
Akhirnya Samuel ikut dengan sukarela, ia tak tahu apa kesalahannya saat ini namun ia juga takut pada ancaman Bobby. Mereka sampai di hotel Black, Bobby membawa Samuel ke ruangan Luna. Sudah ada Jiraiya menunggunya di dalam. Bobby mengajaknya masuk lalu menutup pintu ruangan, mereka bertiga didalam. Samuel menelan ludahnya perlahan.
"Selamat sore tuan Samuel" sapa Jiraiya yang berdiri didepan meja kerja Luna.
"Ya.. emm selamat sore" Samuel ragu menjawabnya, ada sebuah map coklat yang dipegang oleh Jiraiya ia melihat map itu penasaran.
"Silakan duduk tuan" ucap Jiraiya, walaupun takut Samuel mengikuti arahan Jiraiya.
"Ada apa ini Jiraiya?" bisik Samuel, ia melirik sekilas ke arah Bobby.
"Baik tuan saya akan menjelaskan apa maksud dan tujuan Bobby mengajak anda kesini" ucap Jiraiya, ia mengeluarkan berkas dari amplop yang dibawanya.
"Apa ini?" Samuel makin tak mengerti.
Jiraiya tidak mengatakan apapun, ia hanya memberikan kertas-kertas yang ada didalam amplop itu. Samuel melihat kertas itu dengan seksama, matanya membesar seketika.
"Apa maksud semua ini!!!" seru Samuel kesal, ia melihat foto-fotonya bersama Yasmin saat akan masuk ke apartemen Yasmin.
Jiraiya mengeluarkan berkas lainnya.
"Silakan tuan baca berkas ini dan tanda tangani disebelah sini" ujar Jiraiya dengan suara datar.
Lagi-lagi wajah Samuel menjadi berubah, ia terkejut membaca berkas yang diberikan Jiraiya.
"Yasmin hamil?" katanya panik.
Jiraiya mengangguk, ia menjelaskan isi dalam berkas itu.
"Disini tertulis, berkas sebelah kiri bila tuan tidak mau bertanggung jawab atas bayi itu maka tuan tidak boleh sekalipun mengakui anak itu sebagai anak tuan dan tuan sama sekali tidak memiliki hak atas anak itu sedikit pun. Namun bila tuan ingin bertanggung jawab silakan membaca berkas sebelah kanan"
Samuel menatap mata Jiraiya dalam-dalam.
"Apakah tuan butuh waktu untuk berpikir?" Jiraiya menawarkan opsi untuk Samuel.
Samuel terdiam, ia berusaha berpikir.
Bila aku bertanggung jawab, maka aku harus menikahi Yasmin dan itu akan membuat popularitasku menurun drastis. Apalagi dengan anak yang dikandungnya. Reputasiku akan hancur.
Jiraiya masih menunggu jawaban Samuel.
"Apa resiko bila aku melanggar salah satu perjanjian ini?" tanya Samuel ragu.
__ADS_1
"Semua hukuman untuk tuan akan saya serahkan kepada Bobby"
Samuel melirik kepada Bobby, Bobby tersenyum menyeringai. Samuel segera mengalihkan pandangannya, bulu kuduknya seketika bangkit semua melihat senyum Bobby.
"Bagaimana bila Yasmin yang melanggar isi perjanjian ini? Bisa saja dia mengatakan kepada semua orang bahwa aku ayah dari bayi yang dikandungnya untuk mendapatkan simpati orang" ujar Samuel curiga.
Jiraiya tersenyum tipis.
"Tidak semua orang hanya memikirkan reputasi dan popularitas semata tuan" Jiraiya berkata dengan datar namun sangat menyindir Samuel.
"Baiklah, kau harus bisa memastikannya!" seru Samuel sewot.
"Saya akan menghandle semuanya setelah tuan memutuskan pilihan"
Samuel mengambil salah satu berkas dan menandatanganinya dengan cepat, lalu ia memberikannya kepada Jiraiya dan keluar dari ruangan. Jiraiya melihat berkas itu dan tersenyum.
"Dia memilih sesuatu yang memang sudah kita duga" ujar Jiraiya pada Bobby.
"Apa yang harus lakukan padanya tuan?" tanya Bobby.
"Biarkan saja, dia sudah memilih untuk tidak bertanggung jawab atas nona Yasmin. Aku akan ke apartemen Luna untuk memberitahukan hal ini, ikut aku Bobby"
"Bagus, biarkan Yasmin berpikir aku tak tahu siapa ayah dari bayinya. Jangan sampai ia tahu semua ini" ucap Luna, ia menyerahkan kembali berkas itu kepada Jiraiya.
Jiraiya dan Bobby mengangguk paham lalu segera mereka keluar dari apartemen Luna. Wanita itu ditinggalkan diapartemen Luna.
"Apakah ini adalah hal yang baik untuk Yasmin?" tanya Rey ragu.
"Yasmin tak ingin kita tahu siapa ayah dari bayinya. Jadi anggap saja kita tidak tahu siapa pria itu"
Rey mengangguk-angguk, ia mulai paham apa tujuan Luna. Perlahan Luna bersama wanita yang dibawa Jiraiya masuk ke kamar, Yasmin masih tertidur.
"Yasmin..." panggil Luna, ia membangunkan Yasmin karena hari mulai malam.
"Ya..." Yasmin bangun dengan suara serak.
"Bangunlah, ini sudah petang. Kau harus membersihkan dirimu, tadi aku sudah menyiapkan air hangat untukmu" ucap Luna.
Yasmin mengangguk, ia heran melihat seorang wanita berusia sekitar 30 tahun yang ada dibelakang Luna.
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Dia akan menjadi pelindung dan penjagamu mulai hari ini, namanya Melisa. Dia wanita yang pandai segala hal, mulai dari memasak, membereskan rumah sampai bela diri" kata Luna memperkenalkan pengawal wanita untuk Yasmin.
"Selamat malam nona" wanita bernama Melisa itu menyapa Yasmin dengan ramah.
Yasmin hanya mengangguk ragu, ia melotot pada Luna.
"Dia wanita yang baik, Jiraiya sudah memastikannya. Kau butuh orang yang bisa menjagamu setiap saat, dan dia cukup kuat untuk membantumu"
Yasmin menatap Melisa dengan seksama.
"Ya baiklah" kata Yasmin pasrah, Melisa membantu Yasmin untuk mandi.
Luna tersenyum melihat Yasmin yang menurut padanya. Melisa dipilih bukan tanpa alasan, ia adalah salah satu wanita yang dilatih oleh Jiraiya selama ini. Hanya ada dua wanita yang dilatih oleh Jiraiya namun Melisa adalah yang lebih unggul.
"Bagaimana? Apakah Yasmin menerima Melisa?" Tanya Rey saat Luna keluar dari kamarnya, Luna mengangguk.
"Dia harus menerimanya. Dia tidak mempunyai pilihan lain kan" kata Luna sambil berjalan menuju dapur, Rey mengikutinya dari belakang.
"Apa kau lapar?" tanya Rey, ia membuka lemari es dan mengambil beberapa bahan makanan.
"Ya aku mulai lapar, apa yang akan kau masak untukku?" tanya Luna semangat.
"Baiklah aku akan memasak untuk semuanya"
Rey memasak dengan lihai, Luna sudah lama tidak melihat Rey memasak dengan semangat seperti itu. Luna duduk di meja makan, ia seperti mengenang masa dulu saat ia belum mengakui cintanya.
"Bau apa ini? Ya Tuhan" Yasmin yang baru keluar dari kamar Luna menutup hidungnya rapat-rapat, dibelakangnya ada Melisa yang berjalan dibelakangnya dengan membawa tas-tas Yasmin.
"Apa kau ingin pulang sekarang?" tanya Luna heran.
"Ya tentu saja, aku sudah memiliki Melisa yang akan menjagaku. Aku mual mencium bau masakanmu Rey" kata Yasmin sambil berjalan ke arah sofa.
"Nona apakah saya boleh mengambil buah-buahan untuk nona Yasmin" tanya Melisa, Luna mengangguk.
Dengan lincah Melisa memotong dan menyiapkan buah untuk Yasmin lalu membawakannya untuk Yasmin.
"Kau lihat itu, Melisa sangat pandai memanjakanmu" puji Luna saat melihat keahlian Melisa.
"Setidaknya masih ada keberuntungan yang harus aku syukuri hahaha" Yasmin tertawa, Luna ikut tertawa.
"Dia bahkan jauh lebih baik dari ayah anakmu itu... Upss...!!!"
__ADS_1