Jiraiya. Semuanya harus jelas, pasti mami berpikir aku akan melarangnya" tukas Luna dengan nada sedih.
"Apa kau mau aku yang bicara pada mami?" usul Rey, Luna menatap lekat mata suaminya.
"Aku takut nanti terjadi kesalahpahaman, aku harus bicara berdua dengan mami" ujar Luna meyakinkan Rey.
"Mintalah Armando membantumu, dia pandai seperti Bobby. Aku yakin dia memiliki cara agar kau dan mami bisa bicara berdua tanpa gangguan"
"Begitu menurutmu?"
Rey mengangguk, tentu saja Rey tidak mungkin meminta tolong Bobby karena pria itu saja belum berani mengatakan hal yang sebenarnya pada Erika.
"Aku yakin Armando akan melibatkan Rara nantinya, namun kau harus bisa bekerja sama dan jangan memarahinya"
"Aku tidak segalak itu hubby" sanggah Luna.
Rey mencubit pipi istrinya.
"Kau tidak galak, namun terlalu tegas bahkan dengan dirimu sendiri. Cobalah untuk relaks dan buat dirimu santai, mami pasti tidak akan menolak berbicara denganmu" saran Rey.
Luna tersenyum, suaminya sangat pengertian dan sabar menghadapi sikapnya. Luna pun menghadiahkan sebuah kecupan di pipi kanan dan kiri Rey lalu memeluknya.
"Aku akan mencobanya"
Esok hari, Luna menemui Armando yang sedang sarapan. Armando agak terkejut melihat nona mudanya masuk ke ruangan belakang, ia langsung berdiri dan membungkukkan badannya.
"Duduk dan teruskan sarapanmu" perintah Luna.
Armando paham dan kembali duduk namun ia enggan makan dihadapan Luna.
"Aku butuh bantuanmu agar aku bisa bicara dengan mami. Kau bisa membantuku?" ucap Luna tanpa basa basi.
Armando sedikit berpikir, akan sangat beresiko jika ia menjebak sang nyonya besar. Namun pria muda itu tak kehabisan akal.
"Saya akan memberitahu nona jadwal nyonya besar setiap hari. Ada beberapa saat dimana nyonya memiliki mood lebih baik dibandingkan saat lainnya" kata Armando.
__ADS_1
Luna melirik heran ke arah Armando.
"Setiap sore nyonya besar akan duduk di taman belakang dengan teh hangat dan kue kering, itu adalah saat nona sedang sibuk dengan tuan kecil. Bila nona bisa meluangkan sedikit waktu maka itu akan menjadi waktu yang tepat untuk nona bicara dengan nyonya besar"
Luna mengangguk-angguk, apa yang Armando katakan adalah sesuatu hal yang benar. Setiap sore Luna akan sibuk mengurus kedua bayinya sampai menjelang malam, lalu Rey pulang dan ia fokus pada suami juga anaknya.
"Baiklah jika itu saranmu, akan mencobanya. Tapi mami akan langsung pergi jika melihatku" Lun berpikir kembali.
Armando tersenyum tipis.
"Tentu saja nona tidak bisa begitu saja. Maaf apakah saya bisa membisikan suatu rencana pada nona?" ujar Armando ragu.
Luna mengangguk dengan cepat. Armando membisikan rencananya, Luna mengangguk-angguk paham.
"Baiklah sore ini pukul 4"
Luna kembali ke rumah utama dan mengurus kedua bayinya.
♥️♥️♥️
Tepat pukul 4 sore, Luna keluar dari kamar Alioth dan Avior. Ia menuju dapur, membuat dua cangkir teh hangat dan menaruh kue kesukaan mami disebuah piring cantik. Setelah itu ia berjalan santai menuju taman belakang rumah mami.
"Terima kasih.." ucap mami saat teh hangat dan kuenya datang, mata mami masih tertuju ke sebuah buku yang dibacanya.
Mami mengambil secangkir teh dan meminumnya perlahan.
"Sama-sama nyonya" ucap Luna dengan nada lembut.
"Uhuk.. uhuk.."
"Mami baik-baik saja?" Luna mengusap punggung maminya.
Mami melirik sinis dan menolak tangan Luna yang ada di punggungnya dengan gerakan badannya.
"Apa teh buatanku tidak enak?" tanya Luna sambil duduk disebelah mami.
Mami diam saja dan melanjutkan membaca buku.
"Buku apa itu? Sepertinya menarik" ucap Luna mendekatkan dirinya ke arah mami.
Mami menggeser tubuhnya perlahan menghindari Luna.
"Cinta.. Bersemi.." Luna membaca tulisan yang ada di sampul buku.
Wajah mami bersemi merah, ia menutup buku itu dan berdiri.
"Jangan pergi.." Luna meraih jemari maminya.
Mami melirik sinis kembali, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Duduklah kembali, aku sangat ingin kita bicara dari hati ke hati" ujar Luna dengan nada memohon.
__ADS_1
Mami terlihat kesal namun ia duduk kembali tanpa menoleh ke arah Luna.
"Mi.. lihat aku" pinta Luna.
Mami menoleh dengan malas.
"Jika kau mau membicarakan kejadian di caffe waktu itu mami tidak mau!" ujar mami ketus.
"Baik baiklah.. Aku akan bicara to the point saja" kata Luna.
"Apa mami benar-benar mencintai Jiraiya? Atau itu hanya kesalah pahamanku saja?" tanya Luna hati-hati.
Mami sedikit berpikir, ia melirik sesekali ke Luna. Ada keraguan diwajahnya.
"Mami tidak mau membahasnya" ucap mami ketus.
"Aku tidak akan melarangmu jika kau berkata jujur mi..."
Mami menoleh ke arah Luna dengan wajah heran.
"Bukankah kau bersikeras tidak setuju jika mami menikah lagi?" suara mami mulai melunak.
"Ya kau benar, jika pria yang akan menikahimu adalah pria yang kurang ngajar dan br***k" jawab Luna sambil menatap maminya.
Mami masih ragu.
"Bagaimana dengan Jiraiya?" tanya mami dengan suara meninggi kembali.
"Ehmm.. dia pria yang bertanggung jawab, baik dan selalu melindungiku selama ini. Apa menurut mami ada ciri-ciri pria kurang ajar dalam dirinya?" tanya Luna dengan nada usil.
Wajah mami memerah kembali.
"Tentu saja tidak"
"Nah.. berarti aku tidak punya alasan menolaknya kan" seru Luna dengan wajah senang.
Mami masih tak percaya dengan ekspresi putrinya.
"Kau tidak keberatan?" mami bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Luna mengangguk dengan tegas.
"Baiklah.. Mami memang menjalin hubungan dengannya, tapi itu bukan hubungan yang terlarang. Kami hanya makan bersama dan berjalan-jalan sesekali" kata mami malu-malu.
Luna tersenyum, ia seperti sedang mendengar remaja putri yang baru pernah memiliki kekasih.
"Iya mi.. aku percaya. Jadi kapan kau ingin menikah dengannya?" tantang Luna.
"Apa kau serius mengucapkan hal itu?" kata mami denganata terbelalak.
"Ya.. buat apa di tunda bukan?"
__ADS_1
"Baiklah, mami ingin menikah minggu depan"