Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Berusaha Menemukan


__ADS_3

Bobby baru sadar setelah sehari pingsan karena kehilangan banyak darah, dia berada disebuah ruangan rawat inap.


"Erika..." panggil Bobby pelan hanya nama itu yang ada dibenaknya, ia masih merasa lemas dan bahu sebelah kanannya sangat sakit bekas tertembak.


"Kau sudah sadar?" suara seorang pria menyambut Bobby dengan nada lega.


Pria itu segera keluar dari ruangan dan memanggil dokter. Dokter segera memeriksa keadaan Bobby, peluru yang sempat bersarang di tubuh Bobby sudah berhasil dikeluarkan.


"Keadaannya mulai stabil, namun ia masih harus dirawat beberapa hari disini" ujar Dokter lalu keluar dari ruangan Bobby.


Pria bernama Louis itu memperhatikan Bobby, Bobby masih setengah sadar dan terlihat bingung.


"Aku dimana?" tanya Bobby sambil melihat sekitar.


"Kau ada klinik desa ini, aku Louis. Aku menemukanmu terkapar dipinggir pantai" ucap pria itu dengan wajah senang.


"Pinggir pantai?" Bobby masih bingung.


"Apa kau tenggelam? Tidak tidak.. kau pasti berkelahi dengan seseorang dan ia menembakmu kan?" tebak Louis karena dia berpatokan dari luka yang ada di bahu Bobby, Bobby melihat ke arah lukanya dan mengangguk.


"Emm apakah seorang buronan?" mata Louis membulat dan terlihat takut.


"Tidak pak, saya.. aduh.. " Bobby tak bisa melanjutkan kata-katanya karena bahunya terasa sakit.


"Apa kau ingin aku memanggilkan dokter lagi untukmu?" tanya Louis khawatir, Bobby menggeleng.


"Apakah kau menemukan ponselku?" Bobby bertanya sambil menahan sakitnya.


"Yang kutemukan hanya dompetmu, ini.." Louis menyerahkan dompet Bobby yang sudah mulai mengering.


"Terima kasih, aku bukan buronan. Aku tertembak saat bertugas" kata Bobby sambil menaruh dompetnya di meja dekat tempat ia tidur.


"Kau seorang polisi?" Louis menduga-duga lagi, Bobby menggeleng lagi.


"Aku tak bisa mengatakan apa pekerjaanku namun aku bukanlah penjahat pak. Bolehkah aku meminjam ponselmu?"


Louis menggeleng, bukan karena ia tidak mau Bobby menggunakan ponselnya namun memang ia adalah orang desa yang tidak memiliki ponsel. Untuk berkomunikasi dengan dunia luar kepala desa menyiapkan beberapa komputer dan telepon untuk warga disana.


"Ya Tuhan..." keluh Bobby, ia terlihat frustasi.


"Apa kau ingin menghubungi seseorang?" Bobby mengangguk.


"Berikan aku nomornya dan aku akan menelponnya dari kantor kepala desa" ujar Louis.


Bobby berpikir sejenak, lalu ia meminta Louise menuliskan nomor ponsel yang ia sebutkan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera ke kantor kepala desa dan menelponnya"


"Tunggu, pakai uang ini untuk membeli beberapa pakaian ganti untukku" Bobby memberikan beberapa lembar uang yang ada dompetnya kepada Louis, mata Loius terbelalak dengan banyaknya uang yang Bobby berikan.


Louis adalah pria miskin namun ia pria yang jujur bahkan saat menemukan dompet Bobby ia sama sekali tak berani membukanya.


"Baiklah..."


Dengan tangan gemetar Louis menerima uang dari Bobby. Ia segera menuju kantor kepala desa, banyak orang yang mengantri menggunakan telepon. Saat tiba giliran Louis, ia segera menekan nomor ponsel yang Bobby berikan namun ia salah terus menekannya karena gugup.


"Akhirnya bisa tersambung..."


Triiing.... triiing.... triiing...


"Hallo... "


"Apakah saya bicara dengan Erika?"


"Ya.. ini saya Erika, siapa anda?" suara Erika seperti tidak senang ada nomor asing menelponnya.


"Sa.. saya.. ingin memberi kabar tentang Bob..."


Tut... tut... tut...


Tiba-tiba telpon terputus, ada gangguan signal ditempat itu yang membuat semua jaringan terganggu.


Erika mencoba menelpon kembali nomor yang menghubunginya namun tak bisa karena itu hanya nomor yang dipakai untuk menelpon.


"Ya Tuhan.... Bobby..." ketegaran Erika seketika runtuh lagi.


"Ada apa Erika?" Jiraiya yang berada di dekat Erika menjadi panik melihat putrinya sedih kembali.


"Orang ini menelpon untuk memberitahukan tentang Bobby ayah.." kata Erika dengan mata merah.


"Berikan nomornya pada ayah.."


Jiraiya segera meminta bawahannya untuk melacak nomor yang menelpon Erika.


Sementara itu, Louis kembali ke klinik dengan wajah muram. Ia membawa baju yang Bobby minta namun tidak berhasil memberitahukan keberadaan Bobby.


"Apa kau punya kapal? Sejauh apa dari sini ke kota?" tanya Bobby, ia benar-benar ingin segera bertemu Erika.


"Ya aku punya, itu adalah peninggalan ayahku dulu.. jarak dari sini ke kota dengan kapalku sekitar 6 jam.."


"Antar aku ke kota sekarang.." Bobby bersikeras keluar dari klinik, ia yakin Erika pasti mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Oke.."


Louis membantu Bobby untuk bangun, Bobby merenggangkan badannya, ia menahan semua rasa sakitnya. Bobby beralasan ingin berobat ke kota karena semua keluarganya ada disana. Pihak klinik setuju dan memberi rujukan kepada Bobby.


"Ini kapalku, ayo kita segera berangkat sebelum gelap. Kau masuklah ke dalam, biar aku yang mengarahkan kapalnya" ujar Louis, Bobby mengangguk paham.


♥️♥️♥️


Jiraiya dan Rey sudah mengetahui asal tempat nomor yang menelpon Erika, mereka langsung menuju desa nelayan Edelweis.


"Semoga saja benar Bobby ada disana, jaraknya cukup jauh. Bagaimana bisa Bobby terbawa air hingga kesana?" pikir Rey.


"Mungkin air laut yang deras yang membawanya, aku bersyukur bila memang Tuhan masih melindunginya.." ujar Jiraiya, wajahnya menampakkan kekhawatiran yang mendalam.


Saat perjalanan ke desa Eidelweis, kapal yang ditumpangi Jiraiya dan Rey berpapasan dengan kapal Louis. Namun karena Bobby ada didalam mereka hanya berpikir Louis adalah nelayan yang sedang mencari ikan.


"Kehidupan nelayan sangat menarik, bahkan hanya sendirian dia berusaha mendapatkan ikan" Rey mengomentari kapal nelayan Louis yang berada di samping kapalnya.


"Ya begitulah.." Jiraiya nampak tak semangat membahasnya.


"Semoga hari ini kau beruntung tuan...!!" teriak Rey pada Louis yang berada diluar kapal.


"Ya terima kasih tuan..." balas Louis.


Bobby tertidur selama perjalanan jadi ia tak mendengar apapun lagi pula deru ombak membuatnya semakin terbawa dalam mimpi indah bertemu Erika.


"Kita sudah sampai" ucap Jiraiya saat kapalnya berlabuh di desa nelayan Eidelweis.


Ia dan Rey terlihat sangat antusias menginjakan kaki didesa itu. Jiraiya langsung menuju ke kantor kepala desa untuk menanyakan keberadaan Bobby.


"Apakah yang kau maksud pria dengan luka tembak di bahu kanannya?" ujar kepala desa itu.


Rey dan Jiraiya terlihat terkejut, benar Bobby ada disana.


"Ya benar tuan, dimana saya bisa bertemu dengan pria itu?" tanya Rey bersemangat.


"Sepertinya dia masih berada di klinik. Anak buahku yang akan mengantar kalian ke sana"


Rey mengangguk, ia terlihat tak sabar bertemu dengan Bobby. Mereka sampai di klinik dan menemui resepsionis.


"Maaf tuan tetapi pasien dengan nama Bobby sudah keluar dari klinik dua jam yang lalu"


"Apa?!!!"


Rey terkejut bukan main begitu pula Jiraiya. Ia mengusap wajahnya kasar, mereka sudah sejauh ini dan hampir menemukan Bobby namun yang mereka cari tidak dapat ditemukan.

__ADS_1


"Kemana kau Bobby?"


__ADS_2