
"Jangan bermimpi!" ujar Luna ketus.
Rey menaruh jari telunjuknya ke bibir Luna dan menggeleng.
"Tersenyumlah, cantikmu tertutup dengan emosi" goda Rey, Luna tak dapat menahan senyumnya.
Rey mencoba setelan jasnya, saat keluar dari kamar ganti. Luna dan Yasmin melihat Rey dengan takjub, persis seperti pertama kali mereka melihat Rey memakai jas. Mereka kompak terpana.
"Dia terlihat tampan kan?" bisik Luna memulai pembicaraan ringan dengan Yasmin tanpa ia sadari.
"Ya kau benar, ia tidak terlihat seperti seorang koki restauran" ucap Yasmin.
"Bila kau sudah bosan padanya berikan dia padaku" sambung Yasmin, Luna melirik ke arah Yasmin.
Yasmin menoleh ke arah Luna, seperti sebuah De Javu bagi mereka berdua. Lalu mereka saling melempar senyuman dan tertawa.
Rey merasa heran namun juga bersyukur karena Luna dan Yasmin mulai mencair satu sama lain.
"Apa yang membuat kalian terlihat begitu senang?" tanya Rey menghampiri Luna dan Yasmin, Rey memeluk Luna dari belakang.
"Kami merasa seperti mengulang kejadian awal bertemu denganmu" Luna terkekeh.
"Ya benar, kami berdua sama-sama terpana melihatmu saat memakai jas untuk pernikahan" Yasmin juga tak dapat menahan gelak tawanya.
"Bahkan Yasmin berkata bahwa kau tampan" kata Luna geli.
"Kau mengatakan dia seperti member idol terkenal" Yasmin melempar celotehannya.
"Itu semua sudah berlalu, kini aku bahagia dengan Rey. Bisakah kau benar-benar merelakannya bahagia denganku Yasmin?" Luna tersenyum, ia memegang tangan Yasmin.
"Tentu saja, aku sangat ingin melihat cinta dimata Rey dan cinta itu aku lihat saat Rey memandangmu. Tak mungkin aku menghancurkan cinta itu" ucap Yasmin membalas pegangan tangan Luna.
Yasmin mendekati Luna dan memeluknya. Luna menyambut baik pelukkan Yasmin.
"Mungkin kau bisa mulai menyukai pria lain, Yasmin. Dengan Samuel misalnya" goda Luna sambil melepaskan pelukannya.
Yasmin bergidik dengan wajah jijik.
"Pria manja dan menyebalkan itu? Iih tidak. Aku heran kenapa dulu kau bisa tergila-gila dengan pria seperti Samuel" Yasmin balas meledek Luna.
"Kau itu ya, hahaha dulu aku buta dengan ketampanannya. Tapi sekarang suamiku lebih tampan dan dia baik seperti malaikat" Luna memeluk Rey.
"Kalian terus-menerus memamerkan kemesraan didepanku. Bisakah kalian punya perasaan sedikit terhadap jomblo seperti ku?" keluh Yasmin.
"Segeralah temukan pasangan yang tepat. Tapi jangan dekati Bobby, dia akan segera menikah" Luna mengingatkan.
__ADS_1
"Pria gila itu? Dia bukan lah type ku. Dia terlalu liar dan terlalu banyak tersenyum. Itu membuatku takut" Yasmin bergidik lagi.
"Kau terus menolak semua pria. Bagaimana bisa kau menikah Yasmin" Luna tertawa.
"Pasti aku akan menikah, bila ada yang setidaknya memiliki sifat baik seperti Rey" ucap Yasmin sambil menatap Rey penuh kekaguman.
"Hentikan tatapanmu itu atau aku akan memukulmu" ujar Luna kesal.
Yasmin tertawa, Luna dan Rey juga tertawa lepas.
"Oia kenapa dengan kakimu? Apa kau sakit Luna?" tanya Yasmin.
Luna dan Rey saling menatap lalu Luna menceritakan kejadian yang dialaminya. Yasmin menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku Luna, aku tak ada disampingmu pada masa sulitmu itu" kata Yasmin menyesal.
"Sudahlah Yasmin, aku tak apa-apa. Setelah ini aku akan lebih memperhatikan kesehatanku dan mulai program hamil normal"
"Aku berharap tak ada lagi sesuatu hal yang buruk menimpamu" Yasmin menggenggam jemari Luna, Luna mengangguk.
"Dan kau Rey, maafkan aku yang hampir membuatmu terbunuh. Bila aku berhasil membunuh Bobby, maka hanya akan ada penyesalan dalam hidupku. Terima kasih untuk pengorbanan mu"
"Aku hanya menepati janjiku pada Erika, kekasih Bobby. Mereka berdua sahabat terbaikku" jawab Rey sambil tersenyum.
"Syukurlah, sikapmu padaku bahkan tidak berubah sedikit pun. Tuhan harus menciptakan pria seperti mu untukku!" kata Yasmin bersemangat.
"Baiklah, aku akan memotret kalian untuk dokumentasi awal. Bisakah aku menjadi pendampingmu Luna?" Yasmin bertanya ragu.
"Apakah ada yang lebih pantas selain kau?" Luna balik bertanya.
"Ya Tuhan, kau banyak berubah" Sekali lagi Yasmin memeluk Luna.
"Bersiaplah, aku akan mengambil gambar...
Satu.. dua.. tiga.. Senyum"
♥️♥️♥️
Restauran sudah akan tutup, James masih ada diruangannya. Anne terus-menerus mengintip ke dalam.
"Sudah masuk saja sana" Erika mendorong tubuh Anne yang kecil.
"Aaah aku malu kak" wajah Anne memerah.
"Dia itu pria bodoh yang tak mengerti wanita, bila kau menunggu dia mengantarmu pulang. Maka yang terjadi adalah kau akan tidur di restauran sampai pagi" ujar Erika, ia kembali mendorong tubuh Anne.
__ADS_1
"Tidaaak kak, aku masih punya harga diri" Anne masih menolak.
"Harga diri katamu?" Erika menepuk keningnya kesal, ia menatap Anne dalam-dalam.
"Dengarkan aku bocah kecil. Selama aku di restauran ini, tak ada satupun pegawai wanita disini yang suka pada James. Karena dia kaku, dingin dan menyebalkan , ya walaupun dia baik juga karena pernah mengantarku pulang saat sakit. Tapi tetap saja aku sangat malas melihat tingkahnya, satu-satunya wanita yang pernah suka dengannya hanya ibu kos ku dan kau!" ujar Erika gemas.
"Tidak mungkin, Tuan James terlihat sangat keren dan menggemaskan. Mereka saja yang tak bisa melihat pesonanya" Anne membela James.
"Ya Tuhan..." Erika menggelengkan kepalanya.
"Jadi bagaimana? Kau mau memintanya mengantarkan mu atau tidak? Bobby menungguku dan aku harus pulang"
"Tunggulah sebentar lagi kak" Anne memohon.
Karena gemas, Erika akhirnya masuk ke ruangan James.
"James, pulanglah. Restauran sudah tutup" ujar Erika.
"Apa yang kau katakan?" tanya James datar.
"Pulang, ya aku memintamu untuk pulang" Erika mengulang kata-katanya.
"Kau menyuruhku pulang?" James melihat malas pada Erika.
Erika mengangguk yakin.
"Ayo pulang. Ini sudah malam, bukankah ayahmu sedang sakit? Kau harus menjaganya" Erika mendekati James Daan menarik tangannya.
James berdiri, ia mengambil tasnya lalu mengikuti Erika keluar dari ruangan. Anne menunggu tepat di depan ruangan James, ia terkejut melihat James keluar.
"Apa yang dia lakukan disini?" James bertanya heran namun ia seperti acuh.
"Oia, hari ini Anne tidak dijemput. Jadi tolong antar dia. Terima kasih James. Byee...." Erika berlari sambil melambaikan tangan keluar dari pintu belakang restauran.
James dan Anne melihat aneh kepada Erika yang sudah menghilang dibalik pintu. Anne melihat ke arah James yang sedang mengunci pintu ruangannya.
"Baiklah, dimana rumahmu?" tanya James sambil berjalan keluar sambil menyalakan rokoknya.
"Rumahku di pusat kota" jawab Anne malu-malu, ia berlari kecil mengikuti langkah besar James.
"Kau tak keberatan bila aku antar?" tanya James lagi, ia tak menoleh sedikitpun pada Anne.
"Tidak masalah, uhuuk uhuukk.." Asap rokok James terkena wajah Anne.
James menoleh ke arah Anne, wajah Anne seketika pucat dan keluar lendir dari hidungnya.
__ADS_1
"Maaf tuan aku memiliki alergi rhinitis.. ha.. haassst siimmm...."