
"Kita bisa langsung ke sana, aku tahu dimana adikmu ditempatkan" ujar Bobby, Rey mengangguk setuju.
Luna menghela napasnya, ia hanya bisa mendukung apa yang dilakukan oleh Rey. Tak lama Rey sudah siap, Bobby terlihat sudah didekat pintu dengan wajah khawatir.
"Kita harus bergegas, ibu tirimu akan menikahkan adikmu dengan pria tua. Seorang rentenir yang sudah memberinya hutang besar, kemarin ayahmu gagal membayar hutang karena tertangkap jadi sekarang adikmu sedang dibawa paksa dari panti menuju tempat pernikahan!" ujar Bobby.
Rey sangat terkejut, ia mengangguk paham.
"Aku harus pergi sekarang, doakan aku agar bisa menyelamatkan adikku" kata Rey pada Luna, Luna memeluk Rey untuk memberinya kekuatan.
"Bawalah ia pulang segera"
Rey dan Bobby segera menuju mobil lalu langsung melaju ke tempat tujuan.
"Kau harus tenang Rey, sudah ada Armando yang sudah terlebih dahulu berangkat ke sana. Dia akan mengulur waktu sampai kita datang, urusan ayahmu nanti ayah Erika yang akan mengurus semuanya" kata Bobby menjelaskan.
Rey menatap Bobby penuh haru.
"Terima kasih Bobby, aku banyak berhutang budi padamu" ujar Rey sambil memegang lengan Bobby yang sedang menyetir disebelahnya.
"Kau membuatku geli dengan tatapan itu hahaha" Bobby masih sempat bercanda untuk mencairkan suasana yang terasa sangat mencekam.
Rey tersenyum kecut, kepalanya dipenuhi dengan perasaan khwatir. Walaupun gadis yang ia akan tolong bukan lah adik kandungnya namun mereka masih memiliki darah yang sama dari ayahnya.
"Aku belum pernah bertemu dengannya namun aku merasa sangat dekat dan merasa mengenalnya cukup lama" kata Rey mencurahkan isi hatinya.
"Wajar saja Rey, dia adikmu. Kalian berasal dari ayah yang sama, kau juga adalah orang yang baik. Jadi sudah sepantasnya kau merasa seperti itu" ujar Bobby, ia ingin membuat Rey lebih nyaman.
Bobby berhenti didepan hotel Luna. Rey heran.
"Ayo kita keluar, helikopter sudah menunggu di atas gedung ini" ujar Bobby sambil membuka sabuk pengaman.
Rey masih tak percaya, namun Bobby membukakan pintu mobil dan menarik Rey keluar.
"Bila kita ke sana naik mobil, maka besok pagi kita baru sampai disana. Cepatlah!" Bobby gemas melihat Rey yang masih terpana.
__ADS_1
Beberapa orang pengawal sudah menunggu mereka di depan hotel, lalu mereka segera menuju atas dan menaiki helikopter yang sudah disediakan oleh Jiraiya.
Helikopter terbang menuju tempat tujuan, pengawal yang bersama Armando menyiapkan sebuah tempat mendarat di lapangan yang cukup besar dikota itu. Rey dan Bobby langsung turun dan menaiki mobil menuju tempat ibu tiri Rey.
"Apa yang kau lakukan!! Kau membuang waktu kami! Disini akan dilakukan acara pernikahan yang sakral! Keluar!!!" bentak ibu tiri Rey kepada Armando yang sengaja membuat keonaran disana dengan membawa drumband masuk ke lokasi pernikahan.
Tak lama Rey sampai, ia langsung berlari menuju Armando. Para pengawal melakukan penjagaan agar tak ada yang berani menyentuh Rey
"Apalagi ini!!" seru ibu tiri Rey kesal.
Rey melihat adik tirinya yang sudah pucat sambil memegang dadanya, Rey langsung menggendong adiknya itu dan membawanya pergi.
"Ini uang untuk menebus gadis itu, anggap dia sudah kami beli dan jangan pernah berpikir untuk mengambilnya kembali" ujar Bobby sambil menyerahkan koper berisi uang pada ibu tiri Rey.
Para pengawal Luna termasuk Bobby langsung pergi dari tempat itu, adik tiri Rey pingsan. Petugas medis yang sudah disiapkan karena tahu kondisi adik Rey langsung memberikan alat bantu bernapas untuknya.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Rey gusar.
"Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisinya" ujar salah satu petugas medis.
"Aku tak akan membuatmu seperti ini lagi, aku janji" Rey menguatkan hatinya.
Ponsel Rey berbunyi Luna menelponnya karena khawatir.
"Aku sudah bersamanya sweety, semua aman terkendali" ujar Rey.
"Syukurlah, apakah dia baik-baik saja?"
"Dia pingsan. Maafkan aku, sepertinya kita akan tinggal bersamanya juga untuk kedepannya. Apa kau keberatan?"
"Tentu tidak hubby, namun sepertinya di apartemen ini agak sulit kita tinggal bersamanya. Kita akan membahasnya nanti"
"Ya baiklah, aku harus turun dari mobil menuju helikopter. Aku tutup dulu, nanti kita akan bertemu lagi. Terima kasih sweety, aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu hubby"
__ADS_1
Rey membantu petugas medis untuk memindahkan adiknya. Setelah sampai dikota tempat tinggal Rey, adiknya langsung dibawa ke rumah sakit. Rey memejamkan matanya, ia sudah berhasil menyelamatkan adiknya dari pernikahan paksa itu.
"Rey.. semuanya akan baik-baik saja. Ini makanlah" Bobby membawakan roti dan susu untuk Rey, tanpa mereka sadari sejak pagi mereka belum makan apapun.
Rey menerima roti dan susu yang Bobby berikan dan langsung memakannya, ia baru merasa lapar setelah adiknya mendapatkan penanganan.
"Aku tak tahu lagi bagaimana membalas semua kebaikan Luna padaku. Aku tak bisa meninggalkan adikku sendirian" ujar Rey sambil berpikir.
"Namanya Ramona, biasanya dipanggil Rara. Kau harus terbiasa memanggil dengan namanya" kata Bobby, ia hafal seluk beluk kehidupan keluarga Rey.
Rey tersenyum, ia menggigit lagi rotinya dan menghabiskan susunya.
"Ini lucu, kita sudah lama berteman. Namun wajah ayahmu pun aku tak pernah tahu dan kau setelah sekian lama masih mengingatnya" kata Bobby sambil tertawa kecil.
"Bagaimana mungkin aku lupa dengan ayahku? Walaupun dia pergi meninggalkan aku, namun ia pernah merawatku selama 5 tahun sampai aku siap masuk sekolah dasar. Aku yang selalu memandang wajahnya penuh harap sampai harapanku pupus. Itu tak akan bisa aku lupakan Bobby" mata Rey berkaca-kaca.
"Jangan bersedih, ayahmu sudah diberitahu tentang Rara dan ia menangis mengetahui kau yang menyelamatkan putrinya"
"Ya.. setidaknya aku masih bisa berharap lagi dia mengakuiku sebagai anaknya" kata Rey, air matanya menetes dan langsung diusap olehnya.
"Aku malu banyak menangis sejak kemarin" Rey tersenyum miris.
"Hahaha apa yang kau katakan? Kita sahabat Rey, kau boleh menangis dan tertawa bersamaku" Bobby menepuk bahu Rey pelan.
Tak lama dokter keluar dari ruangan pemeriksaan dan memanggil Rey untuk berbicara di ruangannya. Dokter menjelaskan kondisi adik Rey, Rey mengangguk-angguk paham. Setelah itu Rey keluar dari ruangan dokter.
"Dia baik-baik saja?" tanya Bobby penasaran.
Rey mengangguk.
"Dia butuh penanganan lebih lanjut, sebelumnya ia tak pernah diobati dengan serius oleh ayah atau pun ibu tiriku" ujar Rey sedih.
Rey dan Bobby menuju ruangan tempat Rara dirawat dan masuk ke dalam. Rara yang sudah sadar melihat Rey dan Bobby dengan tatapan bingung. Rey dan Bobby saling menatap, mereka heran dengan tatapan polos yang diberikan oleh Rara.
"Apa aku mengenal kalian?"
__ADS_1