Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Tentang Perasaan


__ADS_3

"Saya akan membawa kedua orang tua saya untuk datang melamar Erika bulan depan tuan" Jawab Bobby yakin.


"Hahahaha syukurlah, awalnya aku ragu kau akan menikahi anakku secepat ini" Jiaraiya tertawa membuat Bobby tersenyum.


"Bersiaplah Bobby, aku akan segera pensiun dan kau akan menggantikan posisiku saat ini" kata Jiraiya tiba-tiba, Bobby mengerutkan alisnya.


"Mengapa begitu mendadak tuan?" tanya Bobby heran.


"Kau dan Erika akan menikah dan aku ingin menikmati masa tuaku sambil bermain bersama cucuku. Belajarlah dengan cepat agar aku bisa segera pensiun"


"Saya merasa masih sangat jauh dari kemampuan yang tuan miliki" ucap Bobby sambil menunduk.


"Jangan membuatku marah dengan kata-kata mu itu, aku sudah mengajarkan hampir semua hal yang aku punya. Bahkan saat pelatihan kau ditempa lebih berat dibandingkan aku"


"Saya berharap tuan masih akan menjadi orang yang selalu mengawasi saya"


"Tentu saja aku akan mengawasimu, kau adalah calon suami anakku dan calon ayah dari cucu-cucuku. Bila tidak ku awasi kau bisa bertindak seenakmu seperti dulu!"


Bobby tertawa kecil, Jiraiya memang sangat mengenal Bobby. Walaupun Bobby terkenal akan kelihaiannya dalam memecahkan masalah namun sering kali ia mengabaikan keselamatannya sendiri. Hal itu selalu menjadi bahan evaluasi Jiraiya selama bertahun-tahun.


"Apa yang ayah bicarakan dengan Bobby?" tanya Erika saat keluar dari kamarnya dan duduk di sebelah Bobby, ia masih agak canggung dengan Jiraiya.


"Sesuatu tentangmu, ayah meminta Bobby untuk mengikatmu agar kau tidak melakukan kesalahan seperti kemarin"


Erika cemberut, ia menatap kesal ke arah Bobby.


"Kau mengadu apa kepada ayah?" katanya dengan nada sebal.


Bobby hanya tersenyum, Jiraiya mengelus rambut Erika.


"Apa kau ingin ayah memarahinya dan memintanya untuk pergi?" goda Jiraiya membuat mata Erika melotot.


"Jangan ayah, aku tak mau kehilangan Bobby" Erika memegang lengan Bobby dengan posesif.


Jiraiya tertawa.


"Duduklah disini, ayah mau bicara"


Jiraiya mengarahkan Erika untuk duduk disebelahnya. Erika menoleh ke Bobby, Bobby mengangguk. Lalu Erika berdiri dan berjalan ke arah Jiraiya.


"Duduklah" Erika duduk disebelahnya dan Jiraiya merangkulnya.


"Kau lihat pria didepanmu itu.. Perhatikan dia baik-baik, apakah kau benar-benar mau seumur hidupmu dengannya?"

__ADS_1


Erika mengikuti kata-kata Jiraiya dan menoleh ke arah Bobby, ia melihat Bobby dari atas ke bawah sebanyak tiga kali.


"Tidak ada sesuatu yang bisa aku jadikan alasan menolaknya ayah, dia tampan dan baik hati" ucap Erika jujur membuat Bobby tersipu malu.


"Coba lihat lagi... Kau harus meyakinkan dirimu bahwa dia adalah satu-satunya pria yang terbaik untukmu" Jiraiya mengatakannya lagi.


Sekali lagi Erika melihat ke arah Bobby, kali ini ia memperhatikan wajah Bobby dengan seksama.


"Ayah.. apa kau sedang menggodaku sekarang?" Erika mulai paham jika ayahnya sedang mengerjainya.


Jiraiya tertawa lepas, ia mengelus rambut putrinya.


"Ayah hanya ingin kau benar-benar yakin dengan pilihanmu. Jangan setengah-setengah lalu ragu, kau akan bernasib sial seperti ayah nanti" ujar Jiraiya dengan nada sedih mengingat mendiang Grace.


"Tidak ayah, ibu selalu membicarakan kebaikanmu walaupun hanya itu-itu saja" ucap Erika menggenggam tangan ayahnya.


Bobby senang melihat Erika dan ayahnya mulai saling terbuka.


"Baiklah tuan, malam semakin larut saya pamit pulang" ucap Bobby.


"Tunggu.."


Jiraiya membisikan sesuatu yang telinga Erika, setelahnya mereka saling tatap wajah Erika terlihat ragu namun Jiraiya meyakinkannya akhirnya Erika tersenyum dan mengangguk.


Bobby membungkukkan badannya kepada Jiraiya lalu ia keluar mengikuti Erika.


"Hati-hatilah dijalan" pesan Erika sambil mengaitkan tangannya ke lengan Bobby.


"Ya aku akan selalu berhati-hati, aku akan menelponmu bila sudah sampai nanti"


"Aku menunggu telponmu honey" ucap Erika tersenyum manis.


Bobby membalas senyuman Erika, saat Bobby akan memakai helmnya.


"Lihat wanita itu, dia sangat cantik" Tiba-tiba Erika berseru dengan wajah yang terkejut.


"Tidak ada wanita yang lebih cantik darimu darling" jawab Bobby cepat tanpa menoleh kemana pun.


Erika cemberut melihat reaksi Bobby.


"Kenapa kau tidak menoleh sedikit pun!"


"Apa sebaiknya aku melihat wanita itu?" tanya Bobby sambil tersenyum usil.

__ADS_1


Erika menggeleng.


"Aku senang kau tidak menoleh sebenarnya, kata ayah tadi bila kau menoleh itu artinya kau akan berpaling bila ada wanita yang lebih cantik dariku" Erika menunduk malu-malu.


"Buat apa melakukan hal itu? Aku tidak ingin melihat wanita yang lainnya lagi, kau saja sudah sangat cantik" kata Bobby membuat wajah Erika memerah.


"Kau itu sangat gombal" Erika memukul lengan Bobby pelan.


"Aww.." pekik Bobby, wajah Erika berubah menjadi khawatir.


"Ada apa dengan lenganmu?"


"Hanya sedikit tergores, aku sudah mengobatinya. Kau tak perlu khawatir darling" ucap Bobby menenangkan Erika.


"Apakah kau habis berkelahi?"


"Ini bukan perkelahian, ini adalah bagian dari pekerjaan ku" Bobby tersenyum membuat Erika bertambah khawatir.


"Apakah pekerjaanmu sangat berbahaya?" tanya Erika ragu.


"Pekerjaan ku dan ayahmu sama, kau bisa bertanya kepadanya. Tapi sudahlah kau tak perlu risau, aku sudah bekerja pada nona muda selama tujuh tahun dan aku baik-baik saja sampai saat ini. Luka gores tidak akan membunuhku"


"Tetaplah berhati-hati" Erika mengingatkan Bobby sambil melotot.


"Iya honey tenanglah"


♥️♥️♥️


"Kau itu sangat bodoh Sam!! Bagaimana bisa kau gagal dua kali" seru Yasmin kesal saat mendapatkan telpon dari Samuel mengenai rencananya yang gagal dua kali untuk memisahkan Rey dan Luna.


"Mami sudah tidak berpihak padaku dan aku sudah mencobanya dua kali, tapi kau? Kau diam saja menunggu rencanamu berhasil!" hardik Samuel.


"Aku sudah pernah mencobanya, tapi Luna malah membuatku jijik dengan mencium Rey didepanku! Sudahlah, kau memang tidak bisa diandalkan! Seharusnya kau selalu memperhitungkan keberadaan Bobby setelah kau berkali-kali gagal karena ulahnya"


"Dia sangat gesit seperti belut, kau harus berhati-hati padanya"


"Kau benar-benar tak bisa diajak kerja sama karena kecerobohan mu itu pasti saat ini mereka sedang berada dalam situasi siaga selalu"


Yasmin menutup telponnya, ia memikirkan cara memisahkan Rey dan Luna. Ia sudah terlalu tergila-gila kepada Rey.


"Bobby?? Heemmm, bukankah dia pernah tergila-gila padaku?" pikir Yasmin yang pernah dengan kejam menolak cinta Bobby.


Yasmin memang seorang wanita yang sangat pemilih, dia tidak segan-segan menganiaya hati pria-pria tidak tahu malu yang mengejarnya. Karena Bobby hanya seorang pengawal Luna maka saat itu Yasmin dengan sengaja mengatakan hal-hal jahat mengenai status yang membuat Bobby tak lagi mengejarnya.

__ADS_1


"Aku harus melenyapkannya terlebih dahulu sebelum bisa melakukan hal-hal lainnya, lalu orang-orang suruhanku bisa melakukan pekerjaan mereka dengan baik"


__ADS_2