
James tercengang dengan tantangan papi Anne, begitupun dengan Anne, Mami dan Yasmin. Mereka mengedipkan mata berkali-kali seolah tak percaya dengan apa yang papi ucapkan.
"Papi.. jangan bercanda" bisik mami agak khawatir, karena bila dibandingkan dengan tubuh James tentu saja papi akan kalah telak.
Papi melirik ke arah mami dengan tatapan tak suka, keputusan papi sudah bulat ia ingin tetap adu panco dengan James. Anne mendekati James.
"Jangan mengeluarkan semua tenagamu" pinta Anne khawatir pada papinya.
James mengangguk setuju.
"Heii.. apa maksud ucapanmu itu Anne? Jangan menyuruhnya untuk mengalah, papi masih memiliki performa seperti prua usia 30 an" ujar papi Anne bangga.
Anne menggigit bibirnya kali ini ia bertambah khawatir. Yasmin menggeleng pada Anne, ia setuju pada papi agar masalah ini bisa cepat terselesaikan.
"Kemari.." perintah papi, ia menaruh sikunya di meja ruang tamu yang terbuat dari marmer.
James menelan ludahnya pelan.
"Bila kau sengaja mengalah aku pastikan kau tak akan bisa menikah dengan Anne, aku tak suka pria lemah!" hardik papi membuat James menjadi bersemangat.
Anne menepuk dahinya pelan melihat tingkah papinya. James berdiri lalu ia duduk dilantai berhadapan dengan papi.
"Ingat pinggangmu" pesan mami dengan nada cemas.
"Kau pikir aku sudah tua? Kau harus ingat, pria yang menikahimu ini adalah pria yang kuat" ujar papi tak mau kalah.
Kegalauan melanda di hati James, bila ia mengalah maka papi akan memisahkannya dari Anne namun jika ia mengerahkan semua tenaganya maka pinggang papi yang akan jadi taruhannya.
"Pi.. jangan bertindak berlebihan. Jika sakit pinggangmu kumat maka mami akan kelimpungan seperti dulu karena kau akan menangis semalaman seperti bayi" Samuel yang keluar dari kamar sambil menggendong Sheryl langsung bicara mengejek papinya.
"Diam kau! Tak usah ikut campur urusanku!" papi tetap pada pendiriannya.
Papi memberi tanda pada James dengan matanya, dengan ragu James menjabat tangan papi dengan posisi siap untuk adu panco. Lengan kekar James sangat terlihat, papi yang melihatnya menelan ludah perlahan menyembunyikan rasa takutnya.
"Pi.. jika kau mau mengurungkan niatmu itu, masih ada waktu" mami masih berusaha mencegah papi.
"Pria pantang mundur dari tantangannya sendiri" kata papi yakin, Anne dan Yasmin hanya bisa menghela nafas panjang.
Papi menatap mata James, ia ingin mengintimidasinya. Dalam batin papi berharap James akan mengalah agar harga diri papi tidak jatuh didepan keluarganya.
"Baiklah kau sudah siap pria besar?" kata papi sambil menyeringai, tingkahnya bak atlet panco profesional.
__ADS_1
James mencengkeram kuat tangan papi, sekali lagi papi menelan ludahnya. Cengkraman James terasa sangat menakutkan namun papi tetap ingin meneruskan permainannya.
"Satu... dua... tiga..." papi sendiri yang memberi aba-aba.
Papi berusaha menggerakkan tangan James yang sama sekali tak bergerak, padahal papi sudah mengeluarkan seluruh tenaganya hingga urat-uratnya keluar.
"Aduh.. pinggang ku.." papi merintih tanpa melepaskan tangannya.
James menjadi khawatir dengan kondisi papi, dan saat James lengah papi segera mengakhiri permainan panco dengan kemenangan. Ternyata rasa sakit itu hanya gurauan papi untuk mengecoh James.
"Dasar orang tua tidak tahu diri" gerutu Samuel yang juga ikut menyaksikan, ia malas melihat kelanjutan tingkah papi jadi Samuel mengajak Yasmin untuk masuk ke kamar karena Sheryl sudah mulai mengantuk.
"Kau baik-baik saja?" bisik Anne pada James saat James sudah kembali ke posisi duduknya.
James mengangguk, memang tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh James karena memang ia mau mengalah namun dengan caranya sendiri.
"Hanya segitu saja kekuatan dari otot-ototmu itu?" papi meremehkan James, James mengangguk karena ia tak mau mempermasalahkan apa yang papi ucapkan.
Papi duduk kembali disofa, ia menyandarkan tubuhnya dengan wajah bangga. James duduk sambil memegangi lengannya, Anne duduk disamping James sambil membantu memijat lengannya.
Papi terdiam kembali, semua mata tertuju pada papi menunggu keputusan.
"Papi serius?" tanya Anne tak percaya.
Papi mengangguk sambil menoleh ke arah mami yang juga masih terpaku setelah mendengar ucapan papi.
"Mami benar-benar tak percaya" ungkap mami sambil berusaha tersenyum dengan wajar.
"Menurut papi tak ada salahnya kita menjadi dekat dengan besan bukan?" kata papi lalu tertawa.
Anne dan James saling bertukar pandang. Anne tersenyum haru dan berjalan untuk memeluk papinya.
"Terima kasih Pi.. kau sangat luar biasa" ucap Anne.
Papi mengelus punggung Anne dengan lembut. Seketika Anne diam, ia melepaskan pelukkannya.
"Lalu untuk apa papi dan James adu panco?" tanya Anne heran.
Papi tertawa lagi.
"Papi hanya ingin tahu seberapa besar rasa hormatnya pada orang tua, ia tidak melawan bahkan mengangguk saat papi meremehkannya. Ya setidaknya dia bukanlah menantu yang akan mengajak papi berdebat tentang banyak hal" ungkap papi.
__ADS_1
Anne tersenyum, ia menoleh ke arah James dan mengedipkan sebelah matanya. Kini tak ada masalah yang perlu ia khawatirkan lagi tentang pernikahannya dengan James.
♥️♥️♥️
Pagi itu Bobby sedang berada diluar rumah, menunggu Rey datang. Rey akan belajar membuat cookies dengan Erika untuk menu baru di kedai.
"Akhirnya kau datang.." sapa Bobby saat Rey keluar dari mobil.
"Maaf aku agak terlambat, Alioth sangat manja padaku akhir-akhir ini. Dia tak mau berebut Luna dengan Avior" ujar Rey menjelaskan alasannya.
"Tak masalah.. Erika sudah menunggumu"
Bobby mengajak Rey masuk, Erika sedang menggendong Bintang diruang tamu.
"Apa kau sudah sarapan Rey?" tanya Erika, ia terlihat sangat keibuan.
"Ya aku sudah sarapan pagi ini, Luna membuatkanku omellete" ujar Rey.
"Nona muda bisa memasak sekarang?" kata Bobby agak terkejut.
"Dia membuatnya susah payah, aku mendengar beberapa kali ia membentak para pelayan karena dua kali gagal membuat omellete" tukas Rey sambil tertawa kecil.
"Yaa ya ya sifat pemarah nona muda memang tak bisa dipungkiri" Bobby ikut tertawa.
"Kalau kalian membicarakan kak Luna lagi, nanti aku akan mengadukannya" kata Erika sambil terkekeh.
Erika menyerahkan Bintang ada Bobby dan mengajak Rey ke dapur, Rey datang ke sana karena ia tak mau membuat Erika meninggalkan Bintang dirumah.
"Ini bahan-bahan yang kau perlukan" ujar Erika, memperlihatkan bahan yang ia siapkan diatas meja dapur.
Erika memulai membuat cookies, Rey mengikutinya dengan seksama. Setelah selesai dan dimasukan kedalam oven, Erika membuatkan Rey teh hangat dan duduk di meja makan.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Erika?" tanya Rey.
"Keadaanku baik, bahkan aku sering tak bisa tidur. Bisa jadi itu karena aku selalu merindukan Bintang" ujar Erika dengan wajah senang.
"Apa Bintang selalu rewel pada tengah malam?"
"Ya begitulah, aku bergadang sendiri. Aku kasihan pada Bobby yang terlihat mengantuk bila ikut terjaga untuk menenangkan Bintang"
"Wah.. ternyata kau banyak berubah.."
__ADS_1