
"Ku mohon Luna tak perlu mencarinya, aku akan mempertahankan bayi ini tapi jangan kau cari pria itu" Yasmin bersimpuh dihadapan Luna.
Luna heran melihat tingkah Yasmin, ia memegang Yasmin dan memintanya untuk bangun. Namun Yasmin menolaknya dan tetap bersikeras bersujud didepan Luna.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Luna panik.
"Ku mohon Luna jangan lakukan itu, aku tahu dengan jelas siapa pria itu dan dia tak akan pernah mau mengakuinya" ujar Yasmin dengan suara serak karena menangis.
Luna mengangkat tubuh Yasmin lalu mengajaknya duduk bersama di sofa, Yasmin menyenderkan kepalanya di bahu Luna yang merangkul bahunya.
"Katakan padaku siapa pria itu? Serahkan semuanya padaku, dan pria itu tak akan berani berbuat macam-macam kepadamu" kata Luna yang suaranya mulai melunak.
Yasmin tetap menangis, ia sangat malu Luna tahu ayah dari bayinya adalah Samuel. Ponsel Luna berbunyi, Bobby menelponnya.
"Apa kau sudah tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Yasmin?" Luna langsung bertanya dengan geram, Yasmin menoleh ke arah Luna dengan wajah khawatir.
"Ayaah dari anak yang dikandung nona Yasmin adalah.."
Braaakkk...
Yasmin mengambil ponsel Luna dan melemparnya dengan keras, seketika ponsel itu mati dan rusak. Luna melotot kepada Yasmin.
"Kau gila Yasmin!!!" pekik Luna kesal.
"Jangan mencaritahu lagi Luna aku mohon" suara Yasmin lirih, ia benar-benar takut saat ini.
Luna menghela napas panjang, ia melirik sinis kepada Yasmin.
"Baik, sekarang jujur padaku bagaimana hal itu bisa terjadi? Aku tahu kau bukan wanita murahan yang akan tidur dengan sembarang pria" tanya Luna, ia berusaha menahan emosinya kepada Yasmin.
Perlahan Yasmin menceritakan kejadian saat itu pada Luna dan Rey, mata terbelalak saat tahu Yasmin melakukan hal itu saat mabuk dan kini kebo**hannya itu membuahkan hasil seorang bayi diperutnya.
"Ya Tuhan Yasmin!!!!!!" Luna mengepal jemarinya dengan erat, ia benar-benar tak menyangka Yasmin bisa seceroboh itu melakukan hal yang dapat merusak masa depannya.
"Lalu dimana pria itu?" tanya Luna masih saja mendesak Yasmin untuk bicara.
"Sweety, biarkan Yasmin istirahat. Dia tidak boleh tertekan dengan kondisinya saat ini, kita harus memikirkan bayi yang ada dikandungan ya juga" ujar Rey pelan.
Sekali lagi Luna menghela napas, tubuhnya mulai lemas memikirkan nasib Yasmin bila memang pria itu tidak mau bertanggung jawab. Ia menatap Yasmin lalu memeluk sahabatnya.
__ADS_1
"Maafkan aku karena terlalu keras padamu Yasmin, aku hanya tak ingin kau disia-siakan pria yang tak bertanggung jawab itu" ucap Luna sambil mengelus punggung Yasmin, Yasmin hanya mengangguk pelan.
"Aku akan menemanimu istirahat dikamar" Luna mengajak Yasmin masuk ke kamar.
Ponsel Rey berbunyi. Bobby yang tidak dapat menghubungi Luna akhirnya menelpon Rey.
"Ya Bobby.."
"Apakah nona sedang bersamamu?"
"Luna sedang menemani Yasmin istirahat. Apa kau sudah tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Yasmin?"
"Ya aku sudah tahu dan aku yakin kau juga nona akan terkejut mendengarnya" Bobby mengatakannya dengan suara berat.
"Apa aku mengenalnya?" Rey penasaran.
"Ya kau mengenalnya, bahkan nona sangat mengenalnya" Rey langsung bisa menebak siapa maksud Bobby.
"Tidak mungkin!!" seru Rey.
"Aku juga ingin mengatakan hal yang sama denganmu Rey, tapi ini adalah kenyataannya. Apa aku harus membawa aktor pengecut itu ke apartemen sekarang?" suara Bobby tiba-tiba berubah bersemangat.
"Tunggu, aku harus membicarakannya dengan Luna. Kita tak boleh gegabah mengambil tindakan, atau Yasmin akan terguncang" saran Rey, ia berpikir keras.
"Jangan sakiti dia Bobby, dia masih harus bertanggung jawab atas perbuatannya"
"Ya baiklah, kau benar-benar mengesalkan. Padahal aku berpikir bisa bersenang-senang hari ini hahahaha" Bobby tertawa lepas.
"Aku akan menghubungimu lagi"
"Oke"
Rey menutup telponnya.
Tak lama Luna keluar dari kamar, Yasmin sudah terlelap kembali. Kehamilannya membuatnya mudah lelah dan mengantuk.
"Apa Bobby menghubungi mu?" tanya Luna.
Rey mengangguk, Luna mengajak Rey duduk bersama di sofa.
__ADS_1
"Apa yang dia katakan padamu?" Luna penasaran.
"Emmm... aku tak yakin kau akan senang bila mendengar hal ini" Luna melotot memaksa Rey mengatakan apa yang Bobby sampaikan padanya.
Dengan ragu Rey menceritakan apa yang Bobby katakan padanya, Luna langsung mengepalkan tangannya.
"Aku akan membuat perhitungan dengannya!!!" ujar Luna geram.
"Sabarlah sweety, jangan buru-buru mengambil keputusan. Ini menyangkut masa depan Yasmin dan Bayu yang dikandungnya" Rey memegang bahu Luna lembut, Luna menghela napas lalu mengangguk.
"Ya Tuhan, bagaimana ini semua bisa terjadi?" Luna mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bila dari cerita Yasmin tadi, semuanya terjadi malam saat pernikahan kita. Bukankah kau masuk ke apartemennya siang itu?"
Luna mulai berpikir dan ia membelalakkan matanya lalu menghela napas kesal.
"Aku baru sadar jam tangan itu adalah milik Samuel, padahal jam tangan itu pemberian dariku dulu" Luna benar-benar makin kesal.
Luna meminjam ponsel Rey, ia menelpon Bobby.
"Bawa dia kesini segera!! Tidak tidak bawa dia ke hotel! Jiraiya yang akan mengurusnya"
"Baik nona"
Bobby yang dari tadi melihat Samuel yang sedang syuting dari kejauhan mulai mendekat ke arah Samuel. Samuel yang mengetahui keberadaan Bobby sangat ketakutan. Bobby berdiri didekat kursi tempat Samuel duduk sebagai artis, Samuel meminta orang yang sedang mendandaninya untuk pergi.
"Apa yang kau mau? Aku tak punya urusan denganmu!!" walaupun dengan suara gemetar Samuel memberanikan diri untuk berbicara dengan Bobby, Bobby menoleh ke Samuel sambil menyeringai.
"Aku pun sebenarnya sudah bosan berurusan denganmu terus menerus tuan muda, namun kelakuanmu itu membuatku harus terus berurusan denganmu. Dan aku tahu dengan pasti kau pasti sudah sangat merindukan pertemuan denganku bukan?" Bobby berjalan memutari kursi Samuel, membuat Samuel merasa terintimidasi.
"Cepat katakan apa maumu!" Samuel sudah sangat ketakutan, tubuhnya bergidik setiap melihat Bobby tersenyum kepadanya.
"Kau benar-benar sudah tidak sabar rupanya" Bobby menepuk pundak Samuel pelan, namun Samuel merinding disentuh Bobby rasanya seperti disayat oleh pisau.
"Baiklah, kau ingin ikut denganku dengan paksaan atau dengan sukarela?" Bobby mendekatkan wajahnya kepada Samuel sambil tersenyum manis, namun sangat menakutkan bagi Samuel.
"Aku tidak mau ikut denganmu!"
"Apa itu artinya kau memilih opsi pertama tuan?" Bobby menyeringai lagi.
__ADS_1
Samuel bangun dari tempat duduknya, ia berusaha untuk lari. Bobby mencegatnya.
"Apakah kau mau, namamu besok menjadi headline surat kabar yang mengatakan 'Ditemukan sesosok mayat aktor yang tengah naik daun, Samuel Diego'?"