
Rey memeluk Luna.
"Bila kau sudah tidak ingin menonton aku tak akan memaksamu sweety"
Luna sedikit kecewa dengan dirinya sendiri.
"Aku masih ingin melanjutkannya, apakah boleh hubby?"
"Tak masalah asalkan kau baik-baik saja" ucap Rey sambil tersenyum.
"Untuk film selanjutnya sebaiknya kita tonton film animasi yang tadi kau sarankan. Film horor akan benar-benar membuatku dan si kembar jantungan nanti" Luna memegang dadanya sambil menahan napas.
Sepanjang film Luna terus menerus menyembunyikan wajahnya dibahu Rey. Hal itu membuat Rey menahan tawanya.
"Ya Tuhan.. sepertinya aku salah memilih film, seharunya aku memilih film drama percintaan saja" ujar Luna sambil mengatur napas dan memegang perutnya.
"Tapi kau terlihat berani sweety, buktinya kau menontonnya sampai habis film itu" hibur Rey.
"Menonton apanya? Aku lebih banyak melihat telingamu daripada film itu" keluh Luna kesal.
"Sudah tidak apa-apa.. Apa kau mau menonton lagi?"
Luna menggeleng, ia sepertinya lelah setelah menonton film action dengan banyak adegan pembunuhan.
"Kita makan saja. Aku mulai lapar, tapi aku hanya ingin mengemil saja" ujar Luna disambut anggukan oleh Rey.
"Baiklah, ayo kita cari cemilan yang enak"
Rey dan Luna berjalan perlahan, diluar bioskop banyak yang berdagang ditengah mall. Luna mencoba ice cream dengan taburan buah, kentang goreng mozarella, puding cup dengan tekstur lembut dan juga minuman dingin dengan campuran jelly.
"Bukankah itu sama saja dengan makan siang sweety?" tanya Rey yang heran dengan cemilan yang dibeli Luna.
"Aku hanya ingin mencobanya satu persatu hubby, ternyata semuanya sangat enak. Cobalah ini.." Luna menyuapkan kentang goreng pada Rey, Rey menerimanya dengan senang hati.
"Apa kau suka hubby? Aku ingin membelinya lagi jika kau suka" Luna bermaksud untuk berdiri.
"Tidak perlu sweety, aku makan sedikit saja bersamamu" cegah Rey, karena Luna agak sulit dikontrol saat sudah makan sesuatu.
"Begitukah? Oke.." Luna duduk kembali dan memakan cemilannya dengan lahap.
Ada sebuah tempat foto didepan tempat mereka duduk.
__ADS_1
"Hubby, bagaimana bila kita berfoto bersama. Hal itu bisa menjadi kenangan yang berharga untuk kita" ajak Luna bersemangat.
"Kau habiskan dulu makananmu, setelah itu kita akan berfoto"
"Janji?" ucap Luna, Rey mengangguk pasti.
"Baiklah..." Luna tersenyum manis.
Setelah selesai menghabiskan cemilannya Luna dan Rey menuju tempat foto, mereka bergaya dengan gembira layaknya ABG yang sedang memadu kasih.
"Ya Tuhan, sudah lama aku ingin melakukan hal ini" ucap Luna senang sambil terus melihat hasil foto yang sudah dicetak.
"Apa sebelumnya kau belum pernah melakukannya?" tanya Rey heran.
Luna menggeleng.
"Mami sangat posesif, aku tak boleh pergi ke mall atau pusat berbelanja lainnya. Aku harus diantar oleh mami, makanya Yasmin mengenal mami dengan baik. Bila ingin berfoto maka mami akan mengajak kami untuk ke studio besar yang profesional untuk mengambil gambar" cerita Luna, Rey mendengar dengan seksama.
"Mami sangat senang saat menjalin hubungan dengan Sam, dia bahkan mengizinkanku untuk pergi berdua saja. Walaupun secara diam-diam Jiraiya selalu mendampingi kami dengan beberapa pengawal khusus"
"Tapi kau beberapa kali mabuk dan tidak terkendali" Rey mulai penasaran.
"Itu karena aku selalu minta pada Jiraiya untuk memberikan sedikit kebebasan untukku setelah aku memutuskan tinggal berpisah dari mami. Dia pria tua yang sangat pengertian namun sedikit posesif, tak ada satu pun pria yang bisa menyentuhku bila aku sedang mabuk"
"Dia sangat percaya padamu hubby, dia menyukaimu dari awal bertemu denganmu. Itulah sebabnya dia mendukungku untuk menikah denganmu. Dan perkiraan Jiraiya hampir tak pernah meleset"
Rey tersenyum malu, ia baru tahu mengenai hal itu. Ia berpikir selama ini Jiraiya hanya bersikap baik karena ia adalah suami Luna namun ternyata ada hal lain dibalik itu semua.
"Aku senang papi mempercayainya untuk menjagaku, dan kini Jiraiya juga harus menjaga Erika. Walaupun terkadang aku iri, karena Jiraiya dan Erika terlihat hangat saat bersama. Berbeda denganku dan mami yang selalu terlihat seperti tom and jerry" ujar Luna sambil tertawa kecil.
"Kau dan mami juga sangat baik terlihat bersama. Kau saja yang tidak menyadarinya" kata Rey.
"Tidak.. hanya ada perdebatan yang tidak penting jika aku bertemu mami, dia selalu tidak setuju dengan ideku dan begitu pula sebaliknya. Kami memiliki selera yang berbeda"
"Berbeda itu tidak apa-apa sweety, hanya saja kau dan mami belum bisa menyatukan perbedaan itu. Tapi saat bertengkar kalian jadi terlihat lebih akrab dari siapapun" Rey terkekeh.
"Aku tidak berpikir begitu, mami terlalu menyebalkan untukku" tukas Luna sambil memanyunkan bibirnya.
Kriukk...
Perut Luna berbunyi.
__ADS_1
"Aku sudah mulai lapar lagi, ayo kita makan siang"
♥️♥️♥️
Siang ini Yasmin mampir ke kedai milik Bobby dan Rey. Ia ingin minum secangkir kopi sambil bertemu kliennya yang ingin membuat gaun pengantin, namun kliennya itu ingin bertemu diluar galeri karena dalam kondisi jam kerja dihari itu, jadi ia ingin bertemu ditempat yang dekat dengan kantornya.
Yasmin masuk ke kedai, matanya menjelajah mencari keberadaan Rey. Hati tak bisa dibohongi, ia masih menyukai Rey walaupun tak sebesar dulu.
"Mencari sesuatu yang tak ada nona?" tiba-tiba Bobby sudah ada dihadapan Yasmin.
Yasmin mendengus kesal.
"Aku mencari tempat duduk yang kosong" sanggah Yasmin, Bobby menggangguk-angguk.
"Silahkan nona, kursi ini kosong" ucap Bobby menggeser kan kursi yang ada didepan Yasmin.
Yasmin agak malu, sudah pasti Bobby tahu apa yang sebenarnya Yasmin cari.
"Aku ingin duduk di kursi dengan meja yang agak besar. Akan ada klienku yang datang juga ke sini"
Bobby mengantarkan Yasmin ke kursi lain yang sesuai dengan keinginan Yasmin.
"Ini cocok.. Baiklah.." Yasmin langsung duduk setelah Bobby menggeserkan kursinya.
"Apa minuman terbaikmu disini?" tanya Yasmin.
Bobby memberikan daftar menu kepada Yasmin dan menjelaskan menu andalan mereka.
"Baiklah berikan aku secangkir kopi dan waffel dengan ice cream vanila" ujar Yasmin.
Bobby mengangguk paham, kembali untuk membuatkan pesanan Yasmin. Yasmin membuka laptopnya dan mulai bekerja sambil menunggu kliennya. Disisi lain, Erika sedang perjalanan menuju kedai. Ia membawa sekotak kue tart berukuran kecil yang ia buat di toko.
"Silahkan nona, ini pesananmu" ucap Bobby sambil menaruh secangkir kopi dan waffel pesanan Bobby.
"Emm.. bisakah kau memberitahuku dimana letak toilet?" ujar Yasmin, ia ingin mencuci tangannya sebelum makan waffel.
"Disebelah sana nona" Bobby menunjuk sebuah papan kecil bertuliskan toilet.
"Oh.. baiklah terima kasih" Yasmin berjalan agak buru-buru dan ia hampir terjatuh.
Bobby dengan sigap menolongnya, Yasmin berada dalam dekapan Bobby dan saat yang sama Erika baru saja datang serta melihat Bobby yang sedang memeluk Yasmin. Mata Erika membulat, tanpa ia sadari kotak kue yang berada ditangannya terjatuh.
__ADS_1
"Kaliaan..???"