
Seketika wajah Yasmin pun berubah menjadi Luna. Yasmin mengajak Samuel masuk ke apartemennya. Mereka saling menautkan bibir mereka membayangkan orang yang mereka cintai.
"Kau tahu Luna, aku begitu menginginkanmu" ucap Samuel sambil melanjutkan tautannya dengan Yasmin.
"Aku juga selalu ingin menghabiskan waktuku denganmu Rey"
Mereka tidak sadar satu sama lain dengan apa yang mereka lakukan dan malam itu berakhir panas di ranjang kamar Yasmin.
Hari sudah mulai siang, Yasmin terbangun dari tidurnya. Kepalanya sangat pusing karena semalam ia mabuk berat. Tangannya menyentuh tubuh Samuel, ia membuka sebelah matanya.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?" Teriak Yasmin, ia pun baru tersadar bahwa dirinya tak berpakaian.
Samuel terlihat enggan untuk bangun, ia hanya membalik tubuhnya membelakangi Yasmin. Yasmin melihat sekitar kamarnya, semua pakaiannya berserakan dilantai.
"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan semalam dengannya" pikir Yasmin, ia mengingat-ingat apa yang terjadi.
Yasmin ingat ia mengajak Samuel masuk ke apartemennya dan mereka bertautan satu sama lain. Ia menutup wajahnya karena malu. Yasmin beranjak dari tempat tidurnya, ia menunduk mengambil pakaiannya dan berlari ke kamar mandi.
Setelah mandi, ia melihat Samuel masih terlelap. ia menggelengkan kepalanya.
"Heiii bangun!!" seru Yasmin dengan menggoyangkan badan Samuel.
"Ini masih pagi mi" jawab Samuel, ia masih malas membuka matanya. Samuel berpikir bahwa maminya sedang berusaha membangunkannya seperti biasa.
"Aku bukan ibumu! Cepat bangun" teriak Yasmin, membuat Samuel terkejut.
Samuel terduduk, ia sadar bahwa ia tak mengenakan pakaian. Ia menutup tubuhnya dengan selimut saat tahu Yasmin ada didepannya melihatnya dengan kesal.
"Kenapa kau ada dikamarku?" tanya Samuel dengan wajah bingung.
"Kamarmu? Ini kamarku!" seru Yasmin kesal.
"Hah?" Samuel melihat sekitar, ia sadari itu bukan kamarnya.
Samuel bangun dari tempat tidur, ia menarik selimut Yasmin dan memunguti pakaiannya.
"Apa yang terjadi semalam?" tanya Samuel heran, ia berusaha menggunakan pakaiannya dari balik selimut.
"Kau tak ingat?" Yasmin balik bertanya dengan nada marah.
Samuel menggeleng, dia terdiam lalu matanya membulat. Ia melihat ke arah Yasmin dan wajahnya berubah terkejut.
"Itu tidak benar-benar terjadi kan?" ujar Samuel dengan wajah kagetnya.
Yasmin memutarkan matanya dan duduk di tempat tidurnya.
__ADS_1
"Ini terjadi diluar kendali kita" ucap Yasmin frustasi.
"Tidak tidak aku tak bisa menikah denganmu!" Seru Samuel dengan wajah tak kalah frustasi.
"Kau pikir aku mau menikah denganmu! Jangan besar kepala Sam!" Seru Yasmin kesal.
"Anggap ini tak pernah terjadi" ucap Samuel, ia sudah selesai memakai bajunya dan langsung keluar dari kamar Yasmin.
Yasmin hanya melihat kesal ke arah Samuel yang sudah menghilang dibalik pintu.
♥️♥️♥️
Di restauran para pegawai membicarakan Rey, mereka mengatakan bahwa Rey bekerja disana untuk memata-matai para pegawai tentu saja hal itu segera dibantah oleh Erika.
"Lebih baik kalian bekerja dengan baik agar tak ada celah bagi seorang pun untuk mengadukan tingkah laku kalian!" seru Erika kesal.
Anne mengelus-elus lengan Erika, Erika menarik napas panjang. Bobby juga sudah tidak bekerja di restauran selepas Rey diakui oleh Luna sebagai suaminya.
"Jangan-jangan kau dekat dengannya karena sudah tahu dia adalah suami dari nona Luna. Dasar penjilat" ucap salah satu pegawai.
Erika terlihat kesal, ia bergerak untuk memukul pelayan yang berkata kasar padanya namun Anne berusaha menahannya.
"Apa-apaan ini, masih pagi dan kalian sudah memperdebatkan sesuatu yang tidak menghasilkan uang sama sekali" James datang dengan wajah datarnya, ia memang seminggu sekali datang ke restauran untuk meninjau perkembangan restauran sebelum benar-benar fokus di hotel.
"Ani buatkan aku kopi, mulutku terasa pahit pagi ini" perintah James, ia sedang mengemut permen saat datang.
Anne mengangguk senang, ia mengambil cangkir dan membuatkan kopi dengan penuh rasa cinta.
"Masih saja dia memanggilmu Ani, katakan padanya bahwa namamu Anne!" seru Erika.
Anne hanya tersenyum simpul, ia seperti tak mendengarkan ocehan Erika pagi itu. Dengan riang gembira ia memasuki ruangan James sambil membawa secangkir kopi.
"Ini tuan kopinya" ujar Anne sambil menaruh kopi diatas meja kerja James, James hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Anne.
Anne sedikit kecewa namun ia hanya tersenyum kecut dan keluar dari ruangan James.
"Kenapa kau terlihat sedih?" tanya Erika saat melihat Anne keluar dari ruangan James.
"Tidak apa-apa kak" Anne berusaha tersenyum.
"Kau harus memiliki mental baja bila menyukai pria bodoh seperti James" pesan Erika santai, Anne hanya tersenyum tipis.
"Sudahlah, kau masih muda. Jangan terpaku dengan satu pria saja, apalagi pria aneh seperti James" Ujar Erika menepuk pundak Anne.
"Iya kak" jawab Anne singkat, ia berusaha fokus memasak.
__ADS_1
James keluar dari ruangannya menuju tempatnya memasak. Ia melihat sekilas kepada Erika dan Anne yang sedang sibuk memasak.
"Ani siangi sayuran ini" perintah James, Anne menoleh ke arah James dan menghampirinya dengan wajah riang.
"Ani Ani, namanya Anne. Jangan menggantinya!" seru Erika sewot.
"Benarkah namamu Anne?" tanya James melihat ke arah Anne yang sedang menyiangi sayuran disebelahnya, Anne mengangguk sambil tersenyum.
"Kenapa selama ini kau diam saja aku panggil Ani?" James bertanya lagi.
"Kau memanggilku saja aku sudah senang" jawab Anne polos.
James hanya melirik aneh kepada Anne dan mengerutkan keningnya. Erika tertawa kecil melihat Anne dan James yang terlihat seperti pasangan lintas usia.
Siang itu Luna datang ke restauran bersama Rey. Semua mata tertuju pada mereka, Bobby yang mengantar mereka dengan senang hati.
"Rey, aku mau menemui Erika sebentar ya" bisik Bobby saat semua makanan Rey dan Luna sudah diperiksa dengan seksama, Rey mengangguk.
Bobby berjalan dengan santai ke dapur, ia melihat Erika sedang sibuk memasak.
"Darling" Bobby memeluk Erika dari belakang.
Erika terkejut, ia hampir saja melukai tangan Bobby dengan pisau.
"Ya Tuhan, maafkan aku honey" Erika mengusap tangan Bobby yang terkena tangannya.
"Aku tidak apa-apa darling" kata Bobby, ia menyematkan rambut Erika ke belakang telinga.
Anne yang melihat kejadian itu disebelah James menjadi iri, ia melirik ke arah James. Namun James hanya fokus pada masakannya.
"Tuan James, apakah kau pernah memiliki seorang kekasih?" tanya Anne dengan suaran pelan.
"Tidak" jawab James singkat.
"Kenapa?" Anne penasaran.
"Aku tak mau membuang waktuku untuk hal-hal semacam itu" jawab James enteng.
"Wanita hanya melihat dari fisik dan keromantisan. Keduanya tidak ada pada diriku" sambungnya lagi.
"Kau tampan dan baik tuan James. Tidak mungkin tak ada yang menyukaimu" ujar Anne sambil melihat ke arah James yang dari tadi menanggapinya tanpa menoleh.
"Tidak ada yang mengajakku berkencan selama ini dan aku tak mau memulainya" kata James sambil melirik sekilas ke arah Bobby dan Erika yang masih asik bersenda gurau.
"Bagaimana bila kita mencoba berkencan?"
__ADS_1