
Rara hanya diam.
"Mereka ada pria-pria hebat, apalah aku bila menyukai mereka" ujar Rara tersenyum pahit.
"Heiii kau sangat cantik Rara, tak mungkin ada pria yang bisa menolakmu" hibur Luna.
Mami mengangguk setuju, untuk pertama kalinya setelah sekian lama mami dan Luna sepakat akan satu hal.
"Kau harus lebih relax dan melakukan beberapa perawatan" ujar mami sambil menatap Rara penuh semangat.
"Baiklah, sekarang kau bersiap kita akan ke tempat mami biasa memanjakan diri dan treatment wajah juga tubuh" mami menarik tangan Rara dan menyuruhnya ke kamar mandi.
Rara mengikuti perintah mami, ia berjalan memasuki kamar mandi.
"Armando akan mengawal kalian" ujar Luna santai, mami seperti tak setuju.
"Apa kau akan mencuri start dengan menjadikan pengawal itu pelindung khusus untuk Rara?" kata mami penuh kecurigaan.
Luna terkekeh, maminya memiliki insting yang kuat.
"Bukan begitu mami, Armando sudah tahu ibu dan ayah tiri Rara. Ia akan bisa memantau pergerakan kedua orang itu dengan cepat. Dan juga saat Armando melindungi Rara kemarin ia melakukannya dengan baik" puji Luna, maminya masih saja memasang wajah tak percaya.
"Kemarin kau bilang akan mengirim pengawal itu untuk menjaga ayahnya dan sekarang kau berubah pikiran" tukas mami kesal.
"Aku akan meminta Bobby dan Jiraiya bergantian menjaganya, mereka berada di rumah sakit yang sama" kata Luna dengan senyum puas.
"Apa sebaiknya mami menelpon Ben untuk menjemput mami dan Rara disini?" kata mami seperti menantang.
"Jangan lakukan itu mi, Ben sibuk saat ini. Dia bukan seorang supir yang harus mengantarmu kemanapun" ucap Luna menahan tingkah laku maminya.
"Hem.. kau benar, baiklah mami akan ke hotelnya siang ini untuk menemani Rara berterima kasih" mami bersemangat, ia melangkahkan kakinya keluar kamar dengan gembira.
"Apa ini merupakan perang perjodohan untuk Rara?" pikir Luna sambil tertawa kecil.
"Tapi aku yakin tak akan semudah itu meluluhkan hati suamiku yang baru saja bertemu dengan adiknya" tukas Luna, lalu ia mengikuti langkah mami keluar dari kamar.
♥️♥️♥️
Tak lama mami dan Rara pergi, Rey sampai diapartemen. Wajahnya terlihat sangat lelah, Luna langsung meminta suaminya untuk tidur.
"Aku ingin bersamamu sebentar saja, rasanya lelahku hilang saat melihat wajahmu" ujar Rey sambil memeluk Luna.
Luna tersenyum, rasanya tak pernah habis ia menerima cinta yang begitu besar dari suaminya.
"Aku sudah membuatkan teh hangat untukmu, cucilah tangan dan ganti pakaianmu. Aku akan membawakan tehnya ke kamar"
__ADS_1
Rey enggan melepaskan pelukkannya, ia sangat merindukan istrinya. Luna menepuk punggung suaminya pelan.
"Hubby.." ujar Luna dengan lembut.
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi, rasanya akhir-akhir ini tubuhku terasa dingin karena tidak tidur dalam pelukanmu" Rey membuat wajah Luna bersemu merah.
Luna mengulum senyumnya mendengar perkataan manis suaminya, ia membiarkan Rey dipelukkannya beberapa saat.
"Kenapa kau terlihat sangat manja hubby? Apa kau lelah?" tanya Luna memastikan keadaan suaminya.
Rey menggeleng.
"Aku merasa terlalu banyak hal yang terjadi, terlalu cepat. Membuatku menjadi tidak siap akan semua ini, dan aku memelukmu karena aku bersyukur memiliki istri yang sangat pengertian" Rey mencium leher istrinya, membuat Luna menjadi sangat nyaman.
"Ini hal yang sangat tak biasa, sebelumnya selalu masalah datang dariku dan saat ini kau yang harus menghadapi cobaan yang berhubungan dengan keluargamu sendiri. Apa kau sudah menghubungi Bibi May soal masalah ini?"
Rey melepaskan pelukkannya dan menatap Luna lalu ia menggeleng.
"Mengapa kau tidak memberitahunya?"
"Aku tak ingin mengganggunya, dia saat ini pasti disibukkan dengan kebunnya karena sedang panen bulan ini. Biarkan aku selesaikan masalah ini, setelahnya aku baru akan memberitahunya"
"Baiklah bila itu keputusanmu hubby, sekarang bersihkan badanmu dan ganti pakaian" Luna mengulang kata-katanya.
"Terima kasih sweety" Rey mencium puncak kepala istrinya dan berjalan ke kamar.
Dengan usil Luna menahan tangan Rey dan langsung mencium bibir suaminya dengan gemas.
"Aku mencintaimu hubby" ucap Luna setelah melepaskan ciumannya.
Rey tersenyum dan menyelipkan rambut Luna ke belakang telinganya.
"Aku mencintaimu, lebih dari yang kau rasakan"
Luna mengangguk setuju, selama ini Rey adalah yang terbaik. Tak pernah marah dan selalu mendukung apapun yang dilakukannya, juga melindungi Luna dengan seluruh jiwanya.
Rey masuk ke dalam kamar, ia mandi dan mengganti pakaian. Setelah selesai, Luna sudah menunggu Rey sofa kamarnya.
"Minumlah ini hubby" ujar Luna sambil memberikan secangkir teh untuk Rey.
Rey menerima cangkir pemberian Luna dan duduk disebelah istrinya.
"Terima kasih Tuhan, ini hal yang sangat ku rindukan" kata Rey, Luna menaruh kepalanya dibahu Rey.
"Kau selalu membuatku merasa istimewa, apa kau juga merasa istimewa untukku?" tanya Luna dengan manja.
__ADS_1
"Tentu saja, kau makan makanan yang aku masak saja membuatku sangat istimewa. Kau pasti tahu betapa aku sangat menggilai mu sejak awal bertemu"
Luna mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan wajah senang.
"Oia, apakah Rara sudah dijemput oleh mami?" tanya Rey sambil meletakan cangkir di meja kecil yang ada didekat sofa.
"Mami menjemput Rara pagi tadi dan mengajaknya check up. Setelahnya mereka akan melakukan perawatan wajah dan tubuh" ujar Luna dengan wajah iri.
"Benarkah? Mami sangat memanjakannya" Rey terdengar senang.
"Tentu saja mami menyukai Rara, dia sangat penurut dan membuat mami menjadi sangat gembira karena akan ada putri yang selalu mengikuti apa maunya" Luna terdengar kesal.
"Kau cemburu sweety?" Rey tersenyum usil.
Wajah Luna terlihat terkejut.
"Untuk apa? Bagus kalau mami mendapatkan teman yang cocok untuknya. Jadi dia tidak menggangguku lagi" Luna mengalihkan pandangannya dari Rey.
Rey tertawa kecil lalu memeluk Luna.
"Tak usah merasa gusar, ada aku yang tak akan berpaling kemanapun" hibur Rey.
"Terima kasih hubby, kau yang terbaik. Oia aku ingin bertanya sesuatu padamu"
"Apa itu?"
"Apa menurutmu Rara sudah cukup dewasa untuk memiliki seorang kekasih?" tanya Luna hati-hati, ia takut Rey tak setuju.
"Kekasih? Apa dia menceritakan tentang seorang pria padamu sweety?" Rey terlihat penasaran.
"Tidak juga, namun sepertinya ada yang membuatnya tertarik. Apa kau keberatan hubby?" Luna semakin ragu, karena ia tak bisa membaca ekspresi wajah Rey.
Rey terdiam sesaat, ia terlihat berpikir dengan wajah serius. Luna melihat ke arah Rey dengan penuh penasaran.
"Hubby..?" panggil Luna pelan.
Rey menoleh ke arah Luna.
"Apa menurutmu Rara benar-benar menyukai pria itu?" wajah Rey menunjukkan kekhawatiran.
Luna menjadi agak takut, ia pun khawatir Rey marah.
"Emm.. itu baru perkiraanku saja" Luna memaksakan senyumnya.
"Siapapun itu aku harus mengenalnya dulu"
__ADS_1