
Luna mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari James. Ternyata selama ini James sangat memperhatikan semua hal tentang Anne.
"Lalu kau ingin menunggunya siap?" tanya Luna, ia semakin ingin tahu bagaimana akhir hubungan antara James dan Anne.
"Tak ada yang tahu tentang itu, baik aku maupun Anne. Bila Anne lebih merasa nyaman dengan pria itu, aku akan melepaskannya" wajah James datar saat mengatakannya membuat Luna merasa miris.
"Aku hanya bisa mengatakan jangan menjadi seseorang yang menyesal karena salah mengambil keputusan untuk masa depanmu. Mungkin saat ini Anne memang masih terlalu muda dan takut akan pernikahan tapi bukan berarti dia tidak bisa belajar menjadi dewasa. Kau lah yang harus membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik" ucap Luna, James hanya terdiam dan menghela napas.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan lebih menyesal saat menikah dengan Anne dan tak bisa membuatnya bahagia" James berkata sambil menerawang jauh.
"Hemm kau lebih dewasa dariku James, tentukan sesuatu yang menurutmu baik untuk semua orang dan jangan menyakiti dirimu sendiri"
"Apa kau ke sini untuk menasehati ku nona?" tanya James sambil memicingkan matanya, Luna langsung gugup.
"Bu..bukan begitu. Ini untuk menjaga situasi kondusif di restauran" Luna memberi alasan.
"Tak akan ada masalah nona, aku dan Anne bisa bekerja secara profesional"
"Baiklah kalau begitu, sepertinya hal yang aku khawatirkan sudah tidak ada. Aku harus pergi, jaga kepercayaan ku James"
Jame mengangguk paham, Luna keluar dari ruangannya dan menuju kedai milik Rey dan Bobby.
Saat sampai Rey sedang melayani pengunjung wanita, dua wanita yang sedang dilayani melihat Rey tanpa berkedip. Karena Rey cukup tampan untuk menjadi seorang pelayan kedai.
"Emm.. apa kau bekerja disini?" tanya salah satu wanita berbaju biru yang terlihat berusia sama dengan Rey.
"Ya kau benar nona" jawab Rey sambil tersenyum ramah.
"Ya Tuhan senyumannya sangat menawan" puji wanita berbaju merah muda dengan wajah memerah.
Rey tetap bersikap ramah, karena memang dia harus melayani pengunjung dengan baik. Namun tanpa Rey sadari sang istri sedang melihatnya dengan tatapan geram. Bobby yang menyadari hal itu langsung menghampiri Rey.
"Rey, sebaiknya kau segera temui nona" bisik Bobby dari belakang, ia mengambil alih pelayanan.
Rey baru sadar bahwa Luna berada di dekat pintu masuk dan memandang lurus ke arahnya. Rey langsung tersenyum pada istrinya tersebut, namun Luna mengalihkan pandangan dari Rey dan duduk disalah satu meja.
"Kau baru datang?" tanya Rey dengan lembut, ia mendekati Luna dan bermaksud mencium keningnya namun Luna memundurkan wajahnya untuk menolak.
__ADS_1
Rey terkejut dengan penolakan Luna, lalu Luna menoleh ke arah Rey dengan tatapan judesnya.
"Begitukah caramu melayani tamu? Tersenyum sambil menebar pesona kepada semua wanita?" ujar Luna dengan nada kesal.
"Apakah aku harus memasang wajah masam dan juga bertindak kasar?" Rey paham istrinya cemburu.
Luna terdiam, ia cemberut tak bisa menjawab pertanyaan Rey. Rey duduk dihadapan Luna, ia mengamati wajah istrinya yang sedang marah.
"Emm.. istriku yang sedang marah terlihat cantik dan menggemaskan. Apa yang harus aku lakukan? Hemm... apa sebaiknya aku menggendong istriku dan membawanya pulang lalu menghabiskan waktu dikamar sampai besok pagi?" goda Rey, Luna menahan senyumnya ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Atau sebaiknya aku melayani pengunjung lain? Wah... ada gadis muda yang datang.." Rey bermaksud berdiri, Luna langsung menahan tangan Rey dengan tatapan membunuh.
"Jangan berbuat macam-macam! Atau aku akan merobek wajah gadis itu!" ancam Luna.
Rey tertawa karena sebenarnya tidak ada pengunjung yang baru datang.
"Kau sangat manis saat marah sweety" Rey menatap Luna dengan tatapan yang membuat wajah Luna memerah.
"Aku tahu kau hanya ingin membuatku menjadi tidak kesal lagi kan?" ujar Luna masih sedikit kesal.
"Apa yang membuatmu kesal? Ceritakan padaku" kata Rey, Luna agak gugup ia merasa malu karena merasa cemburu.
"Mulai saat ini aku akan melotot kepada setiap tamu wanita dan bersikap buruk" kata Rey sambil memicingkan matanya melirik Luna.
"Itu lebih baik.." Luna menjawab singkat membuat mata Rey membulat.
♥️♥️♥️
Pulang bekerja Ben menjemput Anne di restauran, sepertinya Anne sengaja ingin membuat James cemburu dengan mengizinkan Ben menjemputnya.
"Aku sudah selesai, aku akan pulang" ucap Anne dengan suara agak dikeraskan agar James mendengarnya.
James keluar dari ruangannya mendengar ucapan Anne, ia menemui Anne.
"Ayo kita pulang" ajak James sambil berjalan mendahului Anne.
"Emm tidak.. Aku tidak pulang bersamamu" kata Anne.
__ADS_1
"Ya aku tahu, aku akan mengantarmu kepada pria yang menunggumu diluar" kata James datar, wajah Anne terlihat sedih mendengarnya.
James berjalan didepan Anne, Anne mengikuti langkah James. Hampir saja air mata Anne menetes. Ben agak heran James menemuinya, ia cukup mengenal pria itu.
"James? Oh.. kau mengantar Anne kepadaku. Apa dia adikmu sampai harus mengantarnya begini?" tanya Ben dengan wajah berseri.
Anne yang berada dibelakang James menunduk, ia menunggu jawaban apa yang akan dikatakan oleh James kepada Ben.
"Bukan.. Sebenarnya dia kekasihku, aku ingin memastikan bahwa kau akan mengantarnya dengan hati-hati" ucap James membuat Ben terkejut.
"Kekasih? Anne.." Ben menoleh ke arah Anne yang masih menunduk dibelakang James.
"Ya dia kekasihku. Ya ya ya aku tahu, perbedaan usia antara aku dengannya terlihat jelas hahaha" James berkelakar.
Ben memandang heran kepada James, ia sangat terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Baiklah, antarkan dia dengan selamat sampai dirumahnya" kata James, ia membalik tubuhnya dan menepuk puncak kepala Anne.
"Apakah kau benar-benar tidak perduli aku pergi dengannya?" Anne mulai mengeluarkan suaranya, James menghentikan langkahnya.
"Kau tidak mencintaiku, kau tidak perduli padaku!" teriak Anne kesal.
"Untuk menunjukkan cintaku lalu aku harus bagaimana? Apa kau ingin aku bertengkar dan menghajar pria itu?" tanya James tanpa menoleh ke arah Anne.
"Bu.. bukan begitu maksudku.." ucap Anne agak takut.
"Apa kau sengaja menerima tawarannya untuk menjemputmu agar aku bisa menghajarnya?" James menoleh dan tersenyum miris ke arah Anne.
Anne tak bisa berkata-kata, pertanyaan yang James lontarkan adalah sesuatu hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"A.. aku hanya..." Anne menggigit bibirnya, ia merasa bersalah pada Ben.
Ben hanya diam melihat apa yang terjadi, ia paham sepertinya ia menyukai wanita yang salah untuk kedua kalinya.
"Kau ingin membuatku cemburu? Dan bila aku cemburu itu akan membuktikan besarnya cintaku padamu?" James bertanya lagi, nada suaranya mulai berubah.
Anne diam saja, ia kembali menunduk karena malu.
__ADS_1
"Bila kau masih berpikiran kekanak-kanakan seperti itu sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini"