Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Ketahuan


__ADS_3

Rey mengecek siapa yang datang dari layar yang ada di apartemen. Ternyata Jiraiya yang datang, Rey membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.


"Selamat sore nona, saya membawakan beberapa obat untuk anda" ujar Jiraiya sambil menyerahkan kantong plastik putih dengan merk sebuah apotik di bagian luarnya.


Luna mengedip-ngedipkan matanya kepada Jiraiya, ia memberi kode kepada asistennya itu. Jiraiya paham.


"Ini tuan Rey obatnya, rawatlah nona dengan baik. Karna bila sakit nona akan sulit tidur bila harus dikamar sendirian" Jiraiya memuluskan kebohongan Luna. Luna tersenyum saat Jiraiya menoleh padanya untuk pamit.


Dia pantas mendapatkan bonus


Pikir Luna dalam hati.


Rey mengantar Jiraiya keluar dari apartemen Luna.


"Apakah kau ingin minum obat sekarang nona?"


"Taruh saja itu dikamarku, aku akan meminumnya saat hendak tidur"


Rey melangkah ke kamar Luna, ia hendak menaruh obat Luna di meja kecil sebelah tempat tidur Luna. Lalu ia kembali lagi ke ruang tamu, duduk didekat Luna.


"Apakah kau ingin sesuatu nona?" Luna menggeleng, ia fokus pada layar televisi.


Rey ikut menonton televisi. Rasa ngantuk menyerang Rey, ia terkantuk-kantuk. Luna melihat Rey semakin gemas. Akhirnya Rey benar-benar tertidur dalam posisi duduk.


Pelan-pelan Luna menyentuh tengkuk Rey.


Ini sangat lembut, Ya Tuhan aku ingin menggigitnya.


Luna merana dalam hati, karna tentu saja bila ia melakukannya pasti Rey akan terbangun. Luna bangun perlahan, dan berjongkok didepan Rey.


"Ternyata kau memang tampan" Luna menyentuh rambut Rey, dan menelusur ke bibir Rey.


Hap...


"Apa yang kau lakukan?" Luna terkejut, ia berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Rey.


"Jangan sakiti nona mudaku! Aku akan melindungi nona dengan seluruh hidupku!"


Ternyata Rey bermimpi, dalam mimpi pun Rey selalu ingin melindungi Luna. Luna tersenyum, ia membiarkan Rey memegang tangannya.


"Itu sangat lucu, bermimpi lah lagi tentangku" ucap Luna sambil tertawa kecil tanpa mengeluarkan suara.


"Tidak tidak nona jangan marah lagi, aku akan membuatkanmu makanan yang enak. Aku mohon maafkan aku, aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi malam itu!" Rey bermimpi lagi namun kali ini Luna cemberut.


Apakah dalam mimpinya aku segalak itu?


Luna ingin memukul Rey, namun ia mengurungkan niatnya dan tetap memandangi Rey yang sedang tertidur pulas.


Tiba-tiba Rey membuka matanya, Luna panik. Rey terkejut melihat Luna ada didepannya dan tangannya menggenggam tangan Luna, Rey langsung melepaskan genggamannya takut Luna marah.


"Apa kau sudah sehat nona?" Rey memandang Luna heran, Luna berdiri dan kembali berbaring di sofa.

__ADS_1


"Kau tadi mendengkur, aku hanya ingin menghentikan dengkuranmu yang kencang itu karna sangat mengganggu pendengaran ku!" Luna mencari alasan, Rey menutup mulutnya karna malu.


Bagaimana aku bisa mendengkur keras saat sedang bersama nona?!!!


Gerutu Rey dalam hati, ia menyesali kebodohannya saat tidur.


"Sudah mulai malam, aku akan menyiapkan makanan untukmu nona" Rey beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur sambil menggaruk kepalanya menahan malu.


Luna ingin tertawa terbahak-bahak namun ia menahannya dan hanya tersenyum puas.


"Apakah nona mau bubur lagi?"


"Tidak, gigiku masih baik-baik saja buatkan aku makanan lain yang pedas"


"Kau sedang sakit sebaiknya jangan makan yang pedas dulu nona" Rey mengingatkan, Luna ingin memukul dirinya sendiri karna hampir saja ia ketahuan.


"Owh iya.. Aku mau bubur lagi saja" ucap Luna.


Rey menghangatkan bubur yang td dibuatnya agar Luna dapat memakannya dalam keadaan hangat.


"Silakan nona" Rey menyerahkan bubur itu kepada Luna, Luna menahan dirinya untuk meminta Rey menyuapinya.


"Aduh panas.." lagi-lagi Luna mencari alasan agar Rey lebih memanjakannya.


"Pelan-pelan nona, biar aku menyuapimu ya"


"Baiklah kalau kau memaksa" ucap Luna seolah acuh.


"Setelah ini kau harus minum obat nona" Rey tersenyum, Luna semakin lama semakin gemas kepada Rey.


"Heii kau, kemari" perintah Luna.


Rey menaruh mangkok diwastafel cuci piring lalu menghampiri Luna.


"Berikan tanganmu" Rey heran tapi melakukan apa yang Luna minta.


"Hap... arrgghhh" Luna menggigit lengan Rey dengan kencang.


"Waduuuuuh sakiit nona" teriak Rey, Luna seakan puas menggigit Rey.


"Itu adalah hukuman karna kau mendengkur tadi" Luna tersenyum menyeringai lalu berjalan ke kamar.


Rey melihat bekas gigitan Luna, ia meniupnya pelan sambil mengusapnya. Ia hanya bisa menerima dengan senang apapun yang Luna lakukan padanya.


Ting tong...


Ada yang datang, Rey langsung membuka pintunya.


"Haii Rey, mana Luna?" Yasmin langsung masuk, dan melihat sekitar apartemen.


"nona sedang ada dikamarnya"

__ADS_1


"Baiklah aku akan menjenguknya, kau tetap disini saja ya. Aku ingin merawatnya penuh kasih sayang" ucap Yasmin menekankan penuh kekesalan pada setiap kata-katanya.


Rey mengangguk paham lalu menuju dapur untuk mencuci piring.


Yasmin membuka pintu kamar Luna, Luna terkejut melihat Yasmin.


"Kejutaaaaan....." ucap Yasmin kesal.


Luna menjadi gugup, ia harus bisa mencari alasan agar Yasmin tidak curiga padanya.


"aaaah kau datang menjengukku, terima kasih sahabatku yang cantik"


"Kau terlihat sangat sakit, Luna! Apa perlu aku menyiapkan pemakaman untukmu!"


"Tak perlu sampai seperti itu, aku akan kembali sehat segera" Luna mengibaskan tangannya, sambil menoleh ke arah lain.


Yasmin menatap Luna penuh kecurigaan dan tanda tanya sedangkan Luna menutupi rasa gugupnya.


"Bagaimana kau bisa sakit secepat itu? Apakah kau memesan online rasa sakitmu itu?" Yasmin menginterogasi Luna dengan tatapan membunuhnya.


Luna berusaha melepaskan diri dari tatapan Yasmin.


"Hahaha apa-apaan pertanyaanmu itu, aku sakit karna salah makan setelah pulang dari galerimu" Luna mencari-cari alasan namun matanya menghindari tatapan Yasmin.


"Ooowwh begitu, benarkah? Apa yang kau makan? Sebaiknya kita tuntut restauran yang membuatmu sakit" ledek Yasmin. Luna menggaruk keningnya dengan jari telunjuk.


"Sudahlah Luna, aku mengenalmu cukup lama. Jangan bermain-main dengan ku!"


"Hahaha apa yang kau katakan, aku benar-benar sakit. Uhuuuk uhuukk... kau lihatkan aku batuk"


"Kau pandai sekali mengarang Luna! Seharusnya kau dapat piala Thomas!!!" ucap Yasmin kesal. (Harusnya Oscar Yasmin, tapi ya kau sedang marah. Bebas)


"Hhh kau ini! Apa yang kau mau??" Akhirnya Luna mengeluarkan suara ketusnya.


"Harusnya aku yang bertanya apa maumu!! Kau ingin menghalangiku berkencan dengan Rey kan??!!!!"


"Iya!!! Kenapa????!!!" mereka saling berteriak.


"Tiidak apa-apa!!! Tapi aku mau kita bersaing secara sportif!! Jangan seperti ini" Yasmin mulai bisa membaca perasaan Luna.


"Bersaing?? Apa kau bercanda? Ambilah dia jika kau mau" Luna mulai menyombongkan dirinya lagi, ia terlalu yakin Rey akan tetap bersamanya.


"Jangan menyesal bila Rey akan lebih memilihku yang selalu memperlakukan dia dengan baik!" Yasmin tak kalah ngotot dari Luna. Luna agak panik namun ia pandai menyembunyikannya.


"Jangan menangis bila kata-katamu tak menjadi kenyataan" Luna menyeringai.


"Bila kata-kataku menjadi kenyataan kau lah yang akan menangis!!!"


Tok tok tok


"Nonaa apakah ada sesuatu yang terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2