Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Merasa Bosan


__ADS_3

"Darling.. ini sudah malam, lebih baik kita beristirahat" Bobby memegang tangan Erika dan menghentikannya untuk berdiri.


Erika menatap tajam ke arah Bobby.


"Kau tak ingin mengantarku honey?" kata-kata Erika terdengar bak ancaman untuk Bobby.


Bobby menggeleng, lalu mengangguk. Menggeleng lagi lalu mengangguk lagi, ia bingung untuk menjawab pertanyaan Erika.


"Honey???" Erika memastikan jawaban suaminya.


"Kau serius ingin pergi sekarang? Sudah lewat dari pukul 10 dan aku tak yakin ada dokter yang mau melakukan USG malam-malam begini" Bobby mencoba menenangkan Erika.


"Bila kau tak mau mengantarku, maka aku akan memintanya kepada ayah" Erika melepaskan genggaman Bobby dan bangkit dari tempat tidur.


"Darling..." Bobby langsung berdiri dan berlari mengejar Erika yang hendak membuka pintu kamar.


"Oke.. oke.. aku akan mengantarmu. Ayo kita bersiap" ucap Bobby dengan wajah serius.


"Kau benar-benar suami yang pengertian" ucap Erika senang sambil mencubit pipi Bobby pelan, ia membalik tubuhnya dan berjalan menuju lemari pakaian.


"Ya Tuhan.. baru pertama kali aku menyesali ideku sendiri" ratap Bobby dalam hati.


Bobby menyiapkan mobil, tak lama Erika keluar dengan wajah berseri-seri. Sepanjang jalan Erika memainkan ponselnya sambil bersenandung, Bobby menahan rasa kantuknya dan terus menguap.


Mobil memasuki halaman rumah sakit, Bobby memarkirkan mobilnya dan menoleh ke Erika. Ia menghela napas panjang, Erika tertidur dalam perjalanan.


"Darling.. kita sudah sampai.." Bobby mencoba membangunkan Erika perlahan.


Erika tak bergeming, ia tetap tertidur dengan pulas. Bobby mengusap wajahnya pelan. Ponsel Bobby berbunyi, Luna menelpon.


"Bobby.. katakan pada Erika, besok pagi aku ingin pergi ke dokter bersama-sama dengannya" ujar Luna dengan suara santai.


"Baik nona" suara Bobby bergetar.


"Oke, kita berangkat pukul 8 pagi sebelum kau dan Rey ke kedai"


Klep..

__ADS_1


Luna menutup teleponnya, Bobby menatap Erika yang tertidur disebelahnya dan memukul setir pelan.


"Kenapa tadi aku tidak bertanya saja pada nona? Sekarang aku sudah didepan rumah sakit malam-malam dan istriku tertidur"


♥️♥️♥️


Dokter Bianca sudah memeriksa Erika dan Luna, menurut hasil USG bayi Erika berjenis kelamin perempuan dan si kembar keduanya adalah anak laki-laki.


"Ini sebuah kebetulan, kau pernah meributkan hal tentang menjodohkan anak kita dengan anak nona Yasmin dan sekarang kenyataannya.. Hahaha" Bobby tertawa, Erika mencubit lengan Bobby dengan kencang.


"Jangan mengingat hal yang memalukan itu Bobby" Luna membela Erika, Erika mendekatkan diri pada Luna.


Luna merangkulnya. Erika memegang lengan Luna dengan manja.


"Kalian berangkatlah ke kedai, aku ingin mengajak Erika untuk mendaftar senam hamil" ucap Luna lalu berjalan bersama Erika.


Rey dan Bobby menatap istri mereka masing-masing sambil tersenyum. Sementara itu, Yasmin sudah mengetahui kabar mengenai jenis kelamin calon bayi Erika dan Luna. Ia sangat senang.


"Emm.. aku harus mulai memikirkaan hadiah yang cocok untuk mereka" ucap Yasmin pada Samuel yang sedang bermain dengan Sheryl.


Putri mungilnya sudah mulai bisa tengkurap, Samuel makin suka bermain dengannya.


"Hem.. kau benar, aku hampir lupa untuk memikirkannya. Tapi saat ini aku sedang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapapun" jawab Yasmin yang seolah-olah seperti seorang gadis.


"Benar-benar kau ini, hubungan serius apanya? Kita sudah menikah dan kau tinggal mengatakan kau juga mencintaiku maka pernikahan ini menjadi sempurna" Samuel agak sewot.


"Semua pria yang menyukaiku harus berusaha keras untuk mendapatkan cintaku. Berusahalah lagi Sam" Yasmin tersenyum puas.


"Kadang-kadang aku bingung bagaimana bisa aku mencintai wanita yang sangat jual mahal sepertimu" Samuel frustasi.


Ia memeluk Sheryl yang ada dihadapannya.


"Lihat itu mamamu, dia sangat jual mahal. Jangan salahkan papa bila nanti kau terlambat memiliki adik" kata Samuel kepada Sheryl.


Yasmin memukul lengan Samuel dengan kesal.


"Jangan mengajarkan hal yang tidak baik kepada putriku. Lagipula adik apa? Aku tidak berniat hamil dalam waktu dekat"

__ADS_1


"Kau benar-benar berniat untuk menyiksaku Yasmin?" Samuel mendengus kesal.


"Tapi aku heran, bagaimana bisa kau mencintai suami Luna dengan mudah? Pria itu sangat biasa, bahkan ia tak pernah berusaha mendapatkan mu" sambung Samuel sambil berpikir.


"Rey adalah pria yang berbeda, dia baik dan sopan. Pria seperti dia bisa mendapatkan cinta Luna merupakan hal yang sangat luar biasa. Huh.. lagi pula apa yang Luna lihat darimu saat itu? Kau itu menyebalkan dan tidak setia" Yasmin melirik kesal ke arah Samuel.


"Ya Tuhan.. mudah sekali kau menjelekkan suami sendiri. Aku pria berkualitas tinggi, kualitas super. Semua wanita mengantri untuk menjadi kekasihku..."


"Ya ya ya kau benar, bahkan dirimu sendiri sering memuji wajah tampan dan tubuh berototmu dicermin. Iya kan?" ujar Yasmin dengan nada meledek.


"Apa salahnya mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurna?" Samuel membela diri.


Yasmin menghela napas panjang, bila sudah berbicara mengenai kenarsisan Samuel maka pembicaraan tak akan ada habisnya.


"Terserah apa katamu, aku malas membahas mengenai apa yang ada dalam dirimu" ucap Yasmin lalu keluar dari kamar.


Tak lama ia kembali lagi dengan membawa botol susu untuk Sheryl.


"Apakah sudah waktunya Sheryl untuk tidur siang?" Samuel seperti tak rela, ia masih ingin bermain dengan putrinya.


"Ini sudah pukul 11 Sam, kau tidak berangkat syuting? Bukankah kemarin Gio mengatakan syuting dimulai pukul 12?" Yasmin mengingatkan.


"Oh iya kau benar, aku segera bersiap" ucap Samuel, ia bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


"Masuklah jika Sheryl sudah tidur" Samuel berkata dengan nada usil.


"Berharap lah dalam mimpimu" jawab Yasmin.


Yasmin menaruh Sheryl di boxnya setelah terlihat pulas, ia mencuci botol susu putrinya dan makan buah cherry sambil menonton televisi.


"Acara apa ini? Bagaimana bisa aku melihat Sam di rumah ini dan ditelevisi dalam waktu yang bersamaan" keluh Yasmin dalam hati.


Ia mengganti saluran televisi, muncul lagi wajah Samuel dalam sebuah iklan produk minuman. Yasmin hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apa televisi hanya menayangkan wajahnya saja? Ini seperti tak ada aktor lain yang bisa dijadikan model ckckck, dunia mulai di kuasai oleh pria berbadan besar itu" Lagi-lagi Yasmin mengeluh.


Yasmin kembali mengganti channel televisinya. Tidak ada wajah Samuel, ia menaruh remote televisi dan mulai menikmati tayangannya. Samuel keluar dari kamar, ia hampir siap untuk pergi.

__ADS_1


"Baru saja aku lepas dari wajahmu yang ada dilayar televisi dan kini wajah aslimu muncul di depan mataku"


__ADS_2