Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Lagu Cinta


__ADS_3

Armando menutup wajahnya lalu ia melepaskan tangan Rara dari pinggangnya.


"Sebaiknya kita pulang, karena kita harus sudah sampai dirumah sebelum nyonya besar pulang" ujar Armando membuat Rara cemberut.


"Tapi kencan kita belum dimulai" kata Rara dengan kesal, ia menghentakkan kaki kanannya.


"Apa kita bisa kencan dengan tenang bila dihantui rasa takut ketahuan oleh nyonya?" tanya Armando sambil menatap mata Rara.


Rara tersenyum melihat Armando menatapnya.


"Kau sangat tampan" ujar Rara membuat wajah Armando memerah dan mengalihkan pandangannya.


"Ayo kita pulang" Armando berjalan mendahului Rara.


"Tidak mau" ucap Rara sambil memanyunkan bibirnya.


"Kenapa?" Armando menoleh ke Rara dengan heran.


"Kau tidak menggandengku" Rara mengulurkan tangannya.


Armando tersenyum melihat tingkah Rara, ia menghampiri Rara dan meraih tangannya.


"Kita pulang ya sayang" ucap Armando lembut, Rara mengulum senyumnya sambil mengangguk malu-malu.


♥️♥️♥️


Sore hari Luna, Rey dan mami beserta si kembar dan baby sitternya tiba dirumah. Rara baru selesai mengganti pakaiannya, ia menyambut mami dengan wajah senang.


"Apa saja yang kau lakukan dirumah?" tanya mami pada Rara.


"Aku hanya menyiram kebun dan menonton drama" Rara berbohong, Luna mengedipkan sebelah matanya.


"Apa pengawal itu mendekatimu hari ini?" mami memicingkan matanya ke arah Rara.


Rara gelagapan.


"Untuk apa mami bertanya begitu?" Luna membantu Rara agar tidak terlihat gugup.


"Mami hanya memastikan bahwa pengawal itu tidak berbuat macam-macam pada Rara" kata mami kesal.


Mami merasa lelah, ia masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Rara menghela nafas panjang, ia tersenyum pada Luna. Avior dan Alioth sudah dibawa masuk ke kamarnya oleh baby sitter.


"Baiklah, sekarang kalian jelaskan padaku. Apa yang Rara dan Armando lakukan di mall tadi?" Kali ini Luna yang gugup mendapatkan pertanyaan dari Rey.


"Kak Rey jangan marah, a.. aku hanya.." Rara bingung harus menjelaskan apa pada Rey karena wajah kakaknya terlihat marah.

__ADS_1


"Bisakah kita bicara berdua saja dikamar hubby?" ucap Luna dengan senyuman terbaiknya.


Rey mengangguk namun tak ada senyuman diwajahnya.


"Kembalilah ke kamarmu, kakak akan menemuimu nanti" ucap Rey dengan nada serius.


"Iya kak" jawab Rara pelan.


Luna dan Rey masuk ke kamar, Rara berjalan gontai menuju kamarnya. Ia membayangkan Rey akan menasehatinya dengan tatapan menyeramkan.


"Beginikah rasanya jatuh cinta dan tak direstui seperti yang ada dalam drama ditelevisi?" keluh Rara saat sudah berada di kamarnya.


Rara merebahkan diri di tempat tidur, ia mengambil ponselnya dan melihat beberapa fotonya bersama Armando.


"Apa ada yang lebih tampan darimu? Oh ya ada, kakakku" gumam Rara sambil tersenyum malu.


Sementara itu, Luna bersama Rey didalam kamar.


"Sebenarnya aku hanya ingin membantu Rara hubby" Luna membuka suaranya.


"Membantu? Apa maksudnya?" Rey masih tak mengerti.


"Rara mengatakan padaku kalau dia menyukai Armando, aku hanya ingin menyatukan cinta mereka" ucap Luna pelan, ia menunggu ekspresi wajah Rey yang masih terlihat serius.


"Rara masih terlalu muda sweety, dia belum benar-benar paham mengenai cinta dan perasaan. Apalagi saat ini dia baru mengenal Armando" Rey menjelaskan kegelisahan hatinya.


"Tentu saja tidak, tapi kita harus memberinya pengertian terlebih dahulu. Tidak selalu cerita cinta berakhir bahagia seperti didrama, akan ada kerikil yang menjadi penghalang. Apa menurutmu hal itu tidak akan berdampak buruk untuk jantung Rara?" kata Rey membuat Luna sedikit terkejut.


Bahkan Luna lupa kalau adik iparnya memiliki penyakit jantung, karena sudah beberapa hari ini Rara dalam keadaan stabil.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Luna.


Rey menghela nafasnya.


"Bila aku memisahkan Rara dari Armando, pasti dia akan sedih. Tapi aku harus bicara dulu dengan Rara"


"Bicaralah baik-baik padanya" pesan Luna, ia sangat jarang melihat Rey marah.


"Apa selama ini aku pernah bicara tak baik padamu sweety?" Rey tersenyum pada Luna, Luna gemas melihat senyuman tulus itu.


"Tentu saja tidak, kau selalu berkata yang baik dan membuatku nyaman" Luna mengecup bibir suaminya.


"Kau istirahat lah, aku akan ke kamar Rara sebentar"


Luna mengangguk, Rey mengelus rambut Luna dengan lembut lalu berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Tok tok tok...


Rey mengetuk pintu kamar Rara, Rara terkejut. Ia menyiapkan dirinya untuk bicara dengan Rey.


Bila kak Rey marah maka aku akan pura-pura pingsan..


Rencana Rara dalam hati. Rara membuka pintu kamarnya dan membiarkan Rey masuk. Rey duduk dikursi yang ada dikamar Rara, sebuah kursi rias dan Rara duduk di tempat tidurnya.


"Apa kakak marah padaku?" Rara bertanya terlebih dahulu untuk memastikan ia perlu pingsan atau tidak.


Rey tersenyum, ia pun menggeleng.


"Apa kau berbuat kesalahan Rara?" ujar Rey, Rara menjadi gugup dengan pertanyaan kakaknya.


"A.. aku.."


"Bila kau memang merasa berbuat kesalahan, bolehkan aku mendengar apa alasanmu?" Rey memberi kesempatan pada adiknya.


Rara menunduk.


"Aku tak tahu ini salah atau tidak kak. Tapi hatiku bernyanyi lagu cinta saat melihat Armando" Rara berkata tanpa ragu, wajah Rey terlihat bingung.


"Lagu cinta?"


Rara mengangguk dengan yakin.


"Dalam drama yang ku lihat, seorang wanita akan merasa debaran aneh dihati saat melihat pujaan hatinya" Rara merasa bertambah yakin.


Rey mencoba mengatur nafasnya, ia bisa melihat adiknya sedang bahagia.


"Rara, aku tak akan membuatmu merasa bersalah karena kau telah jatuh cinta pada seseorang. Tapi apa kau tahu apa itu cinta?" tanya Rey sambil menatap adiknya penuh kelembutan.


Rara menggeleng, ia sangat polos mengenai hal ini.


"Cinta itu harus dari dalam hati, bukan hanya karena ada debaran namun ada tanggung jawab didalamnya. Kau harus menjaga perasaanmu dan orang yang kau cintai, tidak boleh egois dengan keinginan sendiri" tukas Rey, Rara mengangguk pelan.


"Apa kau siap dengan semua itu?" tanya Rey, Rara tak menjawab apapun.


"Aku harus lebih memikirkannya kak" ucap Rara, matanya terlihat penuh dengan air mata yang nyaris tumpah.


"Tak ada niat dari hatiku untuk melarangmu berhubungan dengan siapapun, namun kau harus mengenal siapa pria yang kau sukai. Belajar menerima semua hal yang ada dalam dirinya"


Rara menoleh ke arah Rey, Rey berdiri dan memegang tangan Rara.


"Aku akan selalu menyayangi dan melindungimu"

__ADS_1


Rey beranjak dari kamar Rara, Rara melihat ke arah Rey yang berjalan menuju pintu. Rara mengikuti langkah Rey dan menghalanginya keluar dari kamar.


"Kak.. Bila hatiku yakin untuk tetap mencintai Armando, apakah kakak akan mendukungku?"


__ADS_2