
Erika menatap Bobby dengan heran.
"Aku tidak akan memberitahumu!" ujar Bobby sambil mencibir Erika.
"Iya iya aku tahu" Erika cemberut, bukan salah Bobby bila tidak bisa mempercayainya lagi bila berhubungan dengan Rey.
"Jangan terlalu keras padanya" Rey mengingatkan Bobby.
"Kami sudah sepakat mengenai hal ini dan Erika harus paham batasannya" Bobby berkata dengan serius.
"Jangan membahasnya terus, lama-lama aku menjadi kesal" Erika meninggalkan Rey dan Bobby.
"Kau membuatnya marah" ujar Rey Ia meneruskan masakan yang ditinggalkan Erika.
Bobby hanya mengangkat kedua bahunya lalu ia keluar dari dapur melewati pintu belakang dapur lalu pergi.
♥️♥️♥️
Keesokan harinya, Luna sedang meeting dengan koleganya membicarakan kerja sama pembukaan hotel baru di negara KS. Ia berencana untuk ke sana meninjau lokasi hotelnya.
"Siapkan keberangkatan ku ke sana minggu depan, siapkan juga untuk suamiku. Aku ingin honeymoon ke sana bersamanya" ucap Luna dengan wajah memerah.
Jiraiya mengangguk paham, ia mengeluarkan ponselnya.
"Nona, nyonya besar ingin bertemu anda nanti siang"
"Bertemu mami? Ada apa lagi ini? Firasatku kurang baik" Luna menerka-nerka apa yang terjadi.
"Apa mami bertemu Samuel?" tanya Luna, Jiraiya mengangguk.
"Br****k pasti dia mulai menghasut mami lagi, Samuel memang harus diberi pelajaran!!" Luna geram.
"Saya sudah menghubungi Bobby untuk menyelesaikannya"
"Baiklah, aku akan bersiap bertemu mami" Luna membereskan file-file yang ada dimejanya dan mengambil tasnya.
"Armando sudah menunggu anda di depan lobby hotel nona"
__ADS_1
Luna mengangguk lalu keluar dari ruangannya menuju lobby hotel dan naik ke mobil yang disiapkan Jiraiya.
"Tetap dalam kondisi waspada selama di rumah mami Armando" pesan Luna, supir itu mengangguk.
Semua supir yang direkrut oleh Jiraiya untuk Luna dan hotel memiliki kemampuan khusus seperti bela diri dan membaca keadaan. Ada beberapa juga yang merupakan mata-mata khusus, seperti halnya Bobby. Mereka dilatih ditempat khusus untuk dapat memecahkan sebuah masalah bukan masalah seputar Luna dan hotel bahkan negara.
Hal ini yang tidak dimiliki oleh pengawal-pengawal mami. Mereka rata-rata berbadan besar dan hanya memiliki kemampuan sebagai pelindung saja.
Luna sampai dirumah mami, ada Samuel disana.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Luna ketus pada Samuel.
"Kau masih saja seperti dulu, suka membuatku gemas dengan wajah judesmu itu" ucap Samuel sambil tersenyum meledek.
"Cih.. Ada apa ini mami? Kenapa kau kembali berpaling dariku dan mendukung Sam?" wajah Luna mulai kesal, apalagi Samuel melihatnya dengan tatapan yang sangat menjijikan.
"Tunggulah sebentar Luna, mami memiliki beberapa saksi dan bukti untuk membuktikan suamimu itu tidak lain hanyalah seorang penipu"
Pengawal mami membawa keluar dua orang yang Luna merasa tak asing pada mereka.
"Bukankah mereka..." Luna menggantung kata-katanya dan matanya terbelalak melihat dua orang mabuk yang hampir menyerangnya.
"Cepat katakan padanya apa yang sebenarnya terjadi" desak Samuel, ia tersenyum menyeringai.
Luna melihat dengan serius kedua orang itu, mereka berdua terlihat ketakutan.
"Kami... kami dibayar dan dipaksa untuk berkata bahwa tuan penolongmu yang telah menyuruh kami untuk sengaja menyerangmu. Kami bersumpah, saat itu adalah waktu yang tidak disengaja. Tidak ada yang membayar kami!" ucap salah satu pria meyakinkan Luna.
"Apa maksudmu?" Luna bingung dengan pernyataan pria itu.
"Tuan itu mendatangi kami dan memberikan kami sejumlah uang untuk menyalahkan penolongmu" ujar pria itu sambil menunjuk Samuel.
Luna melirik kesal kepada Samuel, Samuel terlihat sangat gugup. Mami juga melirik Samuel.
"Apa!!! Kalian ingin menjebakku!! Itu tidak benar mi, pria itu memfitnah ku" seru Samuel berkilah, wajahnya dipenuhi keringat.
"Kami bersumpah nona, pria itu mendatangi kami dan memberikan sejumlah uang. Ini ceknya, kami belum mencairkannya" Pria itu memperlihatkan sebuah cek, pengawal mami mengambilnya dan memberikannya kepada mami.
__ADS_1
Mami melihat cek itu dan melirik lagi kepada Samuel, mami mulai memainkan jari-jarinya. Luna sangat mengenal maminya, bila maminya sudah muak ia akan memainkan jari-jarinya. Luna hanya menunggu reaksi maminya.
"Mi, itu semua tidak benar. Mami harus percaya padaku! Heii katakan yang sebenarnya!!" Samuel mulai menghampiri kedua pria itu dan melotot.
"Lihat ini nyonya, pria ini ingin mengintimidasi kami dengan tatapannya" salah satu pria mengadu.
Mami menghela napasnya, Luna mulai tersenyum melihat ekspresi maminya.
"Berikan bukti lainnya Sam" kata mami dengan nada yang sedikit kesal.
"Ini lihatkah, ini adalah video yang diberikan oleh pengawal mami kemarin"
Samuel memberikan ponselnya kepada Luna, ada video tuan George sedang mengatakan bahwa ia bekerja sama dengan Rey untuk menculik Luna. Mata Luna terbelalak.
Ponsel Luna berbunyi, tuan George melakukan panggilan video. Dengan malas Luna mengangkatnya.
"Luna aku harus bicara denganmu, video yang kau lihat tadi atau nanti hanyalah bualanku. Aku menculikmu karena aku benar-benar tergila-gila padamu" ucap tuan George sambil duduk di kursi kerjanya.
Luna memberikan ponselnya kepada mami, tuan George terkejut melihat mami Luna. Ia sangat menghormatinya.
"Maafkan aku Lauren, aku hanya bercanda soal video itu hehehe. Pria yang menghajarku itu sudah mematahkan hidungku, kau lihat ini? Mana mungkin aku bekerja sama dengan pria itu. Aktor tampan itu datang ke kantorku menawarkan kerja sama, dia akan menjadi modelku secara cuma-cuma bila aku mau menuruti keinginannya. Tapi kini aku rela membayarnya demi kerja sama yang jujur antara perusahaan ku dengan hotelmu" ucap Tuan George.
Wajah mami semakin kesal.
"Terima kasih banyak George, kau akan berurusan denganku nanti karena telah menculik putri ku" ucap mami membuat wajah tuan George gugup.
Mami menutup panggilan itu, ia menoleh ke arah Samuel. Wajah Samuel memerah, ia sangat ketakutan.
"Pulanglah Sam, kau cukup membuatku pusing dengan segala muslihatmu saat ini" ucap mami masih dengan suara datar kepada Samuel.
"Mi, mereka menjebakku.." Samuel masih membela diri.
"Cukup Sam!!! Pergilah, aku mulai muak dengan permainan mu!" usir mami, lalu mami beranjak dari singgasananya dan berjalan masuk ke kamar.
Luna menahan tawa melihat ekspresi Samuel yang putus asa meyakinkan mami. Samuel memaki kedua pria itu lalu mengambil kembali ceknya. Saat ia hendak keluar dan melewati Luna.
"Bila kau masih memiliki rencana busuk untuk menjatuhkan suamiku, maka hanya mempermalukan dirimu sendiri Sam" Kata Luna meledek.
__ADS_1
Samuel tidak menggubris kata-kata Luna, ia tetap berjalan keluar. Saat ia menuju mobilnya, ada Bobby sedang berdiri tepat disamping mobilnya.
"Apakah kau benar-benar merindukanku tuan tampan? Sepertinya aku terlalu baik padamu akhir-akhir ini"