
Rey masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apakah benar kau mengatakan aku akan tidur dikamar denganmu mulai saat ini?" Rey memastikan tidak salah menafsirkan apa yang dia dengar.
"Kita sudah menjadi suami istri sungguhan sudah sepatutnya kita tidur bersama bukan? Atau kau mau aku ikut tidur disofa denganmu?" Rey menggeleng.
"Badanmu bisa sakit bila tidur disofa itu bersamaku"
Wajah Luna berubah menjadi khawatir.
"Apakah selama ini badanmu sakit karena tertidur di sofa, hubby?"
"Emmm, ya lumayan. Hanya sedikit pegal namun dengan sedikit olahraga setiap hari, tubuhku menjadi pulih dengan cepat"
"Syukurlah, aku sangat takut memperlakukanmu dengan sangat buruk diawal kau tinggal disini"
Rey hanya tersenyum, Luna berjalan ke arah kamar.
"Tunggu apalagi? Ayo kita tidur hubby" panggil Luna.
"Baik nona eeh maksudku sweety"
Rey memeluk Luna dari belakang dan keduanya berjalan bersama memasuki kamar.
"Aku akan ke kamar mandi dulu, kau bisa berbaring duluan" ucap Luna lalu masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Rey melihat sekeliling kamar Luna, ini akan menjadi malam ketiganya di kamar itu namun baru terasa benar-benar nyata. Rey duduk ditempat tidur Luna, ia mengusap tempat tidur itu sambil melihat ke langit-langit.
Benarkah mimpiku akan menjadi nyata? Ya Tuhan terima kasih...
Ucap Rey dalam hati. Rey keluar lagi dari kamar Luna ia mengganti pakaiannya dengan cepat sebelum Luna keluar dari kamar mandi tak lupa ia menyemprotkan sedikit minyak wangi. Rey masuk kembali ke kamar Luna, ia duduk di tempat tidur Luna.
"Kenapa kau tidak berbaring hubby?" tanya Luna saat keluar dari kamar mandi, Rey terperangah.
Luna hanya menggunakan pakaian tidur tipis yang terlihat sangat menggoda, Rey menelan ludahnya pelan.
"A... aku akan berbaring nanti, aku menunggumu" jawab Rey sambil mengalihkan pandangannya, ia yakin wajahnya memerah dan hampir saja mimisan.
"Ayo kita tidur" ajak Luna.
Luna naik ke tempat tidur disisi lain dari Rey, lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Apa kau belum mengantuk?" tanya Luna yang melihat Rey tidak bergerak sama sekali.
Rey sedang menenangkan jiwa lelakinya melihat Luna yang sangat sexi.
"Ya aku akan tidur"
Rey masih memalingkan wajahnya, ia naik ke tempat tidur lalu masuk ke dalam selimut. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, tubuhnya juga terasa dingin. Rey berbaring terlentang dan tidak menoleh ke arah Luna.
Suasana sangat hening di kamar itu, Rey melirik ke arah Luna. Ternyata Luna sudah terlelap karena lelah, Rey menghela napasnya.
Syukurlah, setidaknya malam ini aku bisa tidur dengan tenang...
Pikir Rey. Tiba-tiba Luna bergerak dan kakinya menyentuh Rey, tubuh Rey langsung gemetar. Dan akhirnya Rey baru bisa tidur saat Luna bergerak lagi dan agak menjauh dari Rey.
♥️♥️♥️
Alarm ponsel Rey berbunyi, Rey terbangun. Tanpa disadari Luna ada didalam pelukannya, Rey agak terkejut namun Luna sepertinya sangat nyaman. Rey mematikan alarm ponselnya.
"Kau mau kemana?" Luna bertanya dengan mata yang masih terpejam.
"Aku harus bersiap untuk berangkat bekerja nona eem maksudku sweety"
"Berikan aku waktu lima menit lagi untuk memelukmu" ucap Luna sambil mempererat pelukannya.
Selang 15 menit Rey terbangun kembali, ia melihat jam diponselnya. Perlahan ia melepaskan pelukan Luna lalu ia keluar dari kamar dan mandi.
"Kenapa kau masih mandi di kamar mandi itu?" tanya Luna saat Rey habis mandi.
"Aku terbiasa mandi disitu sweety" jawab Rey sambil tersenyum, ia menghadiahkan Luna ciuman di keningnya.
"Mulai hari ini biasakanlah melakukan segalanya dikamar kita" ujar Luna yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Baiklah sweety"
"Siang ini aku akan meminta kepada Jiraiya untuk memindahkan semua barang-barang mu ke kamarku, agar kau tak perlu keluar kamar untuk mengganti pakaian"
"Oke" jawab Rey singkat, ia memakai pakaiannya dan membuatkan Luna segelas susu dan roti tawar dengan selai strawberry.
"Ini sarapanmu sweety, aku harus berangkat. Pasti Bobby menungguku diluar"
Luna merentangkan tangannya, Rey segera memeluk Luna. Luna seperti enggan melepaskan Rey untuk berangkat.
__ADS_1
"Sweety aku harus berangkat" ucap Rey sambil mengelus punggung Luna lembut.
"Ya ya ya baiklah. Berhati-hatilah hubby. Apakah nanti siang kita bisa makan bersama?"
"Ya tentu saja, aku akan minta izin kepada pak James dan membawakan makanan ke hotel dan kita bisa makan di sana. Hanya saja aku tak bisa berlama-lama"
"Oke hubby"
Rey melambaikan tangannya, Luna memberikan kiss byenya kepada Rey.
"Ini.." Bobby memberikan sebuah amplop coklat kepada Rey saat Rey baru saja keluar dari apartemen Luna.
"Apa ini?" tanya Rey heran.
"Itu adalah bukti-bukti apa yang tuan populer lakukan padamu dan bonus foto-foto saat dia berlindung dibalik kakimu dengan celana yang basah. Hahahaha" Bobby tertawa puas.
Rey membuka amplop yang diberikan oleh Bobby. Matanya terbelalak.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan bukti-bukti ini?"
"Kau tak perlu tahu, tapi yang harus kau tahu hari ini kita tidak akan dilaporkan ke polisi karena semalam aku sudah mengirimkan file-file ini ke apartemen tuan populer dan aku yakin ia pasti mengompol lagi saat melihat isi dalam amplop yang aku kirimkan padanya hahaha"
"Kau benar-benar gila Bobby" ucap Rey sambil tersenyum bangga.
"Banyak hal yang akan membuatmu terkejut bila kau tahu apa saja yang bisa aku lakukan" Bobby berkata dengan sombongnya.
Bukan tanpa alasan tetapi Bobby adalah orang yang selalu bisa mencari celah dan ide brilian saat menghadapi orang-orang seperti Samuel. Bahkan beberapa pesaing Luna banyak yang menakutinya karena ia memiliki seribu bahkan jutaan cara untuk mengetahui kelemahan pesaing Luna. Itu adalah salah satu alasan Jiraiya sangat menyayangi Bobby.
"Aku tak menyangka selama 7 tahun ini kau berkembang dengan sangat baik dan kepintaranmu benar-benar dapat diandalkan"
Bobby tersenyum menyeringai, ia merangkul Rey dan mengajaknya berangkat ke restauran.
"Bobby aku harus bicara denganmu" Jiraiya sudah menunggu Bobby direstauran, lalu ia mengajak Bobby duduk di kursi restauran karna masih tutup.
"Baik tuan"
Bobby dan Jiraiya meninggalkan Rey di dapur, Rey hanya melihat sekilas keduanya duduk dikursi restauran sambil berhadapan. Terlihat pembicaraan serius antara Bobby dan Jiraiya. Setelah selesai berbicara, Jiraiya keluar dari pintu belakang dapur. Wajah Bobby terlihat bersemangat.
"Apa yang terjadi?" tanya Rey penasaran.
"Sesuatu yang menyenangkan sepertinya, aku ingin menikmati permainan ini. Tapi kau harus membantuku" Bobby melirik usil kepada Rey.
__ADS_1
"Apa itu?" Rey semakin penasaran.
"Tuan Jiraiya mengatakan, nyonya besar memiliki seorang mata-mata direstauran ini untuk mengintaimu. Dan aku sudah mencurigai seseorang disini"