Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Pesaing #1


__ADS_3

Rey dan Bobby sepertinya lupa, Rara belum pernah bertemu mereka sebelumnya. Dan bisa jadi Rara tak pernah tahu bahwa ia memiliki saudara tiri, yaitu Rey.


"Perkenalkan aku Bobby, dan ini Rey kakakmu. Kalian sama-sama anak dari tuan Yoshida" ujar Bobby santai sambil mengulurkan tangannya.


Rara menjabat tangaan Bobby dengan ragu, matanya tertuju pada Rey. Pria tampan yang terlihat baik hati dimata Rara.


"Benarkah kau kakakku?" tanya Rara penasaran.


Rey hanya mengangguk, dia agak canggung berbicara dengan adiknya.


"Setelah kau diperbolehkan pulang, kau akan tinggal bersama Rey dan istrinya" kata Bobby enteng membuat mata Rara terbelalak.


"Istri?" Rara terdengar heran.


"Iya istri.. Kakak iparmu sangat baik, dia bosku" Bobby tersenyum bangga, Rara masih saja menatap ke arah Rey yang juga menatapnya.


"Emm.. baiklah, ini terasa sangat aneh buatku. Sudah cukup siang dan aku harus ke kedai untuk memeriksa renovasinya. Rey, aku duluan" Bobby menepuk bahu Rey dan tersenyum pada Rara lalu keluar.


Suasana bertambah canggung pasca Bobby pergi, tak ada yang berani mengucapkan sesuatu terlebih dahulu.


"Ehem.. apa kau ingin makan sesuatu Rara?" tanya Rey pelan.


Rara menoleh ke arah Rey, ia menggeleng namun tak seiring dengan bunyi perutnya. Wajah Rara memerah, Rey mengambilkan makanan Rara yang sudah dibawakan oleh perawat beberapa menit yang lalu.


"Makanlah.. Kau butuh banyak makan agar bisa segera sembuh" kata Rey sambil mengambil gelas kosong yang ada dimeja sebelah tempat tidur Rara, Rey bermaksud mengisi gelas itu.


"Ibu berkata aku tak akan bisa sembuh dan segera mati" ujar Rara sambil menunduk sedih.


Rey menoleh ke arah adiknya, seburat kepedihan yang mendalam terpancar dari wajah Rara.


"Lalu kau percaya begitu saja?" tanya Rey, ia geram dengan sikap ibu tirinya.


Rara mengangguk pelan.


"Tak ada yang bisa ku percaya selain ibu. Aku tak pernah berteman dengan siapapun, kata ibu jika aku berteman dan aku mati maka kematianku akan membuat banyak orang bersedih. Jadi aku menghindar dari semua orang" Rara meneteskan air matanya, hati Rey bagai ditusuk sembilu mendengar cerita adiknya.


"Di usiaku yang akan menginjak 20 tahun, aku bahkan hampir tak pernah bicara dengan orang lain" sambung Rara perih.


Rey menaruh gelas yang hendak ia isi dan langsung memeluk Rara dengan erat. Ia ingin Rara berbagi kesedihan dengannya sampai semua sakit yang ia rasakan memudar sedikit demi sedikit.


"Aku akan menjagamu dan tak akan aku biarkan kau mati begitu saja" bisik Rey, Rara menjadi sesegukan mendengar kata-kata Rey.

__ADS_1


Selama ini hanya ayahnya yang masih memiliki sedikit rasa peduli padanya dengan memberikan ia obat saat jantungnya terasa sakit.


"Ada aku, kakakmu" Rey melepaskan pelukannya dan menatap Rara dalam-dalam.


Rara mengangguk, ia mengusap air matanya. Sedikit senyum mengembang diparas manisnya.


"Sekarang kau harus makan, setelah itu minum obat. Tak perlu memikirkan hal lainnya lagi" Rey menyuapi Rara dengan telaten.


Rara menahan rasa harunya, ia tak ingin banyak menangis didepan Rey.


"Apa aku boleh memanggilmu kakak?" tanya Rara ragu.


"Sudah seharusnya begitu, aku memang kakakmu" ucap Rey sambil tersenyum.


Pintu ruangan Rara diketuk, Luna datang diantar oleh Jiraiya namun pria tua itu menunggu diluar.


"Sweety.." Rey menyambut Luna, ia langsung mengecup kening Luna dan memeluknya erat.


Rara melihat adegan itu dengan tatapan sedikit cemburu, ia baru saja merasakan kasih sayang kakaknya dan harus berbagi dengan istri kakaknya tersebut.


"Rara, ini istriku perkenalkan ini istriku. Luna" ujar Rey sambil memegang pinggang Luna.


Luna tersenyum pada Rara dengan ramah dan menaruh buah-buahan yang ia bawa dimeja Rara. Rara terpesona dengan wajah cantik Luna, ia juga terkejut dengan perut Luna yang besar. Rey langsung meminta Luna duduk disamping tempat tidur Rara.


Luna mengangguk dengan antusias.


"Ini adalah calon keponakanmu Rara, dan mereka kembar" ucap Luna senang.


"Benarkah?" Rara terlihat bahagia, Luna mengangguk lagi.


Ia melirik kepada Rey yang sedang mengambilkannya minum.


"Kak Rey.. Bisakah kau membantuku makan buah ini?" tanya Rara.


"Aku bisa membantumu" Luna menawarkan diri, Rara menggeleng.


"Kak Rey saja yang melakukannya, kak Luna duduk saja. Aku tak mau kak Luna lelah berdiri" ujar Rara memberi alasan.


"Oh begitu.. baiklah" Luna menyandarkan duduknya.


Rey kembali membawa minum untuk Rara, setelah itu dia memotongkan apel untuk Rara.

__ADS_1


"Hubby, apa malam ini kau akan menjaga Rara disini?" tanya Luna sambil menggenggam jemari Rey.


"Ya sepertinya begitu, namun aku harus pulang dulu dan membawa pakaian ku" kata Rey sambil mengelus kepala Luna.


Rara memperhatikan cara Luna dan Rey berinteraksi, itu adalah hal yang baru untuknya.


"Aku sudah membawakan pakaian untukmu, dan aku juga sudah membelikan beberapa potong pakaian untuk Rara. Semoga saja kau suka ya" kata Luna sambil tersenyum pada Rara.


Rara yang awalnya sangat cemburu pada Luna menjadi senang. Tak ada yang memperlakukannya dengan baik seperti itu selama hidupnya, pakaian Rara adalah lungsuran dari ibunya. Bukan hanya karena hidup mereka sulit namun ibunya lebih rela uang yang ia miliki untuk berjudi.


"Kak Luna kau sangat baik" ucap Rara, ia meneteskan air mata karena terharu.


Rey menghampiri Rara dan mengusap air matanya.


"Jangan terlalu banyak menangis, itu tidak baik untuk kesehatanmu" ujar Rey sambil memegang kedua pipi adiknya.


Kali ini giliran Luna yang tak rela suami tercintanya menyentuh wanita lain walaupun itu adalah adiknya sendiri. Bila ini adalah Luna yang dulu pasti dia sudah melempar kursi yang di dudukinya kepada Rara dengan penuh emosi.


"Hubby.. " Luna menarik tangan Rey agar melepaskan sentuhannya dan menjauh sedikit dari Rara.


Rara melirik ke arah Luna dengan sedikit kesal.


"Ada apa sweety?" Rey menjadi heran.


"Tidak apa-apa. Aku hanya... ehem.. sedikit lapar" Luna mencari alasan.


Rey merasa kasihan pada Luna, ia tahu pasti Luna juga sulit untuk makan memikirkan dirinya.


"Baiklah ayo kita makan siang" ajak Rey.


Rara kembali terlihat iri, ia tak mau Rey pergi. Namun hal itu bertepatan dengan seorang perawat yang datang untuk memeriksa kembali keadaan Rara karena memang ia harus diperiksa secara berkala.


"Aku akan kembali setelah makan siang bersama Luna" kata Rey, Rara membalasnya dengan senyuman getir.


Luna dan Rey makan siang diluar rumah sakit, mereka memiliki restauran terdekat.


"Aku tak tahu, ini perasaan ku saja atau bagaimana. Tapi sepertinya gadis itu menyukaimu hubby" kata Luna penuh curiga.


"Dia adikku sweety" Rey menenangkan Luna.


Luna berdecak pelan, ia harus mengatakannya dengan tepat. Secara perlahan namun pasti, Luna menyampaikan isi hatinya pada Rey.

__ADS_1


"Iya tapi.. aku merasa seperti.. emm memiliki saingan yang baru.."


__ADS_2