Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Kecemburuan Rey


__ADS_3

Luna memulai aktifitasnya dihotel dengan bertemu kolega lamanya, seorang eksekutif muda nan tampan bernama Ben. Dulu pria itu pernah mengejar-ngejar Luna saat Luna masih menjadi kekasih Samuel namun ia harus menerima kenyataan pahit karena akhirnya Luna dikhianati Samuel dan menikah dengan pria lain.


"Kau masih terlihat cantik seperti dulu Luna" puji Ben saat bertemu kembali dengan Luna.


"Simpan rayuan itu untuk istri atau kekasihmu, aku wanita yang sudah menikah dan sedang hamil. Aku akan muak dengan pujianmu" balas Luna dengan nada judes.


Ben tertawa renyah, Luna tidak berubah sejak terakhir mereka bertemu. Ben memang selalu mendapatkan perlakuan yang ketus dari Luna semenjak Luna tahu Ben menyukainya. Luna memang wanita dengan harga diri yang tinggi.


"Tidak hanya kecantikanmu, namun sikap dinginmu itu masih saja menggoda hatiku" ucap Ben sambil menatap Luna penuh cinta.


"Sudahlah Ben, kau tahu itu tak akan berpengaruh apapun padaku. Kita sudah kenal cukup lama dan ini adalah kerja sama kita setelah tiga tahun kau hilang entah kemana" ujar Luna sambil melirik sinis kepada Ben yang masih terus menatapnya.


"Apakah suamimu pria yang baik Luna?" Ben masih saja penasaran dengan kehidupan Luna.


"Dia pria luar biasa, sempurna dan terbaik yang Tuhan berikan untukku" jawab Luna sambil menatap malas kepada Ben, lalu kembali membaca berkas yang ada dihadapannya untuk dipelajari.


"Syukurlah, aku sebenarnya sangat takut kau menikah dengan pria b***h seperti Sam" ucap Ben sambil terkekeh.


Ben tahu sifat asli Samuel dari dulu, mereka saling kenal karena pernah menggunakan Samuel sebagai model untuk iklan produk salah satu perusahaannya. Namun Ben lebih suka bersaing secara sportif dengan tidak membongkar asli dari Samuel.


"Tuhan sangat baik padaku dan mempertemukan aku dengan suamiku. Ayolah Ben kita mulai pembicaraan bisnis" Luna mulai geram dengan basa basi Ben.


"Buru-buru sekali, aku masih senang bertemu lagi denganmu. Ya walaupun sepertinya kesempatan untuk bersanding denganmu pupus" ucap Ben, dia memang pria yang baik namun kurang beruntung dalam percintaan.


"Baiklah Ben, tanyakan semua hal yang ingin kau ketahui" Luna fokus menatap Ben, Ben menjadi salah tingkah.


"Tatapanmu itu masih membuatku lemas Luna. Baiklah aku menyerah, kita mulai pembicaraan bisnis.."


Luna sangat tahu kelemahan Ben yang tidak bisa mengendalikan diri saat Luna menatap penuh kepadanya. Untuk urusan bisnis mereka sangat profesional, namun Ben sempat menghilang karena menyelesaikan pendidikannya dan fokus diperusahaan ayahnya di luar negeri.


"Oke aku setuju dengan kesepakatan ini, mulai besok aku akan mengurus semuanya agar prosesnya bisa lebih cepat"


"Terima kasih Ben, kau mempercayakan investasimu di hotel kami lagi" ucap Luna sambil tersenyum manis, Ben memegang tengkuknya dan mengalihkan pandangannya dari Luna. Ia benar-benar menyukai senyuman itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan makan siang untuk merayakan kerja sama kita?" Ben menawarkan sebagai teman, Luna mengangguk setuju.


"Aku rindu masakan direstauranmu" kata Ben lagi sambil berjalan ke arah pintu.


"Banyak menu baru yang harus kau coba, suamiku yang menjadi pelopornya" Luna membanggakan suaminya.


"Benarkah? Aku harus mencobanya dan patah hati" Ben terkekeh kembali, ia dan Luna keluar dari ruangan sambil bersenda gurau.


Saat sampai direstauran, Bobby melihat Luna keluar dari mobil dengan Ben. Bobby cukup tahu mengenai eksekutif muda itu.


"Siapa dia? Aku baru pernah melihatnya" Rey tiba-tiba ada dibelakang Bobby, melihat ke arah istrinya sedang berjalan memasuki restauran dengan seorang pria tampan.


Bobby tak langsung menjawab karena ia tak mau salah bicara.


"Emm... dia tuan Ben" jawab Bobby singkat.


"Ohh..." Rey juga membalas dengan enteng, lalu ia kembali bekerja.


Bobby dan Rey memang masih merintis usaha, keduanya harus bekerja keras dengan sedikit pegawai untuk meminimalisir pengeluaran kedai diawal usaha mereka.


"Cemburu? Untuk apa cemburu? Aku percaya padanya" jawab Rey tanpa ada keraguan sedikitpun, Bobby menghela napas lega mendengar kata-kata Rey.


"Aku sangat kagum padamu, bahkan dengan pria yang menyukai nona pun kau tak cemburu" ucap Bobby, lalu ia menutup mulutnya karena sadar keceplosan mengatakan hal yang tak perlu.


Rey menatap Bobby dengan wajah serius, Bobby menjadi gugup dengan tatapan Rey itu. Rey menghela napas.


"Ya begitulah, aku harus bisa memahami bahwa istriku memang wanita yang cantik dan diinginkan oleh banyak pria" katanya pasrah, Bobby merangkul Rey memberinya semangat.


"Benar Rey, kau tak perlu khawatir karena nona selalu menolaknya" tukas Bobby sambil terkekeh.


Rey tersenyum kecut, ada sedikit ganjalan dihatinya karena ia melihat pria yang bersama Luna adalah pria yang jauh lebih baik dari Samuel. Rey menyingkirkan rasa tak enak dihatinya dengan fokus bekerja.


"Kau lihat pria tampan direstauran tadi? Dia sangat sempurna" ucap pengunjung seorang gadis muda kepada temannya saat baru memasuki kedai.

__ADS_1


"Iya dia terlihat keren dengan setelan jasnya, sayang sekali ia makan bersama kekasihnya" temannya ikut menimpali dengan wajah kecewa.


Mereka memesan dua cup caramel float dan duduk dimeja tak jauh dari tempat pemesanan.


"Tapi wanita yang bersamanya juga sangat cantik, mereka sangat cocok. Aku iri..." dua gadis itu terus membicarakan pasangan yang mereka lihat di restauran yang ada disebelah kedai.


Rey terlihat menyimak perbincangan kedua gadis itu, ia menduga mereka membicarakan Luna dengan rekan bisnisnya yang sedang makan siang disana.


"Iya, wanita itu juga terlihat kaya. Stylenya sangat elegan... uuuhhhh aku ingin seberuntung dirinya. Kaya, cantik dan memiliki kekasih yang tampan..." Mereka berkhayal bersama-sama sambil tersenyum senang.


"Kau tak perlu mendengarkan pembicaraan orang lain Rey, fokus lah bekerja" Bobby mengagetkan Rey yang termenung memikirkan sesuatu.


"Emmm... ya kau benar Bobby.." Rey menghela napas panjang.


Tak lama Luna keluar dari restauran dan menuju ke kedai bersama Ben. Kedua gadis yang ada di kedai terlihat antusias melihat mereka masuk.


"Ya Tuhan mereka pasangan yang sempurna" ucap mereka bersamaan.


Luna masuk dan langsung menghampiri Rey.


"Hubby, kenalkan ini kolega lamaku. Ben.." Luna berkata tanpa basa basi sambil menautkan tangannya dilengan Rey.


Ben tersenyum dan mengulurkan tangannya. Rey langsung menyambut uluran tangan Ben dengan hangat.


"Rey.."


"Selamat kau pria yang beruntung.." ucap Ben sambil tersenyum menyeringai.


"Terima kasih" Rey menjawab singkat membalas senyum Ben.


Bobby melihat keadaan canggung itu, dengan senyuman khasnya ia menghampiri mereka.


"Tuan Ben??? Apa kabar? Apa kau masih ingat denganku?" sapa Bobby membuat wajah Ben berubah kaget.

__ADS_1


"Ya tentu saja, mana mungkin aku lupa dengan pria yang pernah hampir membuatku jatuh ke mulut buaya"


__ADS_2