Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Menikah Denganmu


__ADS_3

Yasmin menoleh ke arah Luna dengan tatapan malas.


"Ya ya ya aku paham pasti kalian semua sudah tahu siapa ayah dari bayi ini" ujarnya kesal.


"Maafkan aku Yasmin, tapi aku sudah menyelesaikan urusan ini dengan Samuel" kata Luna yang tadi sempat keceplosan.


"Jangan sebut namanya atau aku akan berubah pikiran untuk mempertahankan bayi ini" Yasmin terlihat jijik mendengar Luna menyebut nama Samuel.


"Baiklah baiklah... mulai hari ini kita tidak akan membicarakannya lagi" ucap Luna sambil menangkupkan kedua tangannya ke arah Yasmin.


"Untuk kali ini aku maafkan, lain kali aku akan memukulmu bila mengambil keputusan mengenai hidupku tanpa ijin dariku" Yasmin menyuap buah yang diberikan oleh Melisa.


"Apa kau tidak ingin menikahi ayah dari bayimu itu?" tanya Rey ragu namun ia harus menanyakannya.


"Lebih baik aku mati daripada harus menikah dengannya!" Yasmin berkata dengan ketus.


Rey dan Luna menahan rasa ingin tertawa melihat wajah Yasmin yang sangat benci pada Samuel.


"Jadi kau akan membesarkan anak itu sendiri?" Luna menjadi ikut penasaran, Yasmin terdiam dan menghela napas panjang.


"Aku pun belum tahu apa yang akan aku lakukan dengan bayi ini, aku belum merasakan apapun atas kehadirannya bahkan aku membencinya" kata Yasmin berkaca-kaca.


Luna berjalan cepat menghampiri Yasmin.


"Dengan berjalannya waktu kau pasti akan menyayanginya, aku dan Rey akan menjadi ibu dan ayah angkat untuknya. Kami akan membantumu merawatnya" hibur Luna sambil memegang jemari Yasmin.


"Kau berjanji?"


Luna mengangguk dengan yakin. Yasmin tersenyum lalu memeluk Luna erat.


♥️♥️♥️


Pagi itu Rey sampai di restauran bersama Bobby setelah kemarin menjalani hari yang cukup panjang.


"Waah selamat datang kacamata.." sapa Erika dengan wajah senang, namun ia melirik sebal kepada Bobby.


"Haii Erika, ini ada oleh-oleh dari Luna untuk kau dan teman-teman yang lain" ujar Rey sambil memberikan bingkisan kepada Erika.


"Terima kasih banyak" Erika menerimanya dengan gembira.

__ADS_1


"Mana ciuman selamat pagi untukku honey?" Bobby mendekatkan dirinya kepada Erika.


Erika menolaknya dengan kasar.


"Jangan mendekat padaku!!" seru Erika dengan kesal.


"Apa salahku honey?" Bobby bertanya tanpa rasa bersalah.


"Apa salahmu?!! Ya Tuhan... sepertinya kekesalan ku ini tidak ada artinya untukmu!" Erika menepuk keningnya pelan.


"Maafkan aku honey. Aku tak bisa menghubungi mu saat bekerja, aku bisa tak fokus saat melihat wajahmu dan mendengar suaramu yang indah itu" goda Bobby sambil tersenyum manis, membuat Erika menahan senyumnya.


"Jangan merayuku!" Erika berjalan menjauhi Bobby dan seperti biasa Bobby mengikutinya.


Rey tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Kak Rey? Kau sudah mulai masuk hari ini?" sapa Anne yang baru datang, ia menghampiri Rey dengan wajah sumringah.


"Hai Anne, apa kabar? Ya mulai hari ini aku akan bekerja lagi. Waah rasanya rindu dengan tempat ini" ucap Rey sambil melihat sekeliling dapur.


"Kabarku baik kak, aku sudah mahir membuat beberapa resep disini. Kak Erika sangat baik dan mengajariku dengan sabar selama beberapa hari ini" Ujar Anne bangga.


"Syukurlah" Rey tersenyum senang.


"Kalian sudah berbaikan?" tanya Rey, melihat keduanya sudah kembali kompak.


"Tak ada gunanya aku marah padanya!" jawab Erika sambil melirik ke arah Bobby yang terlihat tersenyum senang.


"Erika terlalu mencintaiku, mana mungkin dia bisa marah kepadaku lama-lama" Bobby tersenyum lebar sambil melirik usil kepada Erika.


Erika malas menanggapi ucapan Bobby, ia hanya diam saja dan memasak bersama Rey dan Anne. Pegawai lainnya datang dan Erika membagikan oleh-oleh yang dibawakan oleh Rey, semuanya gembira menerimanya.


"Ayo kita pulang.." Ajak Bobby kepada Erika, ia sudah selesai mengantar Rey ke apartemen.


Wajah Erika terlihat cemberut.


"Ada apa?" Bobby menstandarkan motornya dan menghampiri Erika yang berdiri didekatnya.


Erika memanyunkan bibirnya sambil menggeleng. Bobby mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Kalau kau diam saja aku tidak bisa tahu apa yang membuatmu kesal, honey" ujar Bobby yang terlihat lelah malam itu.


Erika masih diam dan menggeleng sekali lagi.


Bobby mulai frustasi.


"Ayolah honey kita bicara dengan bahasa manusia biasa, jangan membuatku menerka-nerka apa yang kau inginkan"


"Apa dengan aku diam kau merasa aku seperti tumbuhan?" akhirnya Erika berbicara dengan nada kesal.


"Hahaha bukan begitu honey, tapi kau bisa mengatakan apapun padaku. Aku tidak bisa membaca apa pikiranmu" ucap Bobby sambil terkekeh.


Erika menghela napas panjang.


"Bagaimana dengan rencana pernikahan kita?" tanya Erika dengan suara pelan, ia seperti takut dengan reaksi yang akan diberikan Bobby.


"Tentu saja akan berjalan sesuai rencana" ucap Bobby santai.


Sekali lagi Erika menghela napasnya melihat Bobby yang seperti menggampangkan rencana itu.


"Tapi sampai saat ini belum ada persiapan apapun yang kita lakukan... Seperti mencari gaun pengantin, memesan kartu undangan dan lainnya. Bahkan kau tidak memberitahuku kapan kita akan menikah, kau hanya mengatakan kita akan menikah secepatnya. Ini sudah 2 bulan semenjak kau melamarku" Erika mengeluarkan isi hatinya, kali ini Bobby yang terdiam.


Bobby berjongkok disebelah Erika sambil berpikir.


"Sejujurnya aku belum pernah berpikir bahwa persiapan menikah akan sejauh itu" Bobby tersenyum lebar.


"Bahkan saat membantu nona dan Rey menikah aku hanya sibuk dihari pernikahan saja" sambungnya sambil menunduk malu.


Erika melihat ke arah Bobby, kekasihnya itu adalah pria yang sangat profesional dalam bekerja bahkan ia mengesampingkan semua yang berurusan dengan kehidupan pribadinya.


"Maafkan aku darling, aku seperti tidak bisa memahami posisimu saat ini" Erika ikut berjongkok dan memegang lengan Bobby, ia merasa bersalah.


"Tidak perlu minta maaf honey, sudah seharusnya kau mengingatkan aku mengenai pernikahan kita. Aku juga tidak mau tuan Jiraiya yang menanyakan hal itu padaku, karena aku pasti gugup menjawabnya" Bobby tersenyum miris.


"Aku hanya ingin kita segera menikah, agar aku bisa bertemu denganmu setiap hari dan menjagamu dengan baik. Melihat dan mendengar kesibukanmu yang begitu padat rasanya hatiku sangat sakit" ucap Erika sedih, matanya berkaca-kaca, Bobby mendekatkan dirinya pada Erika dan memeluknya.


"Maafkan aku honey, sepertinya aku terlalu membuatmu tertekan dengan pekerjaanku ini"


"Tidak darling, aku tidak bermaksud seperti itu. Ayahku mengatakan pekerjaan kalian adalah pekerjaan yang keren dan membutuhkan konsentrasi tinggi, aku sangat takut mengganggumu namun aku frustasi karena kau tak kunjung membicarakan persiapan pernikahan. Aku takut kau berubah pikiran bila aku terlalu rewel kepadamu saat aku terus-menerus menghubungimu" ujar Erika, air matanya menetes.

__ADS_1


Bobby tersenyum sambil menatap Erika dengan tatapan sendu.


"Kau adalah wanitaku yang sangat ku cintai. Bagaimana bila kita menikah minggu depan?"


__ADS_2