
Yasmin menggetarkan tubuhnya seakan membayangkan bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada Samuel, seorang pria yang ia benci namun sudah menjadi suaminya.
"Menakutkan tapi bisa saja terjadi Yasmin" Luna meledek lagi.
"Jangan mengatakan hal yang tidak perlu, huhh untuk memikirkannya saja aku merinding" ucap Yasmin sambil memegang kedua lengannya.
Luna dan Rey tertawa, mereka sangat puas meledek Yasmin.
"Bisakah kalian berhenti melakukan hal itu? Aku benar-benar takut hal itu terjadi" ujar Yasmin sambil melotot.
"Sudah waktunya kau membuka hati untuk suamimu" ujar Rey, Yasmin seperti tak terima dengan kata-kata Rey.
"Tidak akan pernah walaupun hanya dalam mimpi!" Ujar Yasmin sewot.
Luna memainkan ponselnya, tiba-tiba matanya membulat.
"Lihat ini..." ujar Luna sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Yasmin, mata Yasmin membesar saat melihat sesuatu yang Luna tunjukan padanya.
"Wah.. sepertinya suamimu ini adalah aktor yang sangat profesional dalam hal seperti ini" ucap Luna sambil terkekeh.
"Tentu saja kau tahu, kau juga pernah merasakan sensasi berciuman dengannya kan?" Yasmin bertambah sewot, karena yang Luna tunjukan adalah adegan drama Samuel dimana Samuel bercumbu mesra dengan lawan mainnya.
Luna mendengus kesal namun ia memiliki jawabannya sendiri.
"Ya kau benar, tapi aku sudah lupa karena ciuman suamiku lebih hebat" Luna membanggakan Rey dan duduk dipangkuan suaminya.
"Baiklah aku kalah.." ucap Yasmin, ia mengambil alat untuk mengukur tubuh Luna dengan kasar.
Ada suatu hal yang mengganjal pikirannya, sesuatu yang membuatnya menjadi kesal terus menerus.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa aku merasa kau sedang marah" tanya Luna, ia sebenarnya tahu apa alasannya namun hanya ingin memastikan saja.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit lapar" jawab Yasmin sekenanya.
Ponsel Yasmin berbunyi, Samuel menelponnya karena ia sudah sampai di apartemen dan tidak menemukan Sheryl.
"Sheryl sedang di galeri bersamaku, kenapa?" Yasmin berkata dengan sangat ketus.
"Baiklah, aku akan menjemput kalian disana. Aku sangat merindukan Sheryl" ucap Samuel santai, ia biasa saja dengan sikap judes Yasmin karena sudah menjadi makanannya pagi siang juga sore.
"Tidak! Tidak perlu, lebih baik kau syuting saja dan berciuman yang banyak dengan lawan mainmu itu!"
Klep...
__ADS_1
Yasmin menutup telepon dengan kesal, Luna dan Rey saling menatap. Mereka menahan tawa.
"Apa??" Yasmin menoleh ke arah Luna dan Rey dengan tatapan sebal.
"Emm.. hubby, apa aku mencium sesuatu?" ujar Luna sambil mencium baju suaminya.
"Bau? Bau apa?" Rey mengangkat tangannya dan mencoba mencium aroma tubuhnya.
"Bau.... Bau... yang sangat menyengat" ujar Luna lagi.
Yasmin memicingkan matanya ke arah Luna, ia curiga dengan sesuatu yang ada dipikiran sahabatnya itu.
"Aku tidak mencium apapun" Rey menjadi bingung, ia tak paham maksud Luna.
"Tapi aku mencium bau hati yang terbakar cemburu... Hahahahahahhaa" Luna tertawa puas, Rey tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang meledek sahabatnya.
Yasmin hendak memukul Luna, namun ia mengurungkan niatnya dan hanya melirik kesal.
"Cemburu apa? Aku tak punya sedikitpun alasan untuk cemburu padanya!" Yasmin bertambah sewot.
"Oh benarkah? Tapi kenapa baunya sangat jelas ya.." Luna meledek lagi.
"Kau ini benar-benar.... Aah... ya Tuhan..." Yasmin kali ini yang mendengus kesal, ia kehabisan kata-kata untuk berkilah.
"Kalian benar-benar sangat serasi, apa hanya aku yang merasa terintimidasi saat ini? Yang benar saja.." kata Yasmin, ia mengarahkan pandangannya ke arah lain.
♥️♥️♥️
Sementara itu, Samuel bersiap menjemput Yasmin dan Sheryl di galeri. Ia bercermin sambil memuji dirinya sendiri.
"Ya Tuhan siapa itu? Iya kau, kau sangat tampan dan menawan.. Bagaimana bisa ada pria yang sempurna sepertimu?" Samuel berkata pada dirinya sendiri di cermin.
Tiba-tiba Samuel terdiam dan duduk disofa.
"Ya benar, aku sangat tampan. Tetapi kenapa Yasmin tidak mau melihatku sebagai suaminya yang sempurna? Apa aku harus memaksanya mencintaiku? Ahh... tidak tidak itu hanya akan membuatnya semakin membenciku seperti Luna dulu. Apa aku sudah benar-benar mencintai Yasmin?" Hati Samuel berkecamuk, ia seperti banyak berpikir mengenai pernikahannya dengan Yasmin.
"Cinta... Apa aku bisa mencintai lagi setelah tak bisa memiliki Luna....? Aku bahkan tak pernah berpikir menikah dengan seseorang selain Luna tapi saat ini aku menikah dengan sahabat dari wanita yang aku cintai"
Samuel menatap foto Yasmin yang terpampang didinding. Ia memperhatikan dengan seksama wajah wanita yang kini menjadi istrinya.
"Tidak buruk, selain bicaranya yang ketus semua yang ada didirinya mendekati sempurna seperti Luna" Puji Samuel.
Samuel mendekati foto itu, ia menyentuh bagian pipi dan bergerak ke arah bibir Yasmin. Tanpa sengaja ciuman itu terbersit di benak Samuel.
__ADS_1
"Ya Tuhan... Apa itu?" Samuel terkejut, itu adalah sebuah perasaan yang tidak ia rasakan pada Luna.
Bahkan setelah putus, yang ada dipikiran Samuel hanya ingin kembali pada Luna karena ia ingin reputasinya bagus. Membayangkan bagaimana mereka bersama, sepertinya hampir tidak pernah. Ia hanya terobsesi dengan Luna yang cantik dan kaya.
"Bagaimana bisa aku membayangkan ciuman itu?" pikir Samuel, hatinya benar-benar tak karuan.
Samuel ingin memastikan perasaannya, ia segera keluar dari apartemen dan menuju parkiran. Setelahnya itu ia melajukan mobilnya menuju galeri Yasmin.
"Terima kasih Yasmin, aku dan Rey akan pulang. Hubungi aku bila gaunku sudah selesai ya.." ucap Luna.
Ia bergandengan tangan dengan Rey keluar dari ruangan Yasmin, mereka bertemu Samuel yang baru datang.
"Luna?" Samuel melihat Luna dengan tatapan heran.
"Kenapa?" Luna menjawab ketus.
"Sedang apa kau disini?"
"Aku? Oh hanya mengukur baju" jawab Luna singkat.
"Kau ingin menjemput Yasmin Sam?" tanya Rey.
"Ya.."
Samuel langsung masuk ke galeri Yasmin, Yasmin sedang mencatat semua ukuran baru Luna dibuku hariannya. Sheryl sedang tidur diruangan lain. Samuel masuk ke ruangan Yasmin.
"Kenapa kau ke sini? Aku sudah bilang tak perlu menjemputku!" ucap Yasmin ketus, ia terlihat tak suka melihat kedatangan Samuel.
"Tentu saja aku ingin melihat Sheryl, aku sudah bilang bahwa aku merindukannya" Samuel menjawab santai, ia duduk di kursi yang ada di depan meja Yasmin.
"Sheryl ada diruangan sebelah, kau bisa bertemu dengannya disana" jawab Yasmin, ia kembali sibuk dengan buku hariannya.
"Emm ada yang ingin aku katakan padamu.."
"Ya katakan saja.." ucap Yasmin tanpa menoleh, ia malas menanggapi Samuel.
"Sepertinya aku benar-benar menyukaimu" kata Samuel, ia berusaha jujur pada Yasmin.
Yasmin menoleh ke arah Samuel seakan tak percaya.
"Apa pendengaran ku sudah tidak beres?"
"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Dan mulai hari ini aku akan berusaha untuk mendapatkan cintamu"
__ADS_1