Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Terkejut


__ADS_3

Mami segera masuk ke dalam kamarnya, Rara masih duduk terpaku.


"Apa yang mami rencanakan?" ucap Rara dalam hati sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi.


"Rara....!!!" panggil mami dari dalam kamar.


Rara tersadar dari lamunannya, ia segera beranjak dari duduknya.


"Iya mi.. aku sedang berjalan kekamar untuk siap-siap" jawab Rara sambil berlari menuju tangga.


Hap...


Rara hampir terjatuh beruntung ada sang pujaan hati, Armando yang menangkapnya.


"Kenapa buru-buru seperti itu?" tanya Armando heran.


Rara tersenyum kecut dengan wajah merah merona, ia merasa malu karena Armando memergoki kecerobohannya. Seketika Rara teringat kalau ia harus segera mengganti pakaian dan pergi dengan mami, lalu ia berlari kembali menaiki anak tangga. Armando hanya tersenyum melihat ke arah Rara.


❤️❤️❤️


Mami sudah siap, begitupun dengan Rara. Mereka berjalan beriringan menuju keluar.


"Mana kekasihmu?" tanya mami sambil mengedarkan pandangannya ke garasi rumahnya.


"Armando maksud mami?" Rara balik bertanya.


Mami melirik Rara dengan wajah agak kesal.


"Apa kau punya kekasih lain?" tanya mami ketus.


Rara menggeleng dengan cepat, ia mengambil ponsel dari tasnya dan menelpon Armando.


"Sebentar lagi Armando akan datang" ucap Rara.


Mami tersenyum penuh arti sambil mengangguk-angguk, Rara sama sekali tidak dapat menebak apa yang Mami rencanakan.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" kata Armando saat sudah berada di hadapan Mami dan Rara.


"Antar kami ke rumah sakit" sahut mami santai sambil berjalan menuju mobil.


Rara heran, biasanya mami akan meminta sopir pribadinya untuk mengantarkannya pergi. Armando hanya bisa mengangguk dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk mami dan Rara.


"Bukankah tadi kak Luna mengatakan kita belum bisa menjenguk kak Sam, mi?" tanya Rara penasaran.


"Sudah ikut saja, tidak usah banyak bertanya" ujar mami santai membuat Rara mengernyitkan dahinya.


Mami menoleh ke arah Rara.

__ADS_1


"Apa kau menyayangi mami?" tanya mami penuh ancaman.


Rara menatap mami dengan perasaan was-was dan mengangguk pelan.


"Baiklah, begini rencananya.."


Mami membisikkan sesuatu ke telinga Rara, mata Rara seketika membulat seolah tak percaya dengan apa yang mami ucapkan.


"Tapi mi .." ucap Rara ingin menolak.


Mami melirik Rara, lalu Rara menghela nafas panjang tanda pasrah. Setelah sampai di rumah sakit, Rata segera keluar dari mobil menuju kerumunan wartawan yang ada disana.


"Kenapa kau diam saja? Apakah kau mau kekasihmu itu pergi?" ucap mami geram melihat Armando yang hanya mematung melihat Rara berjalan semakin menjauh dari mobil.


"Tapi saya harus menjaga keselamatan nyonya" jawab Armando lugas.


"Ini perintah!! Cepat kau kejar dia..."


Mendengar ucapan mami, Armando keluar dari mobil dan mengejar Rara.


"Rara.." panggil Armando.


Rara tak bergeming ia diam saja seolah mengacuhkan panggilan kekasihnya. Armando mempercepat jalannya dan meraih jemari Rara. Rara membalikan badannya, ia merasa sudah cukup jaraknya dari para wartawan tersebut.


"Jangan sentuh aku!!" ujar Rara ketus dengan suara keras membuat Armando heran.


"Jangan ikuti aku lagi, aku muak padamu!!!" suara makin keras membuat para wartawan itu menoleh pada mereka.


Armando semakin tak mengerti sedangkan dipeluk mata Rara sudah hampir mengeluarkan bulir air mata.


"Kau sudah menyakiti aku berulang kali, aku tidak mau bersamamu lagi!!"


"Apa yang terjadi padamu? Aku tidak mengerti" Armando menenangkan Rara dengan mengelus bahunya.


Plak...


Rara menampar Armando dan mulai mengeluarkan air mata, membuat Armando kaget sekaligus menjadi panik. Para wartawan itu juga mulai mendekati Rara dan Armando, melihat apa yang terjadi.


"Aku melihat kau bersama wanita itu! Kau berselingkuh!!" ucap Rara membuat Armando semakin terkejut.


"Apa yang kau bicarakan? Wanita siapa?" tanya Armando penuh rasa penasaran.


"Sudah mengaku saja, dasar pria tidak tahu diri. Kekasihmu itu sudah cantik, masih saja mencari yang lain" sahut salah satu wartawan wanita yang terlihat geram.


"Begitulah pria, kalau sudah ketahuan tingkah lakunya langsung amnesia dengan apa yang dia lakukan, huh.." ucap wartawan wanita lainnya mengejek Armando.


"Apakah ini bagian dari rencana nyonya?" Armando mendekatkan wajahnya ke telinga Rara.

__ADS_1


Rara mengangguk pelan dan tangisnya makin menjadi, ia tak tahan dengan sandiwara yang mami minta kepadanya.


"Kau jahaat!!! Kau mengkhianatiku!!" kata-kata yang keluar dari mulut Rara tidak sesuai dengan apa yang ada dihatinya dan membuat Rara semakin terisak.


"Itu tidak seperti yang kau pikirkan" Armando mulai mengikuti alur permainan yang diminta mami.


"Heiiii pria muda, jauhi wanita itu!! Jika kau sudah tak mau dengannya biarkan aku yang menemaninya" salah seorang wartawan pria mendekati Rara berusaha menarik tangannya.


Armando yang tak rela sang kekasih disentuh oleh pria lain sontak memegang pria itu dan memelintir tangannya kebelakang.


"Aduh.... sakit.... lepaskan aku pria br******k!!" pekik wartawan itu.


"Jangan sentuh wanitaku!" ucap Armando penuh penekanan.


Rara memegang lengan Armando, mengelusnya perlahan dan menggeleng tanda agar Armando tidak berbuat kasar pada wartawan itu.


"Selesaikanlah masalah kalian, jangan membuat keributan disini" ucap salah satu wartawan yang terganggu dengan aksi Rara dan Armando.


Sementara itu, ditempat lain mami sudah bersiap-siap untuk masuk ke rumah sakit. Ia menggunakan pasmina untuk menutupi kepala dan wajahnya.


"Sepertinya Rara dan Armando berhasil mengalihkan perhatian wartawan-wartawan itu" kata mami sambil tertawa kecil.


Mami keluar dari mobil, mulai mengendap-endap memasukin rumah sakit. Namun ada satu wartawan yang tidak tertarik dengan drama yang dilakukan oleh Rara, ia melihat dengan curiga ke arah mami.


"Tidak salah lagi!! Itu nyonya Lauren, teman-teman itu nyonya Lauren ibu dari mantan kekasih Samuel!!" teriaknya sambil berlari ke arah mami.


Mami terkejut dan mempercepat laju jalannya, namun tiba-tiba ada tangan yang menarik mami dan mengajak mami berlari memasuki rumah sakit lalu dengan segera masuk ke dalam lift. Lepaslah mami dari kejaran wartawan tersebut.


Mami menghela nafas panjang sambil mengatur nafasnya.


"Apakah nyonya baik-baik saja?" tanya orang itu sambil tersenyum.


Mata mami membulat karena terkejut.


"Jiraiya..."


*1 jam sebelumnya*


"Mami pergi, aku tahu dia pasti akan mencari cara untuk menjenguk Samuel" gerutu Luna kesal.


"Dimana Rara? Apakah mami mengajaknya juga?" tanya Rey sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah.


"Aku yakin mami akan menjadikan Rara umpan" ujar Luna sambil memutar matanya karena sudah bisa menebak rencana maminya.


"Aku akan menghubungi Bobby untuk memberikan penjagaan untuk mami" kata Luna lagi sambil mengambil ponsel dari saku celananya.


"Kenapa harus Bobby? Bukankah Jiraiya lebih tepat untuk tugas ini?" ucap Rey sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Kau benar sayang, baiklah aku akan menghubunginya"


__ADS_2