
"Apa begitu caramu mencium?" Suara Luna terdengar sangat kesal.
Yasmin tersenyum menyeringai, Rey sangat gugup.
"Sepertinya aku mengajarimu cara berciuman yang benar Yasmin" ucap Luna.
Luna berjalan mendekati Yasmin dan Rey, ia mengelap bibir Rey dengan kasar dan langsung menautkan bibirnya ke bibir Rey dengan mesranya. Rey yang terbawa dengan tautan Luna merespon dengan cepat.
Yasmin melihat Luna dan Rey yang sedang berciuman menjadi geram. Luna menyelesaikan tautannya lalu ia menoleh ke arah Yasmin.
"Apa kau tahu Yasmin, kau yang sudah menyadarkanku betapa baiknya Rey. Dan saat ini kau mau membuatnya seperti seorang pengkhianat seperti Samuel? Hahahaha itu hanya membuatku tertawa"
Yasmin tak dapat berkata apa-apa, karna Luna mengatakan hal yang benar.
"Apa maksud semua ini?" tanya Rey bingung.
"Sudahlah Rey kau tak perlu memahami apapun saat ini. Ayo kita pergi" ajak Luna sambil menarik tangan Rey.
"Aku harus mengganti bajuku dulu" Rey menahan langkah Luna.
"Berapa harga baju yang dikenakan Rey? Aku akan mentransfernya ke rekeningmu" ucap Luna enteng.
Yasmin hanya menatap geram ke arah Luna.
"Satu hal lagi Yasmin, jangan berpikir untuk mengambilnya dariku. Karena itu hanya membuatmu terlihat jahat dimatanya. Ayo Rey kita pergi"
Rey berlari mengambil tasnya lalu pergi bersama Luna.
"Aku harus pergi nona, terima kasih" ucap Rey lalu berjalan mengikuti Luna.
♥️♥️♥️
Luna dan Rey sampai di apartemen. Wajah Luna masih terlihat kesal.
"Apa yang membuatmu datang ke galeri Yasmin!!" bentak Luna.
Rey tidak dapat menjawab apapun.
"Kenapa kau diam?! Bahkan kau tak izin padaku untuk menemuinya!"
Rey masih tidak menjawab, mulutnya rapat dan Rey adalah type pria yang tidak suka berbohong.
"Jawab aku!!" Luna berteriak.
"A... aku... hanya ingin membantu nona Yasmin..."
"Membantu apa?!" Luna gemas menunggu jawaban dari Rey, ia berjalan ke arah dapur dan mengambil sekaleng bir lalu meminumnya.
Rey berlari menghampiri Luna dan mengambil kaleng bir dari tangan Luna.
__ADS_1
"Baik baik.. aku akan mengatakannya, tolong jangan ancam aku dengan minum bir nona" Rey memohon kepada Luna.
Luna memalingkan wajahnya dari Rey.
"Nona Yasmin mengatakan ia ingin membuat pesta ulang tahun untuk mu. Aku ingin ikut serta dalam kejutan itu jadi aku datang ke galerinya untuk mengetahui bagaimana rencana kejutannya" ucap Rey polos.
Luna menatap Rey lekat, Rey benar-benar pria yang baik. Bahkan dia melakukan apapun untuk Luna.
"Dan kau... langsung percaya begitu saja?" Tanya Luna dengan nada meledek.
Rey mengangguk malu.
"Ulang tahunku masih dua bulan lagi, dan kau hanya diperdaya olehnya!" ujar Luna lalu mengambil kaleng bir dari tangan Rey dan berjalan ke sofa lalu duduk disana.
Rey terkejut, ia baru sadar bahwa ia telah dibohongi oleh Yasmin dan ciuman itu ditujukan untuk membuat Luna cemburu.
"Ya Tuhan....." pekik Rey, membuat Luna tertawa.
"Bila kau ingin pergi ke suatu tempat apalagi itu berurusan dengan Yasmin, kau harus izin dulu padaku!" tegas Luna sambil terus meminum bir.
Rey mendekati Luna, ia berdiri dihadapan Luna.
"Lalu apa makna ciuman tadi?" Rey bertanya sambil menatap lurus ke arah Luna, Luna menjadi salah tingkah.
"Emmmm itu.... " Luna berpikir keras, ia tak mungkin menjawab kalau ia sudah lama menginginkan ciuman itu.
"Apa kau keberatan dengan ciuman itu!!" Luna akhirnya menjawab dengan ketus karena ia kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan Rey.
Wajah Rey yang tengah malu itu membuat Luna menjadi gemas.
"Apa aku menyukai ciuman Yasmin juga?" tanya Luna menyeringai.
Rey menjadi gugup, ia menggeleng pelan. Luna menahan tawanya dan berjalan ke kamar.
"Nona.." panggil Rey.
"Ya.. ada apa?" Luna menoleh ke arah Rey, Rey langsung memeluk Luna.
"Terima kasih untuk semua kepercayaan mu kepadaku" ucap Rey, lalu ia melepaskan pelukannya.
Luna menarik tangan Rey dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Rey yang terkejut seperti ingin menolak ajakan Luna.
"Ada apa nona?" tanya Rey heran setelah ia dan Luna sama-sama sudah berada didalam kamar.
Luna memegang dada Rey yang bidang.
"Apa kau menyukaiku?" bisik Luna ditelinga Rey.
"Ya tentu saja" jawab Rey cepat.
__ADS_1
Luna langsung menarik kepala Rey dan menautkan bibirnya ke bibir Rey, mereka berciuman dengan sangat mesra. Sore itu mereka habiskan didalam kamar Luna berdua tanpa ada gangguan dari manapun.
Mereka saling melepaskan hasrat keinginan yang selama ini dipendam. Lalu mereka terhanyut dalam perasaan masing-masing dengan melepaskan kepuasannya bersama-sama.
"Terima kasih nona" Rey mencium kening Luna yang ada dipelukkannya, Luna sudah terlelap karena lelah.
Pukul 12 malam Rey terbangun, ia tersadar Luna masih ada dalam pelukannya. Rey tersenyum sambil menatap Luna, ia mencium bahu Luna yang masih terlelap lalu beranjak dari tempat tidur.
Rey keluar dari kamar Luna dan menuju kamar mandi. Ponselnya berdering, itu dari nomor yang tak dikenalnya.
"Siapa yang menelpon tengah malam begini?" pikir Rey.
Rey mengangkat telponnya.
"Kacamata... tolong aku, mereka menculik ku" suara Erika ada diseberang telpon.
"Erika? Kau dimana!!" Seru Rey, ia langsung panik.
"Aku tidak tahu, mataku ditutup oleh mereka. Beritahu Bobby untuk menolongku, hiks" Tangis Erika mulai pecah.
"Hahaha, bila kau ingin menyelamatkan temanmu yang berharga datanglah ke gudang yang ada dibelakang taman dekat danau" suara pria yang berbicara disamarkan itu membuat Rey bergidik.
"Jangan sentuh dia!" seru Rey.
Telpon dimatikan, Rey langsung menelpon Bobby namun tidak ada jawaban. Rey segera mengambil tasnya dan berganti pakaian lalu berlari ke lokasi yang telah ditentukan oleh sang penculik.
Rey sudah sampai dilokasi yang telah ditunjukan oleh penculik. Dari belakang Rey langsung dipegangi oleh dua orang berbadan besar.
"Lepaskan aku!!! Lepaskan!!!" Rey memberontak sekuat tenaga, namun pria besar itu memegang Rey dengan kuat dan membawanya masuk ke dalam gudang.
Samuel sedang duduk didepan Erika yang tangan dan kakinya diikat disebuah kursi. Matanya ditutup.
"Erika!" teriak Rey.
"Kacamata apa itu kau? tolong selamatkan aku, aku sangat takut" seru Erika sambil menangis.
"Kau sudah datang, bawa dia ke sana!" bentak salah satu orang yang ada disebelah Samuel, ia tak berkata apapun disana.
Rey dibawa masuk ke sebuah ruangan kedap suara, Samuel berjalan memasuki ruangan itu dengan angkuh.
"Apa yang kau inginkan!" Seru Rey geram.
"Aku tidak menginginkan apapun selain Luna" jawab Samuel santai.
"Kau hanya harus meninggalkannya dengan luka agar dia mau kembali kepadaku" sambungnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkannya!!"
"Tidak masalah bila itu pilihanmu, itu artinya kau akan membiarkan teman berhargamu itu merasakan indahnya malam pertama digudang ini" Samuel tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Rey berada dalam situasi yang sulit. Ia mencari celah untuk kabur namun ia juga harus menolong Erika.
"Jangan terlalu lama berpikir, karna waktuku tidak banyak"