
Komen dan Like ya pembaca sayang, supaya aku makin rajin UPnya Hihihi... ❤️❤️❤️
Seperti biasa Rey dan Bobby sampai di restauran lebih pagi dari pegawai lainnya, belum apa-apa Rey sudah disuguhkan drama percintaan Bobby dan Erika yang bertengkar pagi itu.
"Aku mau lihat lukamu itu, pasti kau tidak mengobatinya dengan baik kan? Aku sengaja membawa kotak obat ayah untukmu" Erika memperlihatkan kotak obat yang dibawanya, sebuah kotak berwarna putih dengan gambar + berwarna merah dibagian atas tutupnya.
"Tidak perlu, aku sudah merendamnya dengan air hangat dan memberinya obat merah. Sebentar lagi ini akan sembuh. Jangan membesar-besarkannya darling" ucap Bobby santai.
"Cepat berikan lenganmu, biar aku obati!" Erika berteriak.
Rey yang gemas dengan tingkah laku mereka akhirnya memegangi tangan Bobby dan memberikannya pada Erika. Dengan cepat Erika memegang lengan Bobby dan mengobatinya, Bobby hanya meringis menahan sakit.
"Pelan-pelan, yang kau pegang itu tanganku bukan ranting kayu" ucap Bobby sambil menutup matanya.
"Jika kau tidak memberontak terus aku akan lebih cepat mengerjakannya! Diamlah sedikit. Kacamata bantu aku memeganginya!!" perintah Erika.
Sambil tersenyum senang Rey mengikuti perintah Erika, ia memegangi Bobby.
"Arrgghhh kalian benar-benar menyiksakuuu..." keluh Bobby, ia tak bisa bergerak.
"Selesai.." Kata Erika puas.
Rey melepaskan pegangannya sambil tertawa.
"Bagaimana bisa kalian begitu kompak dalam hal menyiksaku" gerutu Bobby lalu ia berjalan ke kamar mandi.
"Lihat gayanya kacamata, dia seperti jagoan tetapi sangat takut saat lukanya diobati" ujar Erika sambil membereskan kotak obatnya.
"Kau harus paham kelakuannya" jawab Rey santai.
"Semalam Bobby berkata padaku bahwa pekerjaanya adalah melindungimu dan nona muda, terkadang aku berpikir ayah dan Bobby sama-sama mempertaruhkan nyawa mereka untuk kau dan nona. Bahkan si bodoh itu tidak memperdulikan keselamatannya sendiri"
"Bobby adalah pria yang bertanggung jawab pada pekerjaannya"
"Ya kau benar, aku hanya sedikit khawatir bila suatu saat dia datang kepadaku dalam keadaan luka parah. Aku bisa gila bila terjadi sesuatu yang buruk kepadanya" ujar Erika sambil menatap Rey dan berjalan ke atas tasnya untuk menaruh kotak obat.
"Aku akan selalu mengingatkannya untuk berhati-hati"
"Terima kasih kacamata, semoga saja bila kau yang bilang padanya dia akan lebih mendengar. Aku lelah bertengkar dengannya hanya karena hal itu"
"Tak perlu khawatir bila dia bersamaku, aku juga masih bisa menjaga diriku dengan baik"
"Aku percaya padamu kacamata, namun sayangnya kau tak bisa percaya lagi padaku" ujar Erika sedih.
"Jangan bicara begitu, kau hanya perlu membuktikan bahwa kau tak akan mengulang perbuatan yang sama. Aku berjanji akan menjaganya untukmu" Rey menepuk pundak Erika, Erika tersenyum.
__ADS_1
"Ya, aku akan membuktikan pada ayah dan Bobby bahwa aku tidak akan berbuat hal bodoh lagi yang dapat membuat mereka berdua repot"
Rey mengangguk dan berjalan bersama Erika ke tempat mereka harus mulai memasak.
♥️♥️♥️
Malam itu seperti biasa Bobby pulang mengantarkan Rey, Erika sudah diantarkan duluan karena .
"Udara terasa dingin malam ini" kata Rey sambil melihat sekitar.
Bobby melemparkan pandangan ke jalanan.
"Ya kau benar, pantas saja jalanan terlihat sepi. Semua orang sedang berada dirumah untuk menghangatkan diri"
"Sebaiknya kita mampir untuk minum teh di sebuah kedai" usul Rey.
"Apakah nona tidak menunggumu?"
"Luna masih mempersiapkan diri untuk ke negara KS, Jiraiya menemaninya malam ini"
"Pantas saja kau mengajakku keluyuran malam ini" Bobby tertawa lepas.
Rey memukul bahu Bobby pelan.
Ciiiitt...
"Turun kalian!" seru salah satu pria.
"Malam ini sangat dingin, kami sedang tidaak ingin berkelahi" jawab Bobby santai, ia dan Rey tidak beranjak dari motor.
"Cepat turun!" seru mereka lagi.
"Aku sedang berbaik hati malam ini, cepat singkirkan mobil itu dari jalanku" Bobby masih enggan menanggapi ketiga orang itu.
Dua orang pria maju dan menggebrak motor yang dikendarai Bobby.
"Apa yang kalian mau? Apa kalian orang suruhan tuan aktor tampan?"
Kedua pria itu saling berpandangan, mereka memegang stang motor dan memaksa Bobby dan Rey turun dengan sengaja menariknya ke atas.
Bobby dan Rey dengan sigap turun dan menghindar.
Brak...
Mereka melempar motor itu.
__ADS_1
"Kalian benar-benar sedang mencari masalah denganku!" Bobby mulai marah.
"Tenanglah Bobby, jangan terpancing dulu" ucap Rey mencegah Bobby menyerang duluan.
"Kami dibayar untuk melumpuhkanmu!" mereka menunjuk Bobby.
"Aku? Apa masalah kalian" Bobby merentangkan tangannya.
"Kau tak perlu tahu! Yang pasti nyawamu itu adalah incaran kami!!"
Dua orang yang ada dihadapan Bobby dan Rey menyerang, Bobby dan Rey langsung menghindar. Mereka satu lawan satu sedangkan satu orang hanya memperhatikan dari tanpa beranjak.
Kedua orang itu sangat ahli bela diri, sepertinya orang yang membayar mereka sangat tahu Bobby dan Rey bisa bela diri.
"Hati-hati Rey!!!" Bobby memperingatkan Rey.
"Aku bisa mengatasinya, kau urus saja punyamu!" balas Rey.
Keduanya sibuk melawan dua orang yang sepadan dengan mereka. Mereka saling memukul dan menendang satu sama lain, pertarungan yang sengit terjadi malam itu.
Rey tersungkur, ia hampir kalah. Dia berada dibawah orang yang melawannya, kaki orang itu berada di dada Rey. Sedangkan Bobby berada di posisi menang, namun keduanya diposisi terjepit tak bisa menolong satu sama lain.
"Aku akan memanggil bantuan" ujar Bobby santai, ia mengeluarkan ponselnya. Itu membuatnya menjadi sedikit kurang waspada.
Satu orang yang dari tadi hanya melihat saja berlari ke arah Bobby, ia mengeluarkan sebilah pisau dari sebuah tempat yang terbuat dari kulit. Bobby tidak menyadarinya, namun Rey melihat dengan jelas orang itu. Rey menendang orang yang berada diatasnya sekuat tenaga dan dengan kecepatan penuh ia mendorong tubuh Bobby membuat Bobby terkejut.
"Bobby awaaaass!!!!" Teriak Rey ia bermaksud menolong Bobby.
Orang yang membawa pisau terkejut, ia menggoreskan pisau dilengan Rey.
"Kau salah sasaran!" kata pria yang daritadi melawan Bobby.
"Ayo cepat pergi" kata pria lainnya yang melawan Rey.
Entah mengapa mereka tidak menyerang lagi.
"Rey.. kau tidak apa-apa?" Bobby melepaskan ponselnya.
"Aku tidak apa-apa mereka hanya menggores lenganku" Rey menunjukan lukanya.
Bobby melihat luka Rey, ada yang aneh dengan luka itu. Namun Rey menepuk bahu Bobby.
"Kepalaku sedikit pusing, ayo kita pulang" ajak Rey, ia hampir terjatuh Bobby memegangi Rey.
Bobby menoleh ke arah Rey, bibirnya membiru. Tak lama Rey langsung pingsan.
__ADS_1
"Ya Tuhan!!! Pisau itu mengandung racun!!!!!"