
Yasmin melepaskan pelukkannya dan ingin memukul Samuel, namun Anne menghentikannya.
"Kak Sam benar, aku memang terlalu egois. James mungkin mulai bosan dengan tingkah manjaku" Anne memegang tangan Yasmin sambil menunduk.
"Anne.." Yasmin menatap Anne dengan sedih.
"Sebaiknya kita pulang, kau butuh istirahat" Yasmin merangkul Anne dan mengajaknya masuk ke mobil, Anne mengikuti permintaan Yasmin.
Setelah sampai dirumah, Anne langsung diajak Yasmin masuk kedalam kamar. Mami terlihat khawatir, sedangkan papi masih berada diperusahaannya.
"Tenanglah mi" ucap Samuel santai, ia duduk diruang tamu.
Mami hanya mondar mandir menunggu Yasmin kembali dari kamar Anne. Saat Yasmin keluar dari kamar Anne, mami langsung menghampirinya.
"Yasmin, kenapa Anne sedih sekali?" tanya mami, Yasmin tersenyum dan memeluk mami Samuel.
"Anne tidak apa-apa mi, dia hanya lelah dan butuh istirahat" ucap Yasmin menenangkan mami.
"Benarkah?" mami seolah tak percaya.
"Iya mi, percayalah padaku. Persiapan pernikahan membuatnya sedikit stress" kata Yasmin, mami mulai paham lalu mengangguk paham.
"Baiklah, mami akan ke kamar dulu. Kepala mami agak pusing" ujar mami lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Yasmin menghampiri Samuel.
"Apa kau sudah ingin pulang?" tanya Samuel seolah tak ada yang terjadi.
Yasmin menatap penuh penasaran kepada Samuel.
"Hemm.. ada hal yang ingin aku tanyakan padamu" kata Yasmin lalu duduk disamping Samuel.
"Kau ingin tahu bagaimana aku bisa mengetahui dimana Anne berada?" tebak Samuel, Yasmin mengangguk dengan cepat.
"Aku tidak sengaja melihatnya beberapa kali di tempat itu, jadi aku hanya berspekulasi bahwa setiap dia bersedih ia akan kesana" ucap Samuel enteng.
Yasmin tersenyum, ia senang melihat Samuel terlihat sedikit memperhatikan Anne.
"Terima kasih Sam, sudah membantuku menemukannya"
Yasmin memeluk Samuel dengan perasaan senang.
♥️♥️♥️
Rara sedang berada didapur, ia ingin membuat pancake untuk Armando. Kemarin ia pergi ke minimarket untuk membeli beberapa persiapan.
"Nona.. biar saya saja yang mengerjakannya" ujar salah satu pelayan yang ketakutan bila mami melihat Rara sibuk didapur sendirian.
"Tidak apa-apa bik, aku sudah minta izin pada mami. Tolong tinggalkan aku sendiri ya" kata Rara dengan senyum manisnya.
Pelayan itu hanya bisa mengikuti keinginan Rara, Luna yang baru keluar dari kamar Avior dan Alioth heran melihat Rara sibuk didapur.
__ADS_1
"Kau sedang apa?"tanya Luna sambil melihat beberapa bahan yang ada dimeja dapur.
"Emm.. aku ingin membuat sesuatu untuknya" jawab Rara malu-malu.
"Untuk Armando?" Luna bertanya dengan santai, Rara mengangguk pelan.
"Buatlah makanan ini dengan segenap perasaanmu agar Armando menjadi senang. Tapi jgn terlalu lama, nanti siang kita akan pergi ke studio foto untuk pemotretan Avior dan Alioth. Setelah itu kita akan mencari gaun yang bagus untukmu pergi ke pernikahan Anne dan James" tutur Luna, ia mengambil buah apel dan berjalan memasuki kamarnya.
Rara mengangguk paham, ia kembali sibuk menuangkan tepung dan bahan lainnya. Rara sudah mulai berkeringat, ia bolak balik melihat ponselnya untuk memastikan cara yang ia gunakan benar.
"Telur lalu gula halus.." Rara memecahkan telur perlahan, namun tiba-tiba kuncirannya terlepas.
Rambut panjang Rara menjadi terurai.
"Aduh..." Rara kebingungan karena tangannya cukup kotor untuk menguncir rambutnya kembali.
"Kau perlu bantuan nona?" Armando ada dibelakang Rara dengan senyuman manisnya.
Rara terkejut melihat sang kekasih yang sedang melihatnya belepotan dengan tepung dibagian wajah dan tangan serta baju.
"Tidak perlu.." Rara berjalan ke arah wastafel cuci piring untuk membersihkan tangannya.
Armando mengambil kunciran Rara yang tergeletak dilantai dan membersihkannya.
"Kemarilah.." Armando menarik tangan Rara dengan lembut.
"Jangan.. Aku belum mencuci rambutku" kata Rara dengan wajah malu.
"Tidak apa-apa" Armando memaksa.
"Sudah.." ujar Armando, ia membalikkan tubuh Rara.
Armando menyentuh poni Rara yang menjuntai didahinya lalu membersihkan pipi Rara yang terkena tepung.
"Kau ingin membuat pancake?" tanya Armando.
Rara yang tertunduk malu mengangguk pelan.
"Baiklah.. ayo.."
Armando melipat kemejanya, ia mendapatkan pesan dari Luna untuk membantu Rara didapur. Rara bingung dengan sikap Armando.
"Ta.. tapi aku.." ucap Rara gugup.
Armando mulai melihat bahan yang ada, ia juga bukanlah pria yang pandai memasak. Ia pun terlihat kebingungan.
"Apakah arti dari 3 sdm?" tanya Armando polos saat melihat resep yang tertera diponsel Rara.
Rara menahan tawa.
"Kau benar-benar ingin membantuku?" tanya Rara sambil menghampiri Armando.
__ADS_1
"Ya tentu saja" ucap Armando yakin.
"Baiklah.. pakai ini" Rara mengambilkan apron berwarna biru untuk Armando lalu memakaikannya.
"Apa aku tidak terlihat aneh memakai ini?" Armando terlihat heran.
Rara menggeleng.
"Apa aku aneh?" Rara balik bertanya.
"Kau terlihat cantik" jawab Armando sambil menatap Rara.
Rara kembali menunduk.
"Sebaiknya kita mulai saja" Rara mengalihkan pembicaraan, tentu saja ia senang dengan pujian Armando namun hal itu membuatnya tidak fokus.
Rara mulai kembali membuat pancake ia meminta Armando untuk mengaduk adonannya, namun saat menuangkan tepung mata Rara terkena serbuk tepung dan kelilipan.
Armando melihat Rara kesulitan melihat dengan segera membantu Rara.
"Lihat kearahku" ucap Armando, Rara mengikuti perkataan Armando.
Matanya agak sulit dibuka, Armando memegang wajah dan meniup mata Rara perlahan. Saat mata Rara sudah bisa melihat, wajah Armando berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Ehem...." mami datang tanpa diduga.
Armando segera melepaskan wajah Rara dengan segera. Keduanya menunduk malu seperti baru melakukan kesalahan besar.
"Apakah adegan romantis gagal karena kedatangan mami?" tanya mami dengan nada menyindir.
"Mami mau minum?" Rara berusaha tersenyum dengan wajar, ia tak mau terlihat gugup.
"Tidak.. mami ke sini hanya ingin melihat apa yang kau lakukan didapur" ucap mami.
"Aku membuat pancake, mami mau?" Rara mencairkan suasana.
"Mami hanya melihat tepung yang berantakan, dan romantisme remaja" ledek mami membuat Rara tersipu.
Mami membalikkan badannya dan hendak pergi, namun ia menghentikan langkahnya.
"Armando persiapkan dirimu, sebentar lagi kau harus mengantar Luna untuk pemotretan cucuku bukan?" ujar mami mengingatkan.
Armando mengangguk.
"Bukankah kita akan pergi siang mi?" tanya Rara karena saat ini masih pukul 7 pagi.
"Mami hanya ingin mengganggu kalian" ujar mami sambil terkekeh.
Rara tertawa kecil, Armando menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.
"Pastikan kau yang mengantar Luna dan Rara, karena kau harus ikut memilih pakaian yang akan kau pakai untuk pernikahan adik Samuel" kata mami lagi.
__ADS_1
Rara dan Armando saling tatap dengan wajah heran. Mami memukul kepalanya pelan melihat tingkah polos keduanya.
"Apa kau berencana datang ke pesta pernikahan itu sebagai pengawal dari Rara? Bukan sebagai pasangannya?"