
Sudah lebih dari sebulan Erika tak sadarkan diri, namun Bobby dan Jiraiya tak pernah lelah menjaganya. Erika dan Bintang sudah dibawa pulang ke rumah Jiraiya, agar mereka lebih mudah merawatnya. Bobby menyewa jasa baby sitter dan perawat untuk istri juga anaknya.
"Darling, apa kau masih terus mengantuk sampai tak juga memiliki keinginan untuk bangun? Aku sangat merindukanmu" ucap Bobby sambil mencium tangan Erika yang ada digenggamannya.
Bobby terkadang masih disibukan dengan beberapa misi dan kedai yang sudah mulai beroperasi kembali. Ia dan Rey memutuskan untuk menambah 2 orang pelayan karena kedai mulai ramai dengan pengunjung.
"Maaf tuan sudah waktunya nyonya dibersihkan" ucap perawat yang menjaga Erika.
Bobby melepaskan genggamannya, ia keluar dari kamar dan melihat Bintang dikamar sebelah.
"Maaf tuan saya harus pulang, ibu saya terjatuh dikamar mandi" ucap Baby sitter Bintang dengan wajah gusar.
Bobby mengangguk paham, baby sitter itu mengemas pakaiannya dan Bobby memberinya uang untuk pengobatan ibunya. Bobby mengantar baby sitter itu sampai ditaxi sambil menggendong bayi mungilnya.
"Sekarang biar ayah yang akan menjagamu" kata Bobby sambil mencium kening Bintang.
Bobby mengajak Bintang masuk kembali, perawat sudah selesai membersihkan tubuh Erika. Bobby membawa Bintang untuk menemui Bundanya.
"Lihat ini darling, anak kita semakin terlihat sehat. Dia pasti sangat ingin digendong oleh bundanya, apa kau juga merasakan hal yang sama?" tanya Bobby.
Bobby melihat Bintang gelisah, sepertinya ia p*p. Bobby membawanya keluar dari kamar untuk mengganti diapernya, tanpa Bobby sadari Erika meneteskan air mata namun saat perawat datang melihat kondisi Erika air mata itu sudah mulai mengering.
Ponsel Bobby berbunyi, ia sibuk mengurus Bintang dan pekerjaannya.
"Saya akan membantumu tuan" perawat menawarkan diri, Bobby mengangguk dan ia keluar dari kamar Bintang.
Setelah mengganti diaper Bintang, perawat itu keluar untuk membuang bekas diapernya lalu ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Bintang menangis kembali, namun tak ada yang mendengar tangisannya yang masih imut.
Erika membuka matanya, ia berjalan menuju asal suara tangisan bayinya. Erika langsung menggendong bayinya, ia mencoba menenangkan bayi yang sedang menangis itu.
"Bintang.. maafkan ayah. Ayah harus... "
Mata Bobby terbelalak, ia menjatuhkan ponsel yang ada digenggamannya melihat Erika menoleh kepadanya sambil menggendong Bintang dan tersenyum. Bobby memejamkan mata dan membukanya kembali, ia ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah mimpi.
"Honey.." Erika memanggil Bobby dengan wajah heran.
Tubuh Bobby lemas, ia terduduk dan menangis. Erika terkejut melihat ekspresi Bobby dan menghampirinya.
"Ada apa Honey? Kenapa kau menangis?" tanya Erika bingung, Bobby menatap Erika dengan lekat.
__ADS_1
"Kau sudah bangun darling? Ya Tuhan..." Bobby memeluk Erika.
"Apa yang terjadi honey?" Erika belum paham apa yang terjadi, karena Erika tak merasa tidur dalam waktu lama.
Bobby melepaskan pelukkannya dan memegang kedua pipi Erika.
"Jangan memelukku terlalu erat nanti bayinya bisa tertekan" ujar Erika.
Bobby masih terus menatap Erika penuh cinta, penantiannya selama satu bulan lebih terbayarkan dengan kesadaran Erika. Dan yang lebih membahagiakan Erika tidak terlihat seperti orang yang sakit.
"Aku senang kau sadar" ucap Bobby mencium kening istrinya.
"Sadar? Apa aku pingsan kemarin?" tanya Erika masih bingung.
"Letakan bayi itu diboxnya dan aku akan menceritakannya padamu"
Erika menuruti kata-kata suaminya, ia meletakan Bintang dengan hati-hati. Bobby mengajaknya bicara berdua dikamar Bintang, perlahan Bobby menceritakan apa yang menimpa Erika selama satu bulan lebih.
"Ya Tuhan... " Erika menutup mulutnya, Ia menyesali perbuatan cerobohnya.
"Maafkan aku honey, aku sudah membahayakan anak kita" Erika menangis sedih.
"Bintang? Itu nama anak kita?" tanya Erika, Bobby mengusap air mata Erika dan mengangguk.
"Apakah bayi yang aku gendong tadi adalah..." Erika tak sanggup meneruskan kata-katanya, ia menoleh ke arah Bintang yang baru saja ia taruh di box.
Erika berjalan mendekati box Bintang, ia mengusap kepala bayinya sambil meneteskan air mata. Bobby memeluk Erika dari belakang.
"Terima kasih honey sudah menjaga dan merawat aku serta anak kita dengan baik selama ini" Erika membalik badannya dan memeluk Bobby dengan erat.
♥️♥️♥️
Mami gusar melihat Armando terus berada dirumahnya, ia pun melakukan protes pada Luna.
"Apa yang kau pikirkan Luna?! Kenapa pengawal itu tidak kau suruh pergi dari sini!" ujar mami.
"Siapa maksud mami?" Luna menjawab dengan santai sambil mengurus kedua buah hatinya.
"Siapa lagi kalau bukan si Armadillo itu?" mami mendengus kesal.
__ADS_1
"Armando maksud mami?" Luna menahan tawanya.
"Ya apapun namanya, mami tidak suka dia disini. Dia sering menggoda Rara dan mencuri pandang padanya" diam-diam ternyata mami juga memperhatikan ketertarikan Armando pada Rara.
"Lalu apa masalahnya mi? Armando dan Rara sama-sama masih single, tak ada salahnya mereka memiliki ketertarikan satu sama lain kan" ucap Luna enteng membuat mami mengernyitkan keningnya.
"Apa kau sengaja ingin mendekatkan mereka berdua?" mami mulai curiga.
"Kalau ya, mami akan melarangku?" tantang Luna, mami menatap tajam ke arah Luna.
"Kau tahu mami ingin menjodohkan Rara dengan Ben, pria itu lebih pantas bersama Rara"
"Mi... jangaan memaksakan kehendakmu pada Rara, kasian dia. Kita juga harus tahu bagaimana perasaan Rara yang sebenarnya, kita tidak boleh menentukan masa depan Rara begitu saja" Luna mengingatkan mami.
Mami menghela nafas, ia tak mau hubungannya dengan Rara menjadi tak baik seperti hubungannya dengan Luna.
"Lagi pula apa buruknya Armando?" tanya Luna penasaran.
"Mami tak suka padanya, karena dia dengan seenaknya membawa Rara ke kantor polisi dan membahayakan jantung Rara. Kau tahu itu semua bisa berakibat fatal untuk Rara!" Mami keluar dari kamar si kembar dengan marah, Luna hanya tersenyum.
Luna tahu pada waktunya mami harus menerima kalau yang dihati Rara adalah Armando, bukan Ben.
Rara sedang berada di balkon kamarnya, ia melihat ke bawah. Ada Armando sedang duduk sambil membaca buku, ia selalu dalam kondisi siap didekat mobil Luna karena kapan saja Luna bisa membutuhkannya.
Rara melempar sebuah kancing besar yang ada ditangannya ke arah Armando. Armando terkejut dan melihat ke arah kancing itu berasal.
"Haii..." Rara melambaikan tangannya kepada Armando, Armando tak berani membalas ia hanya tersenyum tipis kepada Rara.
"Tolong bawakan kancing itu ke sini" teriak Rara.
Armando terkejut dengan permintaan Rara, namun bila Rara berteriak lagi maka semua orang yang ada dirumah mami akan mendengarnya.
"Apa itu?" tiba-tiba Rey ada dibelakang Armando, ia baru saja pulang dari kedai.
Armando menunjukan kancing yang dilempar Rara.
"Bukankah itu milik Rara? Biar aku yang mengembalikan padanya" ucap Rey lalu mengambil kancing dari tangan Armando.
"Baik tuan"
__ADS_1
Rey berjalan masuk, ia mengetuk kamar Rara. Rara membuka pintu dengan wajah sumringah, namun wajahnya berubah saat tahu yang mengetuk dan membawakan kancingnya bukan Armando.