
Rara sudah diperbolehkan pulang, Luna turut menjemput Rara. Rey membereskan barang-barang Rara dan memeriksa agar tak ada yang tertinggal.
"Kau akan suka tempat tinggal barumu" ujar Rey sambil mengangkat barang bawaan miliknya dan Rara.
Rara mengangguk antusias, tak lama beberapa pengawal Luna datang dan membawakan barang yang dipegang oleh Rey.
"Siapa mereka? Sepertinya aku pernah melihat mereka sebelumnya" ujar Rara sambil memperhatikan pengawal yang baru saja berlalu.
"Mereka ikut membantuku untuk membebaskanmu kemarin" jawab Rey.
Luna, Rey dan Rara keluar dari ruangan itu dan hendak pulang. Mereka berjalan beriringan, Rey berada ditengah dengan Luna yang mengaitkan tangannya dilengan kanan Rey dan Rara yang mengaitkan tangannya di lengan kiri Rey.
"Hubby.. kau ingin makan siang apa?" Luna menarik tangan Rey agar lebih mendekat padanya.
Rara ikut terbawa ke arah kanan, ia melirik sebal ke arah Luna. Perdamaian kemarin hanya bersifat sementara saja.
"Emm aku ingin.." Rey baru akan mulai berpikir.
"Kak.. apakah boleh aku mencicipi masakan mu?" Rara menarik lengan Rey ke sebelah kiri, Rey menahan tubuhnya karena takut Luna ikut terbawa.
"Ya tentu saja" Rey menoleh ke Rara dengan tatapan ramah.
Giliran Luna yang melirik sinis ke arah Rara, Rey mulai merasa ada yang aneh. Ia melepaskan kedua kaitan wanita disampingnya, dan menggenggam mereka disela jemarinya.
"Aku berharap kita bisa makan siang dengan damai" ucap Rey sambil tersenyum.
Rey berjalan dengan wajah bahagia, Luna yang melihat Rey ikut tersenyum begitupun dengan Rara.
Saat akan masuk ke mobil masalah datang kembali, Rara tidak mau duduk didepan. Namun bila Rara duduk dibelakang bersama Luna dan Rey maka Luna tak akan leluasa untuk bermanja dengan suaminya.
"Baiklah, kalian duduklah bersama-sama dibelakang. Biar aku yang duduk didepan" Rey membukakan pintu belakang untuk Rara.
Dengan wajah kesal Rara masuk dan duduk bersama Luna, keduanya tak mau saling menoleh. Rey hanya tersenyum melihat semua itu. Rara melirik kepada Luna yang sibuk berbicara kata-kata manis pada si kembar.
"Apa itu tidak berat?" tanya Rara ragu, ia takut mendapatkan jawaban yang ketus dari Luna.
"Tidak.. ini sangat membuatku bahagia" Luna menoleh dan tersenyum senang dengan pertanyaan yang Rara berikan.
"Boleh aku menyentuhnya?" Rara bertanya lagi, kali ini ia penasaran dengan perut Luna yang membuncit.
"Ya tentu saja, mendekatlah. Kau pasti suka dengan mereka" ucap Luna, Rara tersenyum bahagia dan menggeser duduknya.
"Peganglah.." Luna mengarahkan perutnya ke arah Rara.
Dengan ragu, Rara menaruh tangannya diatas perut Luna. Perut Luna bergerak saat Rara menyentuhnya.
__ADS_1
"Ini sangat indah.." ujar Rara penuh haru.
"Mereka harta berhargaku, sama halnya seperti Rey. Dia juga sangat berharga untukku"
Rara mendesah kesal mendengar kata-kata Luna, ia menggeser kembali duduknya untuk menjauh.
"Kak Rey juga satu-satunya hartaku" ucap Rara tak mau kalah.
Luna tertawa kecil, ia mulai merasa persaingan ini lucu, namun hati kecilnya tetap tak akan rela berbagi Rey dengan siapapun. Rey menoleh ke belakang.
"Kalian berdua harta berharga untukku, akurlah.. karena aku akan bahagia bila kalian akur" ucap Rey, diiringi senyum tulusnya.
Rara dan Luna kompak mengangguk sambil tersenyum kepada Rey, namun saat pandangan mereka saling bertemu. Mereka terlihat seperti kedua orang yang bermusuhan.
♥️♥️♥️
Samuel sedang berada digaleri Yasmin, ia fitting kostum barunya disana. Semenjak menjadi istri Samuel, agensi Samuel mempercayai Yasmin yang mengurus semua style aktor ternama itu.
"Warna ini bagus untukmu" ucap Yasmin sambil mengambil dasi yang ada disebelah kirinya lalu ia memasangkan dasi itu pada Samuel.
Samuel menatap Yasmin tanpa berkedip.
"Kau cantik.." ucap Samuel, Yasmin melirik sebal kepada Samuel.
"Aku akan mencekikmu dengan dasi ini bila kau melakukannya lagi" kata Yasmin, wajahnya dihiasi senyuman membunuh.
"Hemm.. kenapa saat kau marah, kau malah terlihat lebih cantik dan menggoda?" ucap Samuel sambil mengelap bibir dengan ujung ibu jarinya.
Sekali lagi Yasmin melirik kepada Samuel kali ini sepertinya Yasmin mulai marah.
"Tuan Samuel yang tampan dan mempesona, hentikan tingkah lakumu itu. Atau aku akan berhenti menjadi desigermu saat ini juga!" ancam Yasmin dengan tatapan serius.
Samuel menarik pinggang Yasmin agar lebih mendekat padanya.
"Kau akan menciumku?" tantang Yasmin, karena biasanya bila sudah berdekatan Samuel selalu seenaknya.
"Kau menginginkannya?" ucap Samuel sambil tersenyum.
Yasmin memalingkan wajahnya dari Samuel, hatinya seperti tak ingin menolak namun pikirannya melayang kemana-mana membuatnya sulit menjawab pertanyaan Samuel.
"Tidak.." jawab Yasmin akhirnya dengan wajah santai.
"Namun kenapa hatimu bilang iya?" ucap Samuel, seketika wajah Yasmin memerah.
Apa dia mulai bisa membaca isi hatiku? Oh... tidaaaaak...
__ADS_1
Pekik Yasmin dalam hati, tapi ia berusaha menggeleng dengan tegas.
"Baiklah, jika kau tak mau. Kali ini aku tidak akan memaksamu" Samuel melepaskan tubuh Yasmin, Yasmin merasa aneh.
Tidak biasanya Samuel melepaskannya begitu saja bila tubuh mereka sudah dekat satu sama lain. Samuel membalik badannya dan membetulkan dasi yang baru dipakaikan oleh Yasmin.
"Ehem... " Yasmin sengaja berdehem dengan kecang.
Samuel menoleh.
"Kenapa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Aku belum merapihkan rambutmu" ucap Yasmin, ia mencoba menarik perhatian Samuel lagi.
Samuel menyeringai, ia menghadap kembali ke Yasmin.
"Duduklah disana, aku akan menyiapkan peralatannya untukmu" ucap Yasmin, ia terlihat agak gugup dan berusaha pergi.
Samuel menarik tangan Yasmin dan membalik tubuh mereka menjadi berhadapan.
"Kau mau meralat jawabanmu tadi?" Samuel menggoda Yasmin lagi.
Yasmin menunduk, namun pikiran dan hatinya tidak dapat menyatu dengan sempurna.
"Ya itu hal yang wajar... karena aku yakin, lama-lama kau tak akan tahan dengan suami yang memiliki karisma yang luar biasa seperti ku" Samuel membanggakan diri.
Yasmin tak percaya apa yang didengarnya, rasa gugupnya hilang mendengar kenarsisan Samuel.
"Karisma katamu? Hahaha apa kau bercanda? Sampai saat ini aku tak pernah sedikitpun melihat hal yang bisa membuatku jatuh cinta padamu!" Yasmin kesal dan langsung pergi, Samuel menarik tangannya lagi.
Buk...
Yasmin menendang tulang kering kaki Samuel dengan kencang, Samuel mengaduh. Yasmin langsung berlalu sambil menghela napas.
"Untunglah, kenarsisannya menyelamatkan ku dari hasrat aneh dalam diriku sendiri" ucap Yasmin.
Ponsel Yasmin berbunyi, Luna menelponnya. Yasmin tersenyum dan mengangkat telepon itu.
"Ya Luna.."
"Yasmin.. segeralah ke rumah sakit"
"Apa Rara dirawat lagi?" tanya Yasmin heran dengan suara Luna yang terdengar khawatir.
"Erika pingsan dan ia akan dioperasi untuk mengeluarkan anaknya"
__ADS_1