
Bobby tersenyum ke arah Samuel, Samuel sangat ketakutan melihat Bobby. Bobby berjalan mendekati Samuel, ia memegang bahu Samuel sambil tersenyum. Tentu saja senyuman itu terasa sangat menakutkan untuk Samuel.
"Sejujurnya aku tak pernah melepaskan orang yang mengusik ketentraman hidup nona dan tuan mudaku" bisik Bobby membuat Samuel bergidik.
"Apa hari ini kau ada syuting tuan tampan?" Bobby memegang kerah kemeja yang dikenakan Samuel, membereskannya karena terlihat berantakan.
Samuel menatap Bobby dengan gemetar. Bobby berjalan memutari Samuel, ia memang berniat untuk iseng kepada Samuel.
"Ini kesempatan terakhirmu untuk mengganggu nona dan tuanku, bila sekali lagi kau melakukannya maka aku tak segan-segan akan membuat wajahmu yang tampan itu menjadi penyok" bisik Bobby lagi, Samuel buang air kecil dicelananya mendengar kata-kata Bobby.
"Iya aku mengerti" kata Samuel, suaranya bergetar.
"Aku akan menghitung sampai tiga, bila kau tidak pergi aku akan memukulmu. Satu...!"
Samuel lari dan langsung masuk ke mobilnya, ia menyalakan mobilnya dan segera pergi. Bobby tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Sudah cukup, itu sudah cukup membuatnya jera" Luna berkata sambil melewati Bobby, Bobby menghentikan tawanya dan merubah wajahnya menjadi serius didepan Luna.
"Baik nona" jawab Bobby tegas.
♥️♥️♥️
Luna sampai diapartemen malam itu, Rey sudah sampai disana. Ia sedang membuat teh hangat untuknya dan Luna.
"Kau sudah pulang hubby, aku sangat lelah hari ini" Luna langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
"Aku baru sampai lalu mencuci tangan dan wajahku setelah itu aku membuat teh untuk berjaga-jaga bila kau pulang" kata Rey sambil menghampiri Luna dengan membawa dua cangkir teh.
"Siang ini aku ke rumah mami, lalu kembali lagi ke hotel. Aku menunda meetingku hingga akhirnya selesai sampai malam" keluh Luna ia meraih tangan Rey yang berada didekatnya dan telah menaruh cangkir dimeja.
"Apa kau mau mandi? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu" kata Rey sambil mencium jemari Luna.
"Kau akan mandi bersama ku?" Rey menggeleng, ia sedang kurang enak badan.
"Maafkan aku sweety, sepertinya tubuhku kurang fit malam ini. Aku ingin menikmati teh ini bersamamu dan istirahat"
Luna duduk lalu meminta Rey duduk didepannya.
"Aku akan memijatmu, putar badanmu" Rey mengikuti arahan Luna, tubuhnya membelakangi Luna.
Luna memijat bahu Rey perlahan-lahan. Rey merenggangkan kepalanya, tangan Luna naik memijat kepala Rey.
"Terima kasih sweety" Rey sekali lagi mencium jemari Luna.
__ADS_1
Luna mengecup kening Rey. Ia mengambil teh yang dibuatkan Rey lalu memberikannya pada Rey dan mengambil satu lagi untuknya.
"Minggu depan kita akan honeymoon ke negara KS hubby" kata Luna enteng.
Rey hampir saja menumpahkan tehnya karena kaget.
"Honeymoon?"
"Iya hubby, selama ini kita belum pernah bulan madu. Aku ingin merasakan bulan madu seperti orang lain" rengek Luna.
"Bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Aku sudah meminta Jiraiya mengurus semuanya, akan ada koki restauran yang akan membantu James dan Erika memasak selama kita honeymoon" ucap Luna sambil tersenyum.
"Begitukah? Aku merasa tidak enak dengan hal itu" Rey mulai berpikir.
"Kita hanya pergi selama 3 hari hubby, setelah itu kita akan kembali lagi. Sebenarnya ini sekaligus menjadi kunjungan kerja ku kesana melihat proyek hotel terbaruku di negera itu"
"Sebelumnya aku belum pernah naik pesawat sweety, aku juga tidak memiliki paspor untuk ke luar negeri"
"Kau tak perlu khawatir hubby, semuanya sudah diurus oleh Jiraiya, kita akan menggunakan jet pribadiku ke sana. Kita tidak akan duduk bersama orang lain"
Rey hanya mengangguk, baginya percuma bila harus berdebat dengan Luna karena ia pasti tidak akan segera luluh saat Luna merengek kepadanya. Ia juga sangat mencintai istrinya itu.
"Aku tahu kau akan mengikuti semua keinginanku" Luna membalas senyuman Rey.
"Apakah kau akan membawa para pengawal ke sana?"
"Bobby akan ikut bersama kita bersama dua orang lainnya. Kau tahu banyak orang yang mengicarku saat ini, aku tak mau mengambil resiko saat berada di luar negeri"
Rey mengangguk-angguk, ia tahu bahwa saingan bisnis Luna yang ingin mencelakakan dan memiliki dirinya.
"Kau terlalu cantik sweety, wajar saja semua orang ingin memiliki mu" Rey duduk disamping Luna dan memeluknya.
"Bukan hanya itu hubby, bahkan diantara mereka banyak yang bisa mengancam nyawaku"
Setelah mengantar Rey, Bobby kembali ke restauran untuk menjemput Erika.
"Apakah tuan Jiraiya sudah pulang jam segini?" tanya Bobby, karena jam sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Sepertinya ayah sudah tidur" jawab Erika singkat, ia menambah erat pelukannya saat berboncengan motor dengan Bobby.
"Apa terasa dingin?" Bobby memegang tangan Erika dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Ya aku merasa angin malam terlalu menusuk ke badanku malam ini" jawab Erika sambil menutupi wajahnya dengan bahu Bobby.
"Besok aku akan mengantarkan mu dengan mobil" ujar Bobby sambil mempercepat laju motornya.
Tak lama mereka sampai di rumah Jiraiya, rumah model minimalis dengan atap tinggi dan bercat warna putih bersih. Jiraiya keluar rumah saat mendengar suara motor Bobby.
"Masuklah dulu" ujar Jiraiya kepada Bobby.
Bobby memarkirkan motornya dan mengikuti permintaan Jiraiya untuk masuk.
"Duduklah, Erika masuklah ke dalam dan ganti pakaian mu" ucap Jiraiya, Erika masuk ke dalam kamarnya menuruti perintah ayahnya.
Bobby duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah Jiraiya, ia tak asing dengan rumah itu karena sempat tinggal disana hanya saja bangunan itu sudah banyak di renovasi.
"Apakah ada masalah lagi tuan?" tanya Bobby heran.
"Bila yang kau tanyakan berhubungan dengan nona dan tuan muda, untuk saat ini situasi sedang aman. Kau berhasil membalikkan keadaan tadi siang"
"Terima kasih tuan, semua karena kau mengajarkanku dan memberi kepercayaan penuh kepadaku"
"Namun lain kali tetap berhati-hati, aku dengar lenganmu terluka karena berkelahi dengan dua pria pemabuk itu"
Bobby memegang lengannya, ia menggeleng.
"Ini bukan apa-apa tuan, keselamatan nona dan tuan muda adalah keutamaan bagi saya"
Jiraiya tersenyum senang, Bobby memiliki tanggung jawab yang besar atas pekerjaannya.
"Apakah kau dan Erika sudah kembali menjalin hubungan?" Bobby tidak terkejut Jiraiya dapat mengetahui kebohongan Erika.
"Kami sudah kembali bersama tuan, maafkan saya yang sempat meninggalkannya"
"Dia masih terlalu muda untuk paham apa yang ia lakukan. Kau harus bisa membimbingnya dengan baik" Ujar Jiraiya sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Aku bersyukur kau adalah pria yang bersama dengan putriku" sambungnya.
Bobby hanya diam, hampir saja dia benar-benar meninggalkan Erika.
"Bagaimana rencana hubungan kalian ke depannya?"
"Maksud tuan?"
"Apa kau siap untuk menikahi putriku?"
__ADS_1