
Wajah Erika seketika memerah mendengar kata-kata Bobby.
"Apa kau sungguh-sungguh dengan kata-kata mu itu?" tanya Erika malu-malu.
"Ya tentu saja, buat apa kita menundanya. Aku yakin ayahmu juga ingin segera memiliki cucu" ujar Bobby sambil tersenyum usil.
"Ini sudah malam, antarkan aku pulang. Aku sangat rindu pada ayah"
"Kau tidak rindu padaku?" Erika mencubit pipi Bobby gemas.
"Tentu saja aku merindukanmu honey, tapi kita sudah bertemu sudah giliran ayah yang harus ku temui"
"Begitukah? Padahal aku belum mendapatkan pelukkan dan ciuman darimu" gerutu Bobby.
"Kau akan mendapatkannya setiap hari setelah kita menikah"
Bobby melajukan mobilnya menuju rumah Jiraiya. Erika menatap Bobby terus menerus.
"Aku memang tampan, tapi tak perlu melihatku sampai seperti itu darling" Bobby mulai merasa malu.
"Bila diperhatikan aku merasa sangat beruntung memiliki calon suami seperti mu. Kau tampan, baik dan sangat bertanggung jawab dengan pekerjaan mu. Seharusnya kau bisa mendapatkan gadis yang lebih dariku"
"Kau yang terbaik untukku, bahkan bila dulu cintaku diterima oleh wanita yang ku cintai saat aku melihatmu aku akan meninggalkannya" Bobby tertawa.
"Benarkah cintamu pernah ditolak?" Erika sangat terkejut, Bobby melirik Erika sebentar lalu mengangguk.
"Siapa wanita bodoh yang sudah menolak mu?" tanya Erika penasaran.
"Kau benar-benar ingin tahu?" goda Bobby.
"Apa dia sangat cantik?" Erika ragu untuk mengetahuinya.
"Tidak lebih cantik darimu menurutku" Bobby tertawa lagi seperti meledek, Erika memukul lengannya agak kencang karena kesal.
"Katakan, siapa wanita itu?" Erika mengumpulkan semua keberaniannya, ia menutup matanya karena masih agak takut mendengar nama yang akan disebut Bobby.
"Namanya adalah... Rahasia hahhaa" Bobby tertawa puas, Erika membuka matanya dan cemberut.
"Aku sudah mengumpulkan segenap keberanian ku untuk mendengarnya tapi kau malah tidak mau menyebut siapa dia"
__ADS_1
"Itu adalah hal yang tidak penting, masa lalu biarlah ada dibelakang ku. Kini aku sedang menatap masa depan bersamamu darling" kata Bobby sambil mengedipkan matanya.
Erika menahan senyumnya, ia suka saat Bobby mengatakan hal itu. Menurutnya itu adalah hal yang romantis.
♥️♥️♥️
Luna mulai mau membuka diri kepada maminya, pagi itu ia berusaha tersenyum walaupun wajahnya jadi terlihat aneh.
"Makanlah yang banyak, ini bagus untuk kesehatanmu" ujar mami sambil meminta pelayan mengambilkan sayur dan menuangkannya di piring Luna.
"Terima kasih atas perhatiannya mi" Rey tersenyum, Luna masih memaksakan senyumannya.
Seorang pengawal mami menghampiri Rey dan memberikan sebuah paper bag berwarna hitam legam.
"Itu ponsel barumu, mami tidak suka melihatmu memakai ponsel buruk seperti itu" ujar mami dengan sombongnya membuat Luna sedikit kesal, Rey menggenggam jemari Luna untuk meredam kekesalannya.
"Terima kasih mi" Rey menerima paper bag yang diserahkan oleh pengawal mami.
"Hari ini mami aku ke hotel, kau tahu Bob kemarin mengalami stroke dan mami meminta James untuk menggantikan posisi ayahnya di hotel" ujar mami disambut wajah Luna yang semakin marah.
"Kalau begitu sebaiknya aku hari ini bekerja, aku harus membantu Erika" kata Rey, segera menyelesaikan sarapannya.
"Aku juga ingin ke kamar hubby, bila berlama-lama di meja makan aku bisa terkena stroke seperti Bob" ujar Luna sambil melirik sinis kepada mami, mami cuek saja dan menyuap sarapannya dengan lahap.
"Ada apa sweety?" Rey memeluk Luna, Luna mengatur napasnya.
"Apa kau dengar kata-kata mami tadi? Dengan seenaknya dia mengambil James dari restauranku!" Seru Luna kesal.
"Mami hanya tidak ingin kualitas makanan di hotel menurun bila tak ada yang bisa menggantikan posisi tuan Bob" ujar Rey sambil mengganti pakaian.
"Kau terus membela mami!"
Rey menghampiri Luna, ia mencium kening istrinya.
"Bila aku membelamu maka kau akan merasa benar dan terus bertengkar dengan mami. Jangan kesal terus"
"Begitukah?" Luna mulai melunak, Rey mengangguk.
"Aku akan ke restauran sekarang, kau istirahatlah"
__ADS_1
Rey menggendong Luna dari kursi rodanya dan membaringkannya di tempat tidur lalu sekali lagi mencium kening Luna.
Saat keluar dari kamar, Rey berpapasan dengan mami yang akan pergi ke hotel.
"Ayo kita berangkat bersama ajak mami"
Rey mengangguk karena memang arah hotel dan restauran sama. Ia sampai di restauran dan disambut tatapan iri teman-temannya sesama pegawai. Mereka melihat Rey keluar dari mobil mami.
"Sudah diamkan saja" Erika menganggetkan Rey yang merasa tidak nyaman dengan tatapan teman-temannya.
"Ya aku akan berpikir mereka hanya tidak tahu" ucap Rey tersenyum pahit.
"Bila kau tak fokus aku akan memukulmu, karena masakan hari ini bergantung pada kita berdua. Tapi ayahku berjanji akan segera mencari koki baru untuk membantu kita, kemungkinan James akan tetap berada di hotel" ujar Erika menjelaskan.
"Ya sebaiknya begitu, dan kau akan menjadi kepala koki disini" goda Rey sambil menyenggol bahu Erika.
"Tidak kacamata, aku tidak mau. Aku didaftarkan kursus memasak oleh ayahku, dan bila aku sudah mahir membuat kue maka aku akan membuka toko kue"
"Dan kau akan keluar dari restauran ini juga?" tanya Rey tak percaya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Erika mengangguk pasti, Bobby datang dari pintu belakang, ia terlihat terengah-engah.
"Bila kau berencana pergi, beritahu aku. Aku ditelpon oleh nona dan dia menyuruhku datang ke sini saat aku sedang mandi" Gerutu Bobby.
Rey memegang tengkuknya dan tersenyum malu.
"Maafkan aku Bobby, aku buru-buru kesini saat tahu pak James dipindahkan ke hotel oleh mami"
"Ya aku sudah mendengarnya semalam, tuan Bob sudah waktunya istirahat"
"Benar, dia sudah terlalu tua untuk bekerja keras di hotel" Erika setuju kata-kata Bobby lalu berjalan ke kompor untuk mulai memasak.
Pukul 9.00 Jiraiya datang ke restauran dengan seorang gadis muda. Para pegawai disana memperhatikan gadis itu dengan seksama, rambutnya yang panjang dan wajahnya yang manis menjadi pusat perhatian.
"Selamat siang semuanya, perkenalkan ini Anne. Dia akan menjadi koki baru di restaruran ini"
Gadis itu tersenyum manis dan membungkukkan badannya memberi salam perkenalan kepada semua yang ada disana. Bobby dan Rey baru saja masuk dari pintu belakang dapur, mereka baru selesai mengambil bahan makanan yang mereka beli di mobil restauran.
"Apa yang dilakukan Jiraiya disini?" tanya Rey penasaran, Bobby hanya mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
Mereka melihat keramaian pegawai yang ada didapur. Jiraiya terlihat dari jauh namun gadis muda itu baru terlihat setelah mereka mendekat. Gadis itu berbinar melihat Bobby dan Rey.
"Bukankah kalian pria keren yang berkelahi dengan para preman didekat sungai malam itu? Ya Tuhan kalian lebih tampan saat dilihat dari dekat"