
Dari jauh, Erika melihat Bobby yang hendak dibawa oleh sekelompok orang.
"Apakah itu Bobby?" pikirnya sambil berusaha mendekat.
Matanya terbelalak melihat Bobby akan dibawa oleh orang-orang itu, lalu ia berteriak.
"Toloooong.... tolong......!!!!!" ia berteriak sekuat-kuatnya, dua orang yang menjadi bagian dari orang yang akan membawa Bobby mengejar Erika.
Bobby yang melihat Erika dikejar berusaha melepaskan diri. Ia mengeluarkan ilmu bela dirinya.
"Jangan menyulitkan kami tuan" ucap salah satu orang yang berada dekat dengan Bobby.
"Apa maksudmu?" Bobby bertanya namun masih siap siaga dengan kuda-kudanya.
"Ikutlah dengan suka rela dan kami tak akan menyakitimu"
Orang-orang itu menjaga jarak dari Bobby, tak lama dua orang yang mengejar Erika sudah kembali dengan memegangi Erika.
"Lepaskan akuuuu!!! Lepaskan!!!" teriak Erika.
"Jangan sakiti dia! Aku akan ikut dengan kalian"
"Tidak Bobby, jangan!!!"
"Tidak apa-apa Erika, aku akan baik-baik saja" ucap Bobby sambil tersenyum.
"Jangan Bobby!!! Aku takut mereka menyakitimu" Erika mulai terisak.
Anehnya orang-orang itu diam saja melihat drama yang ditunjukkan Bobby dan Erika, tak ada perlawanan atau paksaan dari satu orang pun disana.
"Tak apa mereka menyakitiku, asalkan tidak menyakitimu" ucap Bobby tersenyum lagi.
Erika berusaha melepaskan diri, kedua orang yang memeganginya melepaskannya. Ia memeluk Bobby.
"Jangan pergi" ucap Erika lirih.
"Aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu" tangis Erika semakin pecah.
"Aku menyukaimu Bobby, aku juga tak ingin kau terluka"
Melihat pernyataan Erika, orang-orang itu bertepuk tangan. Bobby dan Erika heran.
"Baiklah tugas kami sudah selesai"
Tanpa ada penjelasan apapun, orang-orang itu pergi sambil merangkul satu sama lain dan bersenda gurau.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Erika bingung.
Bobby dan Erika saling menatap, Erika tersadar lalu melepaskan pelukannya. Wajahnya berubah merah.
"Si****n kau Rey" ucap Bobby senyum menyeringai.
*Flashback*
"Terima kasih Jiraiya sudah mau mengantarku pulang" ucap Rey saat masuk ke dalam mobil, ia duduk didepan bersama Jiraiya.
"Sudah tugas saya membantu tuan muda" jawab Jiraiya membuat Rey tersenyum.
__ADS_1
"Maaf aku merepotkan mu, tapi saat ini Bobby sedang tidak bisa mengantarku. Jangan marahi dia, aku mohon"
Jiraiya diam saja, terbersit sedikit rasa kesal diwajahnya kepada Bobby.
"Dia memang anak nakal ya?" ucap Rey sambil menerawang jauh, Jiraiya sedikit melirik ke Rey.
"Aku sudah lama mengenalnya, dari dulu dia adalah anak yang bebas dengan gaya yang keren. Kami sangat dekat, dia banyak membantuku karna aku lemah. Saat dia pergi aku merasa sangat kesepian, dan aku senang kau membawanya untukku" ucap Rey sambil menoleh ke Jiraiya lalu tersenyum.
"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk tuan muda, karna saya tahu tuan muda juga memberikan yang terbaik untuk nona"
Rey terkejut mendengar ucapan Jiraiya.
"Apakah kau tahu bahwa dia teman lama ku saat menetapkannya menjadi pengawalku?' tanya Rey penasaran.
"Ya tentu saja tuan" ucap Jiraiya datar.
"Saya mencaritahu tentang tuan muda mulai dari keluarga, teman-teman dan semua masa lalunya. Awalnya saya juga terkejut karna Bobby memiliki masa lalu dengan tuan muda jadi saya rasa ia cocok menjadi pengawal pendamping tuan agar tuan tidak merasa selalu diawasi" cerita Jiraiya.
"Terima kasih Jiraiya kau memikirkan ku sampai sejauh itu"
"Itu sudah tugas saya tuan"
"Apakah kau bisa membantuku satu hal?" tanya Rey sambil tersenyum usil.
"Ya tuan, apa yang bisa saya bantu?"
Rey membisikan sesuatu kepada Jiraiya.
"Apakah tuan tidak berlebihan pada Bobby? Anak itu akan menjadi kurang ajar bila tuan memanjakannya"
"Itu sudah tugasnya"
"Ayolah Jiraiya, aku yakin kau juga ingin dia bahagia kan"
Jiraiya diam saja, memang Jiraiya menyayangi Bobby karna ia sudah mengenal dan merawat Bobby selama 7 tahun.
"Baiklah bila itu yang tuan inginkan"
"Ya malam ini mereka akan bersenang-senang" Rey tertawa puas.
*Back On*
Suasana canggung masih meliputi Erika dan Bobby, Erika menutup wajahnya rapat-rapat.
"Ayolah jangan begitu, ayo kita pergi" ucap Bobby sambi tertawa lepas, Erika menggeleng malu.
"Kenapa kau malu? Aku juga menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu dari awal melihatmu. Dan aku tidak malu"
Erika masih menggeleng, ia benar-benar malu dengan apa yang diucapkannya. Bobby memegang tangan Erika dan melepaskan wajah Erika dari tangannya sendiri.
"Ayolah, aku lapar" ucap Bobby sambil tersenyum lebar.
"Bila benar ini ulah si kacamata besok aku akan memukulnya!" ucap Erika gemas.
"Kau bisa melakukan apapun padanya, Hahaha tapi jangan sampai ia tergores karna aku bisa kena masalah"
"Kenapa begitu?" Erika bertanya heran.
__ADS_1
"Yaa karna dia akan membalas dendam kepadaku"
Bobby membonceng Erika dan menuju kedai mie tempat mereka makan kemarin.
♥️♥️♥️
Rey sampai di apartemen dengan hati yang riang, ia membuka pintu dan melihat Luna yang sedang duduk di sofa lalu memandang melas kepadanya.
"Ada apa nona?" Rey langsung menghampiri Luna dan memegang kedua pipi Luna agak kencang.
"Aku lapar"
Rey paham, ia segera menaruh tasnya dan mencuci tangan. Memasak makan malam untuk Luna adalah kebahagiaan yang hakiki untuknya, apalagi bila melihat pipi Luna menggembung karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Cepatlah perutku sudah sangat keroncongan" Luna mengeluh sambil menaruh kepalanya disisi atas sofa.
Tak lama Rey menyelesaikan masakannya, ia tersenyum senang. Luna penasaran melihatnya.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada nona, aku hanya sedang senang saja"
"Ceritakan padaku sambil temanin aku makan" ucap Luna lalu menyuap makanannya.
"Baiklah tapi sebentar nona aku mau ke kamar kecil" ucap Rey dan berlari ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit Rey sudah kembali dan dia duduk diseberang Luna.
"Malam ini aku meminta tolong pada Jiraiya untuk memberikan kejutan pada teman kerjaku" Rey mengatakannya dengan sangat bersemangat.
"Owh ya? Kejutan apa?"
"Kejutan cinta" ucap Rey polos.
"Uhukk, apa!!??!!" Luna tersedak ia berpikir Rey jatuh cinta pada temannya itu, Rey mengambilkan minum untuk Luna.
"Apakah dia seorang wanita yang menarik?" Luna berusaha mengontrol dirinya.
"Ya tentu saja, dia wanita yang baik dan pandai memasak. Dia salah satu koki sepertiku direstauran"ucap Rey bangga.
"Erika maksudmu?" Luna bertanya dengan tatapan serius penuh kemarahan.
"Ya benar, dia cantik kan?"
Luna menahan amarahnya, ia meremas sendok yang digenggamnya.
"Ya tentu saja" sahut Luna geram, ia rasanya ingin melempar wajah lugu Rey dengan sendok yang dipegangnya.
"Kau membuat kejutan itu karna kau menyukainya?" Luna bertanya dengan menekankan kata-katanya.
"Tentu saja aku suka nona, dia begitu baik padaku"
Brakkk...
Luna menggebrak meja makan dengan sendok yang dipegangnya.
"Kau aku pecat dari restauran!!!"
__ADS_1