
Samuel segera keluar dan mengejar Bobby.
"Aku serius akan menikahinya, bisakah aku meminta bantuanmu?" teriak Samuel, Bobby menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.
"Bersiaplah karena ini akan membuatmu harus sedikit menurunkan harga dirimu" ujar Bobby membuat Samuel bergidik namun ia mengangguk yakin.
"Baiklah, besok aku akan menghubungi mu" ujar Bobby lalu masuk ke mobilnya dan pergi.
Samuel menghela napas lega, ia merasa mengambil keputusan yang benar dalam hidupnya.
"Sekarang aku harus bicara pada mami dan papi mengenai rencanaku ini" pikirnya.
Samuel segera masuk ke mobilnya dan pulang. Sesampainya dirumah ia bertemu dengan Anne yang juga baru pulang bekerja.
"Kak Sam sudah selesai syuting?" tanya Anne heran, namun Samuel tidak mempedulikannya.
Samuel langsung masuk dan menemui mami papinya yang sudah berada didalam kamar. Samuel menceritakan tentang apa yang terjadi hingga keinginannya untuk menikahi Yasmin.
"Yasmin? Bukan kah wanita itu sahabat Luna kekasihmu?" mami Samuel terkejut bukan main.
Samuel mengangguk pelan, ia menunduk menyesali perbuatannya. Mami dan papinya menghela napas panjang, mereka saling tatap. Mami sudah paham apa yang ada dibenak papi Samuel.
"Kami kecewa dengan apa yang kau lakukan Sam, namun mami senang kau mau bertanggung jawab atas semua ini. Segera kau lamar dia dengan baik dan tentukan tanggal pernikahan sebelum perutnya bertambah besar" ujar mami Samuel.
Samuel menoleh ke papinya, papi mengangguk setuju ucapan mami.
♥️♥️♥️
Rey baru saja sampai di restauran bersama Bobby. Samuel sudah menunggu mereka di depan restauran, Rey langsung menghampiri Samuel dan memeluknya.
"Kau melakukan hal yang benar Sam" ujar Rey sambil melepas pelukannya.
Samuel masih terlihat tidak suka pada Rey.
"Tak perlu berlebihan, cepat katakan padaku apa yang harus aku lakukan" ucap Samuel dengan nada malas.
"Melakukan apa?" tanya Rey bingung.
"Apa Bobby tak mengatakan apapun padamu?" Samuel heran dan mendengus kesal.
Rey menggeleng.
"Ia hanya mengatakan kau ingin bertemu denganku, itu saja"
Samuel menepuk dahinya. Ia pun menceritakan pada Rey maksud dan tujuannya menemui Rey pagi itu. Rey mengangguk-angguk.
"Nona Yasmin suka dengan sesuatu yang manis dan sederhana namun tidak murahan, pasti dia lebih menyukai ketulusan hatimu dibandingkan dengan hadiah dengan harga mahal" Rey memberi saran.
__ADS_1
"Contohnya seperti apa? Semua yang ku berikan pada Luna dulu adalah sesuatu yang berkelas dan mewah" kata Samuel menyombongkan diri membuat Rey menghela napasnya.
"Ajak nona Yasmin pergi berdua, bawa ia ketempat yang ia sukai misalnya kedai kue yang menyediakan kue cherry yang enak atau kau beri ia kejutan dengan memberikannya setangkai bunga setiap hari sebagai tanda cinta"
Samuel menganggukkan kepalanya.
"Sederhana sekali cara berpikirmu, Luna dan Yasmin tergila-gila dengan pria yang sama sekali tak berpikir tentang uang dan kemewahan. Aku tak tahu hal itu bisa menjadi sebuah pesona yang hebat untuk seorang pria" puji Samuel tanpa sadar, Rey hanya tersenyum.
"Cobalah dengan caramu sendiri, bila tidak berhasil aku akan membantumu dengan cara yang lain" ucap Rey senang bisa membantu Samuel.
"Ya ya ya baiklah, aku sudah tidak butuh bantuanmu" ujar Samuel lalu masuk ke mobilnya dan berlalu.
Rey masuk ke dapur dengan perasaan gembira.
"Apa kau memberi saran atau yang lainnya pada aktor itu?" tanya Bobby sambil tertawa senang.
Rey mengangguk.
"Bagaimana persiapan Erika untuk membuka toko kuenya?" tanya Rey bersemangat.
"Baru sekitar 20 %, ayah membantu semua hal yang ia butuhkan dan aku seperti tidak dibutuhkan" kata Bobby lemas, Rey tertawa.
"Bukan tidak dibutuhkan tapi memang belum saatnya kau diperlukan" hibur Rey.
Bobby tersenyum menyeringai sambil mengangguk-angguk. Di tempat lain, Samuel memulai rencananya. Ia datang ke galeri Yasmin.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Yasmin judes.
Yasmin melihat heran ke Samuel.
"Aku sudah menerima bungamu ini, sekarang kau bisa pergi" usir Yasmin sambil memalingkan wajahnya dari Samuel.
"Menikahlah denganku Yasmin" kata Samuel datar.
"Begitukah cara seorang pria mengajak menikah?" tanya Yasmin kesal.
"Apakah kau mau aku membawa kedua orang tuaku ke sini untuk melamarmu?" tantang Samuel.
"Kau tak akan berani!" Yasmin balik menantang.
"Papi dan mami sudah tahu tentang kita, mereka sudah setuju dan pasti mau melamarmu untukku"
Mata Yasmin membulat, ia tak percaya dengan apa yang Samuel katakan.
"Apa kau serius?" tanya Yasmin ragu.
Samuel mengangguk pasti.
__ADS_1
"Semuanya sudah aku hadapi untuk menikah denganmu, dan mengenai karirku... eemm aku serahkan semua pada Tuhan" kata Samuel sedikit menyombongkan diri.
Yasmin melirik kesal pada Samuel yang tetap saja terlihat angkuh dimatanya.
"Aku tidak berminat menikah dengan pria yang tidak mencintaiku!" Yasmin mencari alasan lain untuk menolak Samuel.
Samuel memutar otaknya.
"Bagaimana aku harus membuktikan cintaku? Apa aku harus meracuni seseorang?" sindir Samuel membuat Yasmin melotot.
"Kita menikah agar bisa membesarkan anak itu bersama-sama. Cinta diantara kita akan tumbuh seiring berjalannya waktu" Samuel meniru dialognya yang ada di drama.
"Aku tak percaya kau bisa mengatakan hal itu saat sedang tidak berakting" ledek Yasmin tepat sasaran.
Samuel gelagapan, ia tersenyum malu.
"Sudahlah Sam, pergi dan jangan membuatku muak dengan kata-kata pernikahan"
"Aku akan menunggumu diluar sampai kau mau menikah denganku"
"Diluar sangat panas kau tak akan tahan kulit halusmu itu terpapar sinar matahari" ujar Yasmin meremehkan Samuel.
Samuel keluar dari ruangan Yasmin dan ia menunggu Yasmin didepan galerinya. Ia menggunakan kacamata hitam dan masker agar tidak ada yang mengenalinya.
"Nona tuan yang tadi siang masih menunggu diluar" kata salah seorang pegawai Yasmin, saat hari mulai petang.
"Biarkan saja, dia hanya mencari perhatian" ujar Yasmin acuh.
"Tapi nona dari siang tadi tuang itu tidak makan dan minum apapun"
Yasmin menoleh pada pegawainya.
"Apa kau mau aku keluar dan menyuapinya?" Yasmin menjadi kesal.
Tiba-tiba turun hujan, Yasmin terkejut. Ia keluar dari ruangannya, Samuel terlihat menggigil diluar sana.
"Menyusahkan saja!" gerutu Yasmin.
Para pegawai Yasmin melihat Samuel dari balik kaca galeri sambil berbisik-bisik. Yasmin tak suka melihatnya. Ia mengambil payung dan keluar.
"Apa kau sudah gila!" maki Yasmin.
Samuel menoleh ke Yasmin, ia membuka masker dan kacamatanya lalu tersenyum dan jatuh pingsan di bahu Yasmin.
"Jangan pingsan, heiii heii..."
Yasmin menoleh ke arah galeri namun para pegawainyaa sudah tidak ada entah kemana.
__ADS_1
"Iya iyaaa baiklaaah aku akan menikah denganmu" seru Yasmin sambil menggoyangkan badan Samuel.
Bobby dan Rey yang ada di atap galeri Yasmin bertepuk tangan sambil tertawa puas, ternyata hujan itu adalah buatan mereka.