
Erika seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, mami benar-benar membawa tiga orang dokter dan beberapa perawat untuk memeriksa Bintang.
"Kau tak perlu risau, bayi demam adalah hal yang biasa" ucap mami pada Erika yang hanya bisa mengangguk-angguk dengan wajah heran.
'Bukankah nyonya yang membuat demam Bintang menjadi berlebihan' kata Erika dalam hati.
Erika dan Mami berdiri dibelakang dokter yang memeriksa Bintang.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Mami santai, lagi-lagi Erika tak menyangka dengan kata-kata 'cucu' yang keluar dari mulut nyonya besarnya itu.
"Kondisinya baik-baik saja nyonya, pemulihan sekitar 1-2 hari"
"Bagaimana bisa kau bilang cucuku baik-baik saja? Ia demam sejak semalam, periksa yang benar!" mami mengomel, membuat Erika makin membulatkan matanya.
"Kami sudah memeriksanya nyonya besar, kondisi bayinya baik-baik saja. Demam kemungkinan efek dari imunisasi" terang dokter.
"Kau benar-benar tidak becus memeriksanya! Apa kau sudah bosan menjadi dokter pribadi dari keluargaku, Frans!" mami seolah tak terima apa yang dokter katakan.
Dokter Frans yang memang sudah puluhan tahun menjadi dokter pribadi keluarga Luna, tentunya dia sudah paham dengan sikap mami yang keras kepala dan suka seenaknya. Dokter itu membuka kacamatanya sambil menghela nafas.
"Apa kau ingin aku mengatakan bahwa anak ini sakit parah? Begitu Lauren?" tanya dokter Frans sedikit jengkel.
Mami membuang mukanya menjauhi tatapan dokter Frans. Tentu saja mami tak ingin ada sesuatu yang buruk menimpa Bintang, namun mami ingin memastikan bahwa calon cucunya itu baik-baik saja.
"Nyonya.. Bintang memang baru diimunisasi kemarin. Dokter berkata hal yang benar" Erika mencoba ikut menjelaskan, walaupun dengan hati bergemuruh karena takut.
Mami menoleh ke arah Erika, tatapan mami terlihat menakutkan bagi Erika. Ia pun menunduk takut.
"Begitukah?" tanya Mami memastikan, Erika mengangguk dengan cepat.
"Baiklah, ternyata kau tidak kehilangan ketelitianmu dalam memeriksa pasien walaupun rambutmu sudah memutih" ucap mami, dokter Frans hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah dokter selesai memeriksa Bintang, mereka semua keluar dari kamar. Namun mami meminta seorang perawat untuk tetap berada disana untuk merawat Bintang secara intensif.
"Benar kan? Bintang pasti dalam keadaan baik-baik saja" ucap mami santai lalu keluar dari kamar Bintang, Erika mengikuti langkah mami.
"Terima kasih banyak atas perhatiannya nyonya" Erika membungkukkan badannya tanda hormat pada mami.
__ADS_1
"Itu adalah hal yang biasa aku lakukan pada Luna dan cucuku" Erika mengangguk tanda paham tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.
Jiraiya yang menunggu di ruang tamu tersenyum pada mami yang berjalan menghampirinya.
"Aku akan pergi sekarang, antar aku pulang" ucap mami, Jiraiya langsung mengangguk.
Mami memutar badannya, Erika berdiri dibelakang mami.
"Erika.." panggil mami memecah perhatian Erika yang daritadi masih agak kikuk.
"Y... ya nyonya..." jawab Erika.
"Biasakanlah mulai sekarang memanggilku dengan panggilan mami, minggu depan aku akan resmi menjadi ibumu"
Lagi-lagi Erika ternganga, mami dengan santai mendekati Erika.
"Jika kau butuh pelukan seorang ibu, datanglah padaku" bisik mami membuat Erika tersenyum haru.
"Tapi kau juga harus paham kalau aku adalah wanita sibuk yang mungkin saja hanya bisa memberikanmu pelukan virtual saat aku sedang bekerja" kata mami lagi tanpa berdosa sedikitpun.
❤️❤️❤️
"Kakak.." sambut Rara sambil tersenyum manis, ia segera menghampiri kakak tersayangnya dan mengaitkan tangan dilengan Rey.
Sudah lama rasanya Rara tidak bermanja dengan kakaknya, Rey mengusap rambut Rara tanda kasih sayangnya pada adik cantiknya itu.
"Apa kau lelah?" tanya Rey.
Rara menggeleng. Armando yang baru saja selesai memarkirkan mobil menghampiri Rara, namun mengurungkan niatnya karena tak mau mengganggu kemesraan kekasihnya itu dengan sang kakak.
Rara dan Rey berjalan bersama memasuki rumah.
"Kakak ingin secangkir teh hangat?" tanya Rara.
Rey mengangguk, Rara melepaskan tas yang menggantung di lengan kirinya dan segera menuju dapur. Tak beberapa lama Rara kembali dengan 2 cangkir teh. Setelah menaruh kedua cangkir tersebut diatas meja, Rara duduk disebelah Rey.
"Apa ada yang membuatmu tertarik saat melihat tempat pesta pernikahan mami?" tanya Rey sambil mengambil salah satu cangkir yang terdekat dengannya.
__ADS_1
Rara tersenyum malu-malu dan mengangguk pasti.
"Kau terlihat sangat bahagia" kata Rey lagi karena ia melihat senyum tak meninggalkan wajah adiknya sedikit pun.
"Disana sangat indah, ada dermaga dengan sebuah jembatan kecil berwarna putih. Lihat ini kak, aku mengambil beberapa gambar disana" Rara memperlihatkan gambar hasil jepretannya kepada Rey.
Rey melihatnya sambil mengangguk-angguk. Rey menyentuh ponsel Rara, ada sebuah foto yang menarik perhatiannya.
"Bukan ini yang membuatmu bahagia?" goda Rey.
Sebuah foto Rara bersama Armando, dengan gaya selfie dan saling menatap penuh cinta satu sama lain.
"Kakakkk...." Rara menarik ponselnya dengan wajah memerah.
Rey tertawa kecil melihat adiknya salah tingkah, Rara menaruh ponselnya ke dalam tas.
"Ini semua karena mu, kak" Rara menatap Rey dengan riang.
"Aku? Bagaimana bisa?" Rey agak terheran.
"Seingatku, aku tak pernah mengenalkanmu secara resmi dengan Armando. Apalagi menjodohkanmu dengannya" kata Rey lagi sembari berfikir.
"Bukan itu maksudku kak..." Rara kembali melingkarkan tangan dilengan kakaknya.
"... semua itu karena kak Rey yang telah menyelamatkanku, menerimaku sebagai adikmu dan memberikan kehidupan yang baik untukku sekarang.."
Kini Rara menaruh kepala dibahu Rey, ada rasa hangat yang Rara rasakan jika berada didekat kakaknya. Rey membelai lembut tangan Rara.
"Mana mungkin aku menyia-nyiakan saudara yang sejak dulu aku inginkan" kata Rey membuat Rara berkaca-kaca.
"Kau yang terbaik kak.... Kalau saja saat itu kau tidak menolongku, pasti aku saat ini sudah menjadi istri seorang pria tua yang menyebalkan" tutur Rara terlihat kesal.
"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi, aku sudah berjanji pada ayah akan menjagamu sampai kapanpun"
"Terima kasih kak, akupun akan selalu menyayangimu. Lebih dari apapun di dunia ini, semua yang ku miliki saat ini adalah karenamu kak. Aku sayang kau kak Rey"
Rara langsung berhambur kepelukan Rey. Tak pelak Rey menyambut pelukkan adiknya dengan tangan terbuka. Rara menitikan air mata mengingat semua hal yang telah terjadi padanya dan tidak pernah lupa bersyukur dengan segala hal yang sudah ia miliki sekarang.
__ADS_1
Saat Rara dan Rey sedang berpelukan penuh haru, tiba-tiba....
"Apa yang terjadi disini?" Luna tiba-tiba sudah ada didekat mereka, ia melipat tangannya dengan wajah sedikit kesal.