Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Kepulangan Rara


__ADS_3

Luna baru sampai dirumah sakit, Rey sudah menunggunya di lobby rumah sakit. Saat itu sudah mulai malam, Luna langsung memeluk suaminya dengan hangat. Sangat terasa Rey membutuhkan pelukkan itu.


"Terima kasih sweety, kau selalu ada di sisiku" ucap Rey penuh haru.


"Sudah seharusnya aku menemanimu hubby"


Rey melepaskan pelukkannya, ia mengajak Luna ke ruangan tempat ayahnya dirawat. Operasi untuk mengeluarkan peluru dalam tubuhnya sudah selesai, namun kondisinya masih memprihatinkan.


"Itu ayahmu?" tanya Luna saat melihat Yoshida dari jendela kaca ruangannya.


Rey mengangguk lalu ia menghela nafasnya.


"Dia akan baik-baik saja hubby" ujar Luna sambil mengusap punggung Rey dengan lembut.


Ponsel Luna berbunyi, Ben menelponnya.


"Bolehkah aku mengangkat telpon dari Ben hubby?" Luna izin kepada suaminya.


Rey mengangguk lagi, Luna agak menjauh karena ia berpikir Ben akan membicarakan bisnis.


"Luna kau masih dirumah sakit?" tanya Ben dengan nada suara terburu-buru.


"Ya aku masih dirumah sakit menemani suamiku, ada apa Ben?"


"Aku ingin memberitahumu bahwa adik suamimu yang bernama Rara sedang bersamaku"


"Apa?! Katakan sekali lagi" Luna seakan tak percaya.


Ben memberikan ponselnya pada Rara.


"Kak Luna, benarkah ini kau?" suara Rara membuat air mata Luna menetes.


"Rara..." ucap Luna lirih.


Rey menoleh ke arah Luna yang menyebut nama adiknya, ia terkejut melihat Luna menangis dan langsung menghampirinya.


"Ada apa sweety?" tanya Rey sambil membelai rambut Luna.


Luna menatap Rey penuh haru, ia menunjuk ponselnya.


"Rara.." ujarnya tak bisa berkata-kata.


Mata Rey membulat, Luna memberikan ponselnya pada Rey. Dengan ragu Rey menaruh ponsel itu ditelinganya.


"Rara..." panggil Rey pelan.


"Kak Rey.. Ya Tuhan ini benar suara kakakku" suara Rara terdengar riang.


"Aku akan menjemputmu, kau jangan kemana-mana" ujar Rey tegas.

__ADS_1


"Kakak disana saja, aku dan tuan Ben sedang perjalanan menuju rumah sakit" kata Rara.


Saat sampai dirumah sakit, Armando yang berjaga diluar melihat Rara bersama Ben. Karena hari sudah cukup gelap, Armando merasa curiga pada Ben dan langsung menyergapnya.


"Auu... sakit.. lepaskan aku!" tukas Ben saat Armando mengunci tangannya.


Rara terkejut, ia langsung membantu Ben dengan menggigit tangan Armando.


"Armando?" ujar Ben.


Armando terkejut melihat Ben dan langsung membungkukkan badannya meminta maaf.


"Maaf tuan saya berpikir anda orang lain" ucap Armando dengan nada menyesal.


Rara menatap Armando, wajah Armando yang tegas dan kaku membuat Rara tersenyum. Dua pria tampan ada dihadapannya seperti drama yang sering ia lihat ditelevisi.


"Apa kau ingin menyelamatkan dia dariku?" tanya Ben dengan senyum meledek.


Armando menundukkan wajahnya dan mengangguk pelan.


"Kau pasti berpikir bahwa aku penculiknya kan? Aiih... bagaimana mungkin itu terjadi" Ben sedikit kesal.


"Sekali lagi maafkan saya tuan" Armando membungkukkan badannya lagi.


"Ya sudah tidak apa-apa, kau hanya ingin menjalankan tugasmu dengan baik" Ben menepuk bahu Armando dua kali.


Rara menatap Armando dan Ben bergantian, keduanya terlihat tampan namun memiliki pesona yang berbeda. Ben dengan gaya eksekutif muda dan Armando dengan gaya pria kaku yang membuat semua wanita penasaran.


"Tidaak tuan, saya menunggu disini saja" jawab Armando.


Sekilas tatapan Armando dan Rara bertemu, ada sedikit senyum yang terlintas dari keduanya.


Aku merasa seperti seorang wanita yang mudah jatuh cinta hari ini..


Ucap Rara dalam hati. Ia mengikuti langkah Ben masuk ke dalam rumah sakit.


"Kakak..." panggil Rara saat melihat Rey.


Rey dan Luna menoleh ke arah Rara, Rara langsung berhambur kepelukan Rey.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Rey sambil melepaskan pelukkannya dan melihat Rara dari bawah ke atas.


Rara mengangguk dengan yakin. Ben berjalan perlahan di belakang Rara, Rey tersenyum padanya.


"Terima kasih Ben, kau sudah mengantarnya ke sini" ucap Rey, Luna ikut memeluk Rara.


"Kak, apa benar ayah dioperasi?" tanya Rara khawatir.


Rey mengangguk pelan, seburat kesedihan nampak diwajah kakak beradik itu.

__ADS_1


"Apakah ayah akan baik-baik saja?" tanya Rara dengan nada sedih.


"Kita berdoa saja, agar Tuhan menolongnya" Rey merangkul Rara.


Setelah beberapa lama, Luna mengajak Rara pulang ke apartemen. Besok Rara akan kembali dijemput mami untuk tinggal dirumahnya.


"Aku akan kembali besok hubby, jagalah kesehatanmu" pesan Luna sambil memeluk suaminya.


"Terima kasih sweety" Rey mencium puncak kepala Luna.


Luna, Rara dan Ben berjalan bersama menuju pintu keluar rumah sakit. Armando dengan sigap mengawal Luna dan Rara.


"Sampai bertemu lagi Rara" ucap Ben sambil melambaikan tangannya.


"Aku berhutang budi padamu tuan Ben" kata Rara.


"Panggil aku Ben, aku merasa tidak pantas dipanggil begitu olehmu" goda Ben, Luna mengulum senyumnya.


Rara tersenyum, matanya menangkap Armando yang sedang berdiri disebelahnya.


"Baiklah, aku harus pulang. Hati-hati menyetir Armando, kau membawa dua putri cantik bersamamu" ujar Ben sambil mengedipkan matanya pada Luna.


"Kaulah yang harus berhati-hati, jangan sampai mobilmu berbelok sendiri ke arah lain" ledek Luna sambil tertawa kecil.


Mereka berpisah, Ben langsung masuk ke mobilnya dan menuju hotel sedangkan Luna dan Rara menuju apartemen bersama Armando.


Rara duduk sambil menggenggam jemari Luna, sesekali ia melihat Armando dari kaca spion mobil.


"Bagaimana kau bisa kabur?" Luna memecah suasana hening didalam mobil.


Rara menceritakan pengalamannya dengan semangat, Luna senang melihat Rara sudah menjadi gadis periang dan bersemangat. Sangat berbeda dengan Rara yang baru pertama kali ia temui.


"... dan ternyata tuan eh maksudku Ben adalah teman kak Luna. Aku bersyukur bisa kembali secepat ini kepada kalian" ucap Rara mengakhiri ceritanya.


"Eemm.. Armando, apa kau tidak dapat menemukan jejaknya?" tanya Luna dengan nada agak kesal.


"Para penculik itu bungkam atas aksi penculikan, saya tidak bisa memaksa mereka karena mereka memiliki masalah berat dengan pihak kepolisian. Jadi hanya sedikit informasi yang saya dapatkan, namun dari hasil penyelidikan saya menyimpulkan nona Rara baik-baik saja nona karena ia lah yang berhasil kabur dari penculik itu" ungkap Armando.


"Kau memiliki insting yang cukup baik, namun kau tak berhasil menemukan Rara. Kau harus banyak belajar lagi Armando"


"Baik nona"


Armando masih berusia muda, ia salah satu pengawal pemula yang menjadi kepercayaan Bobby karena loyalitasnya selama ini.


Rara tersenyum melihat ke kaca spion, Armando membalas senyum Rara dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat. Tak lama mereka sampai di apartemen. Ada seorang wanita yang berteriak-teriak didepan gedung apartemen.


"Ada apa ini?" tanya Luna, ia belum berani keluar dari mobilnya.


Rara memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas wanita yang membuat keonaran itu.

__ADS_1


"Ibuu...???"


__ADS_2