
"Mau kemana kacamata?" tanya Erika heran melihat Rey membuka apronnya dan mengambil tasnya.
"Aku harus pulang" ujar Rey lalu berjalan cepat ke arah pintu keluar.
Bobby menghalangi Rey, ia melihat Rey penuh tanda tanya.
"Nona sakit, aku harus melihatnya"
Bobby paham lalu membiarkan Rey pergi, ia menelpon Jiraiya untuk membantu Rey agar tidak mendapatkan masalah di restauran.
"Mau kemana dia?" Erika masih heran.
"Apakah kau bertanya padaku?" tanya Bobby senang.
"Ya tentu saja, kau pikir aku sudah gila berbicara sendiri?" ujar Erika mendengus kesal.
"Pacarnya sakit, dia harus merawatnya" Bobby bicara asal.
"Si kacamata sudah punya pacar?" Erika terkejut.
"Jangan cemburu nona cantik, masih ada aku. Pria tampan nan menawan yang akan mengisi hatimu"
Erika melihat malas ke arah Bobby, Bobby menaik turunkan alisnya menggoda Erika.
"Tidak terima kasih" Erika berlalu meninggalkan Bobby kembali memasak.
♥️♥️♥️
"Nona..." Rey sampai diapartemen, ia terengah-engah karna berlari dari lantai bawah ke lantai 6.
Tidak ada seorang pun diruang tamu. Rey mengetuk pintu kamar Luna, Luna sudah menggunakan make-up agar wajahnya terlihat pucat. Ia melompat ke tempat tidurnya.
Tok tok tok
"Nona, apa kau ada didalam?"
Luna bingung bagaimana caranya memberitahu Rey bahwa ia ada di dalam karna tak mungkin dia berteriak karna ia sedang berpura-pura sakit.
"Uhuuk uhuuukk" Luna sengaja batuk.
Rey berlari ke dapur mengambilkan Luna air putih hangat dan masuk ke kamar Luna.
"Kau baik-baik saja nona? Bagian mana yang sakit?" Rey khawatir melihat Luna yang terbaring lemah di tempat tidur.
Rey membantu Luna duduk dan minum air yang ia bawakan.
"Uhuk uhukk" Luna terbatuk lagi.
"Kenapa kau bisa tiba-tiba sakit? Sepertinya tadi pagi kau baik-baik saja"
Luna gugup, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Bila kau keberatan untuk pulang kembalilah ke restauran! Aku ingin istirahat" Luna kesal, ia kembali berbaring dan menarik selimutnya karna ia benar-benar tak mendapatkan jawaban yang tepat namun ia melampiaskannya kepada Rey.
"Bukan begitu nona.. Aku hanya takut kau salah makan dan terjadi sesuatu pada... " Rey diam tak melanjutkan kata-katanya.
"Aku sudah bilang aku tidak hamil!" Luna pura-pura sakit namun masih saja bisa mengatur suaranya agar tak terlalu keras saat marah.
__ADS_1
"Hehehe iya nona" Rey tertawa malu-malu sambil menggaruk kepalanya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Rey, Luna menggeleng lemas.
Bisa-bisanya Luna marah dan lemas dengan cepat, ya karna dia memang sedang berpura-pura.
"Aku akan membuatkanmu bubur" Luna mengangguk lemah.
Rey segera keluar dari kamar Luna menuju dapur, tak lupa ia menutup pintu kamar Luna. Luna bangun dan menghela napasnya.
"Bisa-bisanya dia membuatku kesal dalam keadaan aku sedang sakit. Haduuuh kalau dia begitu terus lama-lama aku bisa ketahuan!!! Arggghhhh" gerutu Luna dalam hati.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan agar bisa menahan Rey tetap di apartemen sampai besok pagi??"
"Tunggu tunggu, apa yang aku lakukan saat ini? Kenapa aku pura-pura sakit dan ingin menghalangi Rey berkencan dengan Yasmin??" Luna berpikir, ia heran dengan dirinya sendiri.
"Aaah sudah lah, aku sudah terlanjur berbohong. Aku teruskan saja, setidaknya aku bisa menahan Rey untuk tidak bertemu Yasmin" Luna tersenyum puas.
Rey masih membuat bubur untuk Luna, ia memberikan topping ikan tuna.
Tulalit..
Ponsel Rey berbunyi, itu telpon dari Yasmin yang ingin memastikan pertemuan mereka nanti malam. Luna yang mengetahui ada yang menelpon Rey mendekatkan kupingnya di pintu.
"Nona Yasmin aku minta maaf"
"Ada apa Rey?"
"Sepertinya aku tak bisa bertemu denganmu nanti malam"
"Apa!! Kenapa? Apa Luna melarangmu?"
"Sakit?? Aku baru bertemu dengannya siang tadi dan dia baik-baik saja"
"Wajahnya pucat dan aku tak mungkin meninggalkan nona dalam keadaan sakit"
Luna tersenyum mendengar penolakan Rey kepada Yasmin, ia melompat gembira.
"Eeem baiklah, katakan pada Luna aku akan menjenguknya nanti malam" Suara Yasmin terdengar marah.
"Baiklah nona"
Rey menutup telponnya, Luna segera kembali ke tempat tidurnya perlahan-lahan.
Bubur buatan Rey sudah siap, ia membawanya dengan nampan ke kamar Luna.
"Ini buburnya, masih panas. Tapi sebaiknya kau makan selagi hangat"
"Aku lemas Rey" ucap Luna dengan tatapan memelas.
"Aku bantu kau duduk" Rey mengangkat tubuh Luna agar dalam posisi duduk.
Sesuap demi sesuap masuk ke dalam mulut Luna, Rey dengan telaten menyuapinya.
Sepertinya aku suka dengan rekayasa sakit ini, mungkin aku harus sering-sering melakukannya
Luna bergumam dalam hati sambil tersenyum.
__ADS_1
Wajah Luna sudah terlihat lebih segar.
"Apa kau akan pergi malam ini?" tanya Luna.
"Tidak nona, aku tak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan sakit" ucap Rey sambil tersenyum.
"Bukankah kau ada janji dengan seseorang?" nada bicara Luna seperti menyindir.
"Darimana nona tahu?" Luna gugup, ia tak mau Rey tahu kalau ia bertanya pada Yasmin tentang rencana kencan yang direncanakan oleh Yasmin.
"Aku hanya menerka-nerka saja" Luna melihat ke atas ia tak mampu menatap Rey lebih lama.
"Apa kau ingin sesuatu?"
"Aku ingin menonton tv diluar"
"Baiklah, apa kau bisa berjalan?" Luna berpikir sebentar, lalu ia mengangguk.
"Aduuh kepalaku agak pusing" kata Luna sambil memegang kepalanya, Rey menjadi khawatir.
Luna melirik penasaran kepada Rey.
"Apa tak apa bila aku menggendongmu keluar?" tanya Rey ragu.
"Ck,, ya sudah tidak apa-apa kau menggendongku, tapi kali ini saja" ujar Luna sambil menahan senyumnya. Rey mengangguk.
Perlahan-lahan Rey mengangkat tubuh Luna, Luna mencium wangi minyak wangi Rey tadi pagi di bajunya. Ia tersenyum senang, ia menyenderkan kepalanya di dada Rey.
"Kau mau berbaring atau duduk nona?"
Luna terkejut, jarak dari kamarnya sampai ruang tamu sangatlah dekat membuatnya tidak puas digendong oleh Rey.
"Aku ingin berbaring saja"
Rey membaringkan tubuh Luna di sofa, ia memakaikan bantal dikepala Luna. Lalu Rey duduk di bawah dekat Luna sambil membelakanginya.
Luna yang posisi kepalanya dekat dengan tengkuk Rey sangat gemas ingin menyentuhnya. Tangannya mulai bergerak..
"Apa yang ingin nona tonton?" Rey menoleh, Luna menggerakkan tangannya seolah pegal.
"Apakah tangan nona sakit?" Rey khawatir dan langsung memegang tangan Luna lalu memijatnya. Luna menahan senyum senangnya.
"Sudah sudah, kau jangan mengambil kesempatan untuk memegang tanganku saat aku sakit begini" celetuk Luna melepaskan genggaman Rey kasar.
Rey tersipu malu, ia memang suka menyentuh kulit Luna yang halus dan bersih.
"Maafkan saya nona, aku kadang tidak tahan ingin menyentuhmu bila sedang berdekatan begini" Rey mengatakannya dengan wajah yang memerah.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukannya" ucap Luna dengan nada marah, padahal dalam hatinya ia juga sangat ingin disentuh oleh Rey.
"Oia nona, tadi nona Yasmin mengatakan kalau dia akan datang menjengukmu" kata Rey sambil melihat ke arah TV.
Wajah Luna berubah khawatir tapi Rey tidak menyadarinya karna mata Rey tertuju ke televisi.
"Aku butuh istirahat, aku tak ingin bertemu siapapun" ujar Luna ketus, ia hanya tak ingin Yasmin mengetahui kebohongannya.
Ting tong...
__ADS_1
"Sepertinya itu nona Yasmin"