
Keesokan harinya, James berkunjung ke kedai milik Rey dan Bobby. Kedai itu sudah selesai di renovasi pasca perampokan dan Rey sudah kembali beraktifitas, namun Bobby masih harus menjaga Erika di rumah sakit.
"Hai James, tak biasanya kau ke sini" sapa Rey dengan senyuman hangat ciri khasnya, Rey sudah memanggil James dengan namanya setelah ia tak berkerja lagi di restauran.
"Restauran belum buka, masih ada waktu 1 jam untukku bersantai" ucap James lalu duduk disalah satu kursi yang ada di depan bar kedai.
"Apa ada hal yang bisa aku bantu?" tebak Rey, karena tak mungkin orang seperti James datang ke tempatnya tanpa ada suatu tujuan yang jelas.
James menyeringai, ia suka Rey yang selalu to the point. Rey menatap lekat James, ia sedikit penasaran dengan hal yang membawa James datang ke kedainya.
"Aku akan menikah dengan Anne" ucap James langsung, Rey tersenyum senang.
Rey tak kaget dengan apa yang dikatakan James karena dia pria yang cukup berumur dan siap menikah.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Rey.
"Emm.. aku sangat takut dengan penolakan orang tua Anne. Lihat aku, aku lebih pantas menjadi pamannya" ucap James, ia memang terlihat kurang percaya diri bukan diri Jamess yang sebenarnya.
Mungkin hal itu yang membuatnya belum menikah hingga saat ini. Kira-kira itu yang ada dibenak Rey.
"Kau belum mencobanya dan sudah merasa ketakutan? Ayolah James, kau pria matang dan dewasa. Anne saja cukup percaya diri memilihmu sebagai calon suaminya, kau hanya butuh sedikit keberanian untuk bertemu orang tua Anne" saran Rey.
"Tiidak semudah itu Rey.." keluh James.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Bila orang tua Anne tidak setuju maka hubunganku dengan Anne juga akan berakhir" James mengusap wajahnya kasar, ia pria dewasa yang sedang jatuh cinta.
"Menurutku tidak begitu.." kata Rey membuat mata James tertuju padanya.
__ADS_1
"Ku rasa orang tua Anne bukanlah pengekang dan pemaksa, karena setahuku Samuel dan Yasmin bisa menikah karena sudah ada persetujuan dari orang tua Sam. Mereka cukup pengertian dengan hubungan anak-anaknya, setidaknya itu yang ada dipikiranku" ucap Rey mengingat kejadian dahulu.
James berpikir sejenak, ia terlihat menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya. Rey melirik usil ke arah James, pria dingin itu terlihat sangat kebingungan dan butuh pertolongan.
"Apa kau akan puas dengan hanya menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan seumur hidupmu? Bila kau terlalu lama maka akaan ada pria lain yang akan melamarnya dengan serius" Rey mulai memprovokasi, James menoleh lagi ke Rey lalu berdecak kesal.
"Aku tak suka saat diriku sedang dalam keadaan bimbang seperti ini" ucap James, ia menaruh wajahnya di meja bar.
"Kau disini rupanya! Aku mencarimu direstauran sejak tadi!" Anne datang dengan wajah sedikit kesal.
James mengangkat wajahnya dengan ekspresi gugup, Rey menahaan senyumnya melihat wajah James.
"Ayo kita kembali ke restauran, banyak hal yang harus dipersiapkan" Anne menarik tangan James.
"Kak Rey, terima kasih ya sudah mau bertukar pikiran dengannya" ucap Anne sambil menganggukkan kepalanya, Rey tersenyum dan melambaikan tangan melihat James yang pasrah di bawa paksa oleh Anne.
♥️♥️♥️
"Darling.. apa kau tidak bosan tidur terus menerus?" bisik Bobby sambil mengelap tangan Erika dengan waslap basah.
"Anak kita sudah lahir, aku memberinya nama Bintang. Kau pasti sukakan? Nama itu sesuai dengan tempat kita sering mengucapkan keinginan kita saat malam, kau juga suka melihat kilapannya. Bangunlah dan lihat dia darling" kata-kata itu hampir setiap hari Bobby bisikan ke telinga istrinya.
Belum ada tanda-tanda Erika akan merespon apa yang Bobby ucapkan namun Bobby selalu yakin istrinya akan kembali seperti sediakala. Hanya membutuhkan sedikit kesabaran dan keyakinan yang kuat dari dalam hatinya.
"Bobby.." Jiraiya datang membawakan makan siang untuk Bobby.
"Ayah sudah datang? Apa ayah tidur dengan baik?" Bobby sedikit khawatir dengan kondisi ayah mertuanya.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan ayah, ayah baik-baik saja. Kau makanlah dulu, ayah ingin berbicara dengan Erika"
__ADS_1
Bobby mengangguk dan menurutin perintah Jiraiya. Jiraiya menggantikan posisi Bobby duduk disebelah ranjang Erika.
"Erika.. Ayah baru saja melihat putrimu, ayah bersyukur ia bayi yang kuat sama seperti ibunya. Ayah ingin sekali bisa cepat membawa cucu ayah pulang ke rumah dan bermain bersama denganmu juga. Janganlah berlama-lama dalam tidur panjangmu, banyak orang yang merindukan senyuman dan celotehan manismu" Jiraiya juga selalu menguatkan Erika, ia tak mau meneteskan air mata karena akan membuat Erika bersedih.
Bobby makan siang sambil memperhatikan Jiraiya, pria tua itu nampak seperti seorang ayah yang kehilangan separuh jiwanya saat Erika tak sadarkan diri. Namun saat ini Jiraiya lebih tegar, ia selalu berdoa kepada Tuhan agar Erika segera sadar karnea Jiraiya percaya Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya yang memohon.
"Permisi tuan, saatnya pemeriksaan nyonya Erika" seorang perawat datang, Erika harus selalu diperiksa secara rutin.
Jiraiya mengangguk, ia berdiri dibelakang perawat yang sedang memeriksa Erika.
"Apakah putriku akan sadar hari ini?" pertanyaan yang setiap hari dilontarkan oleh Jiraiya kepada perawat itu.
Perawat itu hanya menjawab dengan senyuman seperti biasanya. Jiraiya menghela napasnya, ia melirik ke arah Bobby yang sedang makan siang dengan lahap. Jiraiya senang menantunya tetap bisa tegar menghadapi cobaan ini.
"Apa kau ingin tidur Bobby?" tanya Jiraiya saat Bobby selesai makan.
Bobby mengangguk sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Kau ingin pulang?"
Bobby menggeleng, Bobby hampir tak pernah pulang. Ia tak mau melewatkan saat Erika sadar karena hal itu bisa terjadi kapan saja.
"Aku tidur disini saja ayah, lelah ku hilang bila dekat dengan Erika" ucap Bobby membuat Jiraiya terharu.
"Tidurlah yang cukup Bobby, Erika akan sedih bila kau sakit. Ayah akan melihat kondisi tuan Yoshida karena tuan Rey tadi berkata akan kesini" ucap Jiraiya, ia mencium kening Erika dan berjalan ke arah pintu keluar.
Jarak antara ruangan Erika dan ruang rawat Yoshida cukup jauh, Jiraiya berjalan dengan santai. Ketika hampir sampai ada seorang perawat berjalan cepat dengan wajah gusar keluar dari ruangan Yoshida.
"Ada apa ini?" ujar Jiraiya dengan wajah khawatir, ia setengah berlari menuju ruangan Yoshida.
__ADS_1
Terlihat dokter sedang memeriksa Yoshida yang sedang kejang. Jiraiya langsung memasuki ruangan dan menghampiri dokter yang berada disisi kiri ranjang Yoshida.
"Apa yang terjadi dokter?"