Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Menyelamatkan Samuel


__ADS_3

"Lalu jika itu bukan kau, siapa yang menculik Samuel?" Luna menjadi panik sungguhan.


"Entahlah, aku akan segera mengatasinya" ujar Bobby.


Luna memutus telpon, lalu ia menghubungi Rey dan menceritakan apa yang terjadi.


"Serahkan semuanya pada Bobby sweety, bukankah dia sudah sering mengatasi masalah semacam ini?"


"Ya kau benar, hanya saja aku takut penculik itu menyakiti Samuel dan membuat Yasmin menjadi sedih" Luna menjadi gusar.


"Tenangkan dirimu, dan minta Bobby memberikan kabar terupdate mengenai Samuel" Usul Rey yang tengah sibuk di kedai kopi.


"Baiklah, aku tutup telponnya Hubby"


Luna menutup telpon dan mengirimkan pesan singkat kepada Bobby, Bobby hanya menjawab dengan kata 'Oke'.


♥️♥️♥️


Yasmin tiba di lokasi yang diberikan oleh Gio, namun Yasmin tak melihat pria itu dimanapun. Pelan-pelan Yasmin mendekati tempat itu, ia sengaja menggunakan sepatu kets dan baju casual agar ia mudah bergerak.


"Jangan merasa bangga pada ketenaranmu Samuel! Kau akan mati ditanganku!" ucap Seorang pria didalam tempat itu, membuat bulu kuduk Yasmin berdiri.


Apa yang mereka lakukan pada Sam? Ya Tuhan bila dia mati maka aku akan menjadi seorang janda dan Sheryl tidak akan bisa bertemu dengan papinya lagi...


Pekik Yasmin dalam hati, namun ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Yasmin berusaha mengintip, ia melihat Samuel diikat disebuah kursi kayu dan beberapa bagian wajahnya membiru.


"Nona.." Bobby tiba-tiba berada di belakang Yasmin.


"Bobby?" Yasmin heran karena Bobby datang seorang diri.


"Apa tuan Samuel didalam?" tanya Bobby sambil menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan.


Yasmin mengangguk dengan wajah khawatir.


"Baiklah begini rencananya, aku akan masuk lalu menghajar para pencuri itu dan kau segera buka ikatan tuan Samuel dan membawanya pergi dari sini. Kau paham?" kata Bobby dengan wajah serius.


"Iya aku paham" kata Yasmin yakin, Bobby mengangguk.


"Dalam hitungan tiga. Satu.. dua.. tiga..."

__ADS_1


Bobby segera berlari ke arah penculik berada di depan Samuel, Yasmin berlari menyusup untuk melepaskan ikatan Samuel. Namun ia merasa kasihan ada Bobby yang dikeroyok oleh penculik lainnya.


"Nona cepat selamatkan tuan Samuel, jangan perdulikan aku!" Seru Bobby menyadarkan lamunan Yasmin.


Yasmin membuka ikatan tangan Samuel, ia menaruh tangan kiri Samuel dibahunya dan memapah Samuel keluar. Yasmin ingin menuju mobilnya namun ada seorang tak ia kenal sedang memperhatikan mobil itu, Yasmin berpikir itu pasti salah satu dari penculik.


Ia membawa Samuel keluar dan mencari taxi.


"Ayo cepat taxi... lewatlaaaah.." gumam Yasmin dengan nada panik, Samuel masih terlihat lemas.


"Sam.. bertahanlah.." pekik Yasmin sambil menggoyang badan Samuel.


Sebuah taxi melintas, Yasmin segera menghentikannya dan membawa Samuel masuk ke dalam. Taxi itu melaju membawa Yasmin dan Samuel. Ponsel Yasmin berdering, Luna menelponnya.


"Yasmin, bagaimana Sam? Bobby sudah datang kesana?" Luna bertanya dengan nada khawatir.


"Dia sudah bersamaku Luna, tadi aku meninggalkan Bobby ditempat mereka menyekap Samuel"


"Semoga Bobby baik-baik saja" ucap Luna bertambah khawatir.


"Aku akan membawa Sam pulang, kami sudah perjalanan menuju apartemen"


"Oke, berhati-hati lah"


"Sam.. Bangun.." Yasmin menepuk pipi Samuel pelan.


Samuel membuka matanya perlahan, lalu tertutup lagi. Yasmin menjadi bertambah panik. Seketika Yasmin tersadar, supir taxi melaju tanpa ia beritahu arahnya.


"Ini menuju kemana?" pikir Yasmin heran.


Taxi berhenti di hotel Luna, Yasmin mulai merasa ada yang janggal.


"Apa kau sedang mengerjaiku Sam?" Yasmin menoleh ke arah Samuel dengan wajah curiga.


Samuel masih terdiam, seorang pria membuka pintu taxi untuk Yasmin. Yasmin keluar seorang diri dan ia diarahkan berjalan ke ballroom yang memang sering dipakai untuk sebuah acara. Sedangkan Samuel sudah menghilang entah kemana.


"Apa-apaan ini?" ujar Yasmin bingung bercampur kesal.


"Yasmin.." Luna baru sampai di hotel langsung menghampiri Yasmin.

__ADS_1


"Mana Samuel?" tanya Luna sambil berjalan cepat ke arah Yasmin, ia tetap berhati-hati karena sedang hamil.


Yasmin menatap penuh tanda tanya, apakah Luna merupakan bagian dari semua ini.


"Kau membantunya bersandiwara, Luna?" tanya Yasmin dengan nada marah.


Luna menggeleng.


"Penculikan ini benar, Bobby mengatakan bukan dia yang menculik Sam. Aku diberitahu olehnya untuk ke hotel.. emm ini aneh" Luna mulai berpikir.


Luna dan Yasmin saling menatap, sepertinya mereka berdua menjadi korban dalam rencana Bobby.


"Apa aku juga dikerjai oleh Bobby?" ujar Luna sambil bertolak pinggang.


"Kau juga? Apa maksud semua ini?" Yasmin melihat sekitar Ballroom, tak ada apapun disana hanya sebuah layar berwarna hitam.


Luna juga heran melihat layar itu, tiba-tiba layar itu menyala. Wajah Samuel tertera disana, wajahnya sudah bersih dan berganti pakaian.


"Apakah ini sudah on?" Samuel terdengar mulai bicara, ia masih terlihat bingung.


Yasmin dan Luna memperhatikan layar itu dengan seksama. Dua orang pria membawa kursi untuk Luna dan Yasmin duduk, mereka langsung mendudukinya.


"Haii Yasmin, Luna. Maaf aku tak berani bicara langsung dengan kalian berdua. Pertama aku ingin mengucapkan maaf untukmu Luna, aku pernah menyakitimu begitu dalam hanya karena keegoisanku untuk mendapatkan sebuah peran. Dulu yang ada dipikiranku hanyalah ingin cepat menjadi terkenal dan aku sangat menyesalinya saat ini. Aku mohon maafkan aku.." ucap Samuel agak terbata-bata.


Luna mengangguk, ia sudah lama memaafkan Samuel.


"Jujur saja aku tak bisa hidup dengan tenang bersama Yasmin apabila masih ada hal yang mengganjal denganmu. Dan aku baru memiliki keberanian untuk mengatakannya.. terima kasih sudah mengangguk dan memaafkan aku Luna. Kau wanita yang baik dan Rey pria yang lebih pantas mendampingimu"


Samuel seperti menahan tangis, ia banyak mendongak ke atas. Luna dan Yasmin saling berpegangan.


".. dan Yasmin. Mohon maaf atas kesalahanku yang sempat tak mau bertanggung jawab atas kehamilanmu saat itu. Tak ada hal yang lebih aku sesali daripadaa keputusan itu. Saat ini sangat bersyukur memiliki Sheryl diantara kita, kebahagiaan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu, ya walaupun kau selalu menolak untuk ku sentuh" Samuel sedikit tersenyum sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.


Samuel keluar dari tempat persembunyiannya, dilayar terlihat wajah Luna dan Yasmin. Luna segera menyingkir.


Samuel menghampiri Yasmin dengan sebuket bunga Lily berwarna putih, ia berjalan perlahan.


"Yasmin, aku sangat mencintaimu. Terimalah aku sebagai suamimu seutuhnya" Samuel menatap Yasmin penuh harap sambil tersenyum.


Plak...

__ADS_1


Tamparan mendarat dipipi Samuel, Yasmin yang melakukannya. Air mata Yasmin mengalir dengan deras.


"Bagaimana bisa kau berpura-pura dalam bahaya dan membuatku ketakutan setengah mati seperti itu?"


__ADS_2