
Tubuh Erika gemetar sambil memeluk anak yang diselamatkannya. Mobil yang hampir menabrak anak itu menghindar dan menghantam tiang pembatas jalan.
"Erika, kau tidak apa-apa?" Bobby terengah-engah karena ia berlari secepat mungkin untuk mengetahui keadaan kekasihnya.
Erika mengangguk pelan, ia masih terlihat ketakutan dengan kejadian tadi. Ibu anak itu datang dan langsung memeluk anaknya.
"Terima kasih nona sudah menolong anak saya, saya sedang di kamar mandi dan anak ini keluar begitu saja" ucap Ibu itu sambil membungkukkan badan berulang kali.
"I... iya tidak apa-apa" kata Erika dengan bibir gemetar.
Bobby menelpon salah satu temannya untuk mengurus mobil yang menabrak pembatas jalan, ia memegang Erika dengan erat. Erika masuk ke dalam mobil, Bobby memakaikan sabuk pengaman padanya.
"A...aku hampir saja mati..." pekik Erika, ia menangisi kebod**annya.
"Tenanglah honey, ada aku disini. Kau tidak apa-apa, apa perlu kita ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaanmu?" tanya Bobby sambil menggenggam jemari Erika.
Erika menatap Bobby dengan tatapan sedih, ia langsung memeluk Bobby.
"Bahkan mati pun aku takut karena tak bisa melihatmu lagi" jerit Erika menyayat hati, Bobby mengusap punggung Erika dengan lembut.
"Aku akan selalu menjagamu, lain kali jangan melakukan hal apapun tanpa izin dariku" ujar Bobby sambil terus mengusap punggung Erika.
Erika mengangguk, ia masih membenamkan wajahnya dipelukkan Bobby. Bobby melepaskan pelukannya, ia ingin melihat wajah Erika.
"Kita masih harus menyiapkan pernikahan. Atau kau sudah ingin pulang?" tanya Bobby, ia takut Erika trauma dan harus beristirahat.
Erika menggeleng.
"Kita harus tetap menyelesaikan persiapan ini tapi karena menangis aku jadi lapar" ucap Erika membuat Bobby menahan senyumnya.
"Baiklah, kita akan makan siang dulu. Kau ingin makan dimana?"
"Aku ingin ke restauran dan makan menu kesukaanku"
"Kemanapun kau mau wanita kesayanganku"
Erika tersenyum lalu Bobby melajukan mobilnya menuju restauran.
♥️♥️♥️
Rey sibuk di dapur bersama Anne, James hari ini datang membantu karena Erika izin tidak datang. Anne mencuri pandang terus menerus kepada James, namun James acuh padanya.
"Apakah hubunganmu dengannya berjalan baik?" tanya Rey penasaran, karena ia melihat sikap James tidak berubah pada Anne.
__ADS_1
"Aku dan dia sudah menjadi kekasih, lihat ini" Anne menunjukan sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Apa ini pemberiannya?" Rey yang tak percaya refleks memegang tangan Anne untuk melihat gelangnya lebih dekat.
"Jangan sentuh yang bukan milikmu" James tiba-tiba sudah ada dibelakang Rey dan memukul kepala Rey pelan dengan sebuah nampan kayu dan berjalan keluar dapur.
Rey terkejut dan langsung melepaskan tangan Anne. Anne tersipu melihat James yang terlihat cemburu.
"Ternyata dia benar-benar menyukaimu" ujar Rey sambil tertawa kecil, Anne mengangguk sambil tersenyum.
Rey dan Anne mulai kesibukan memasak untuk persiapan restauran buka.
"Sangat aneh, aku tidak melihat pak James merokok hari ini" kata Rey siang itu.
"Benarkah?" tanya Anne, dia tidak terlalu memperhatikan mengenai kebiasaan merokok James namun Anne memang melihat James suka makan permen akhir-akhir ini.
"Biasanya pagi hari dia sudah menghisap dua sampai tiga batang rokok, tapi sampai siang ini aku hanya melihatnya mengigit permen jelly" ujar Rey heran.
Anne berpikir sejenak, matanya membulat.
"Apakah ini berhubungan dengan alergi ku?" gumam Anne sambil menatap Rey.
"Alergi?"
Rey tersenyum usil kepada Anne.
"Sepertinya dia sangat menyukaimu"
"Namun sikapnya tidak berubah, dia sangat acuh kepadaku. Apalagi saat ada orang lain" Anne memanyunkan bibirnya.
"Dia sangat perhatian padamu, bahkan ia menghentikan kebiasaan demi kau"
Mata Anne berbinar, ia tersenyum senang.
"Belum tentu dengan sikapnya yang dingin itu dia tidak menyukaimu, namun ia tak mau menunjukkannya didepan banyak orang. Buktinya dia cemburu saat aku memegang tanganmu tadi" kata Rey sambil bergumam sendiri, Anne yang mendengarnya terlihat gembira.
"Haiii..." Bobby masuk ke dapur, ia bersama Erika datang untuk makan siang disana.
"Sedang apa kau disini?" tanya Rey heran.
"Tentu saja aku dan Erika ingin makan siang disini sebagai tamu" Bobby tertawa dengan bangga, Rey hanya memicingkan matanya ke arah Bobby.
Erika berjalan ke arah lemari es dan mengambil minum.
__ADS_1
"Apakah semua persiapan sudah selesai?" tanya Rey.
"Ya hampir, gaun dan kue sudah ku pesan. Armando memesankan undangan untukku dan juga menyiapkan dekorasi. Satu temanku lagi membantuku hal lainnya" ucap Bobby santai, Erika memberikan gelas berisi air mineral kepada Bobby.
"Syukurlah persiapan kalian berjalan lancar, aku berharap semuanya akan selalu baik sampai acara pernikahan" kata Rey sambil merangkul bahu Bobby.
"Terima kasih Rey, kau akan menjadi pendamping pengantin untukku kan?" tanya Bobby sambil merangkul bahu Rey juga.
"Tentu saja.."
Mereka berdua tertawa bersama, Erika mengabadikan keakraban Rey dan Bobby dengan ponselnya. Bobby melihat ke arah Anne.
"Anne, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Bobby, Rey dan Erika penasaran apa yang akan dilakukan Bobby pada Anne.
"Ya tentu saja, kau boleh bertanya apapun padaku" kata Anne dengan yakin.
"Apakah tuan Samuel dan kau tinggal dalam satu rumah?" ujar Bobby, membuat Rey dan Erika semakin penasaran.
"Ya tentu saja, mami tidak akan mengijinkan kak Sam tinggal sendiri karena dia masih sangat manja kepada mami" Erika berkata sambil cemberut.
"Apa kau dekat dengan kakakmu itu?"
"Hei apa yang sebenarnya kau rencanakan padanya?" akhirnya Rey bertanya karena rasa penasarannya sudah berada dipuncak.
"Tenang Rey, aku tidak punya maksud buruk pada tuan aktor itu" Bobby tertawa kecil lalu ia melihat ke Anne.
"Emm, aku dan Kak Sam tidak dekat. Dia selalu menjauh kalau aku mendekatinya, padahal aku ingin bisa dekat dengannya karena hanya Kak Sam saudaraku" ujar Anne sambil menerawang jauh.
"Baiklah.." Bobby menggantung ucapannya.
"Mungkin aku akan membutuhkan bantuanmu nanti" lanjut Bobby.
Erika menatap Bobby dengan rasa heran, namun Bobby hanya tersenyum dan merangkul Erika mengajaknya duduk di restauran untuk makan siang. Rey dan Anne saling tatap.
"Apa yang kau rencanakan? Apa ini ada hubungannya dengan tuan Sam?" Erika masih penasaran.
Bobby hanya tersenyum menyeringai membuat Erika kesal, ia memukul lengan Bobby pelan.
"Apa kau mau membuatku mati penasaran?" kata Erika geram.
"Honey, ini salah satu bagian dari pekerjaan ku. Aku belum bisa memberitahukannya padamu" ucap Bobby sambil tersenyum manis pada Erika, Erika hanya menghela napas panjang sambil menatap sebal pada Bobby.
"Sedikiiiit saja...." Erika memohon.
__ADS_1
"Emmm, aku ingin membuat tuan Sam sadar bahwa keputusannya salah"