Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Tak Keberatan


__ADS_3

Rara menceritakan apa yang terjadi direstauran pada Luna.


"Apa?! Tidak mungkin! Mata-mataku tak ada yang melaporkan hal semacam itu padaku?" ujar Luna heran.


"Aku tidak berbohong kak, malahan mami meminta pada pria itu untuk berkunjung ke sini" ujar Rara antusias.


"Apa yang mami pikirkan?Baru kemarin dia berkata ingin memiliki pasangan dan hari ini dia sudah akan mengajak seorang pria dan ayahnya ke rumah"


"Aku juga berpikir yang sama, namun pria itu sepertinya sangat dekat dengan mami. Apakah kau kenal dengan pria bernama James?"


Luna mengedipkan matanya saat Rara menyebut nama James.


"James??"


"Iya kak, pria yang aku maksud bernama James. Dia tampan dan tinggi, gayanya sangat keren" ungkap Rara.


Luna tertawa dan bisa bernafas lega.


"Pantas saja tak ada pemberitahuan padaku tentang pria itu. Apa kau tidak tahu siapa James?" tanya Luna sambil menahan tawanya.


Rara menggeleng dengan polos.


"Dia itu calon suami Anne" Luna terkekeh lagi.


Rara membulatkan matanya karena terkejut.


"Tapi pria itu sepertinya lebih tua daripada kak Rey" ujar Rara.


"Usianya udh lebih dari 30 tahun, tentu saja dia lebih tua dari Rey" ungkap Luna.


"Bagaimana bisa Anne menikah dengan pria yang berbeda usia jauh darinya" Rara menjadi heran.


"Cinta tak mengenal batasan usia" ujar Luna sambil menahan tawa.


"Begitu ya.. hemm.. aku sendiri tak tahu usia Armando" tutur Rara seketika memikirkan kekasihnya.


Luna menatap tak percaya kepada Rara.


"Armando itu baru berusia 22 tahun, dia masih muda dan pandai" ujar Luna memberitahukan sebuah hal tentang Armando.


"Kenapa kau tak bertanya padanya selama ini?" sambung Luna.


"Aku merasa tak enak hati menanyakan usia orang lain, apalagi Armando. Aku takut itu akan melukai harga dirinya" ujar Rara jujur.


"Bila kau bertanya hal itu pada mami maka itu akan melukai harga dirinya.. Hahaha" Luna terkekeh.


Rara menatap Luna dengan heran.

__ADS_1


"Apakah mami sudah setua itu?" Rara menjadi penasaran.


"Emm.. mami masih muda. Dia menikah usia 20 tahun, ya seusiamu ini" kata Luna.


"Pantas saja mami masih sering bergaya seperti anak muda, usia mami masih belum genap 50 tahun" Rara terkejut.


Luna mengangguk.


"Mami menikah dengan papi karena papi jatuh cinta padanya pada pandangan pertama dan memaksa untuk menikah sedini mungkin karena takut mami menikah dengan orang lain" Luna mengingat cerita papinya saat ia masih kecil.


"Itu kah yang membuat kak Luna tidak mengizinkan mami untuk menikah lagi?" tanya Rara, Luna mengangguk lagi.


"Papi begitu setia hingga akhir hayatnya, namun terkadang aku berpikir bahwa mami memang membutuhkan pendamping untuk menemaninya" Luna kembali berpikir.


"Lalu apa yang membuat kak Luna bersikeras menentangnya?"


"Tentu saja karena aku tak mau mami menikah dengan sembarang orang! Bila mami sampai menikah dengan pria hidung belang maka disisa usianya hanya akan ada penyesalan, jadi aku harus memastikan kalau mami mau menikah lagi pria itu harus pria yang baik" ujar Luna yakin.


"Wah.. ternyata dibalik tindakan kak Luna tersimpan misi yang baik untuk mami"


"Aku sangat menyayangi mami, dia satu-satunya orang tua yang aku miliki. Rey juga sangat menyayanginya, dan kau melengkapi semuanya" Luna membelai rambut Rara dengan lembut.


"Kalian lah yang melengkapi kehidupanku" Rara memeluk Luna.


Ponsel Luna berdering, Rey menelponnya.


"Aku keluar dulu" bisik Rara sambil berjalan ke arah pintu keluar kamar si kembar.


"Untuk apa kau menelponku?" Armando ada dihadapan Rara, ia baru saja masuk ke dalam.


"Eh.." Rara menjadi gugup, ia merasa sangat malu.


"Bila kau merindukanku, cukup sebutkan namaku tiga kali maka aku akan datang" ujar Armando sambil tersenyum.


Rara tersipu mendengar ucapan Armando, ia mengangguk.


"Apakah aku bisa mendapatkan hal yang sama bilas menyebut namamu tiga kali?" tanya Armando, membuat Rara gelagapan.


Armando tertawa.


"Kau tak perlu melakukannya, karena setiap kau merindukanku maka hatiku akan segera tahu" kata Armando lagi.


Rara menunduk, ia tak bisa membalas mata Armando.


"Baiklah, aku harus menemui nona muda"


Armando berjalan melewati Rara dan masuk ke kamar Alioth dan Avior. Rara memperhatikan Armando sampai sang kekasih menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


♥️♥️♥️


Yasmin dan Samuel kembali ke apartemen, setelah 3 hari menginap dirumah orang tua Samuel. Sheryl sudah terlelap dan Yasmin menaruhnya di box.


"Yasmin.. aku ingin bicara denganmu" ujar Samuel dengan wajah serius.


Yasmin memicingkan matanya, ia selalu curiga pada Samuel.


"Jika kau ingin mencoba merayu dan mengatakan cinta, aku sedang tidak ingin menganggapimu Sam" ujar Yasmin sambil duduk dimeja riasnya untuk menghapus riasannya.


"Kau terlalu berpikir buruk tentangku" Samuel bersungut-sungut.


Yasmin menoleh ke Samuel, ada rasa bersalah dihatinya.


"Baiklah.. katakan apa yang ingin kau bicarakan" ucap Yasmin sambil kembali melihat wajahnya dicermin.


Samuel terlihat antusias Yasmin mau mendengarkan ucapannya.


"Aku sudah memikirkan ini sudah lama, namun aku tak yakin kau akan setuju. Tapi setelah kita menginap beberapa hari di rumah mami, tekadku menjadi semakin kuat"


Yasmin heran, ia menoleh kembali ke arah Samuel.


"Tekad apa?" Yasmin penasaran.


"Aku ingin membeli rumah dan kita akan pindah ke sana" Samuel terlihat senang dengan rencananya.


Yasmin terdiam, ia tak menyangka Samuel memikirkan keluarga kecil yang tak pernah diinginkannya sampai sejauh itu.


"Kenapa kau ingin begitu?" Yasmin bertanya dengan nada penasaran.


"Sheryl akan tumbuh besar, aku tak membayangkan jika ia harus tumbuh di apartemen ini. Bukankah sebaiknya Sheryl bisa berlarian di taman dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar?"


Yasmin makin tak percaya.


"Apa kau baik-baik saja Sam?" Yasmin menghampiri Samuel dan memegang dahinya.


Samuel meraih tangan Yasmin dan menggenggamnya.


"Aku baik-baik saja Yasmin, aku ingin kita benar-benar membangun rumah tangga yang sesungguhnya dan kita akan memulainya dari sebuah rumah" Samuel menatap erat wajah Yasmin.


Yasmin terkesima dengan ucapan Samuel, ia membalas tatapan Samuel.


"Kau tidak sedang menghafalkan naskah drama barumu kan Sam?" Yasmin kembali memicingkan matanya.


Samuel tertawa, Yasmin mendengus kesal.


"Kau benar, aku memang mendapatkan ide itu dari naskah dramaku. Namun aku sungguh-sungguh ingin membangun keluarga yang bahagia bersamamu dan Sheryl. Dan dengan adik-adik Sheryl nanti" Samuel menarik turunkan alisnya membuat Yasmin tersenyum.

__ADS_1


"Aku ingin rumah yang besar dengan kolam renang, dan pastikan kamarku bersebelahan dengan kamar Sheryl" ucap Yasmin sambil berjalan kembali ke meja riasnya.


"Apa itu artinya kau tidak keberatan kita tidur bersama dalam satu kamar saat punya rumah nanti?"


__ADS_2