
Luna mengajak mami dan Rey keluar dengan alasan imunisasi Avior dan Alioth, ia sengaja meminta Rey yang menyetir.
"Sudah lama kita tidak pergi hanya dengan keluarga saja" usul Luna dengan manja pada Rey.
Tentu saja suami Luna yang baik hati itu tak akan menolak permintaan istri tercintanya. Mami keluar dari kamarnya, ia sudah siap dengan celana panjang kulot dan kemeja putih.
"Dimana Rara?" tanya mami sambil melihat ke arah tangga.
"Mami, tolong gendong Alioth sebentar. Aku ingin ke kamar mandi. Kalian masuk lebih dulu saja ke mobil, aku akan menyusul" Luna ingin mengalihkan perhatian mami.
Dengan perasaan bahagia mami menggendong cucunya, ia berjalan mengikuti Rey keluar. Luna juga membawa kedua baby sitter putranya. Luna melihat keadaan sekitar, ia menelpon Rara yang sudah bersiap dengan rencana mereka.
"Aku akan pergi sekarang Armando berada dibawah, aku menyuruhkan untuk berjaga dirumah" ucap Luna.
"Terima kasih kak" ucap Rara senang.
Luna membereskan bajunya dan keluar, semua orang sudah menunggu didalam mobil.
"Ayo kita berangkat.." ucap Luna saat sudah memasuki mobil dan memasang sabuk pengaman.
"Kenapa Rara tidak ikut?" tanya mami heran.
"Rara sedang tak ingin pergi mi, biarkan dia istirahat dirumah" ucap Luna menenangkan mami.
"Kalau begitu mami akan menemani Rara saja dirumah" mami hendak keluar.
Luna menahan tangan mami.
"Mami tak mau melihat Avior dan Alioth imunisasi untuk pertama kali? Mereka pasti senang ditemani oleh Omanya" ucap Luna sambil tersenyum, ia berusaha meyakinkan mami.
Mami melihat ke arah cucu-cucunya yang lucu.
"Ya baiklah, mami juga ingin dekat dengan mereka terus" kata mami mengurungkan niatnya dan meminta Avior untuk dia gendong.
Luna menghela nafas panjang, Rey melajukan mobilnya.
♥️♥️♥️
Rara melihat mobil sudah melaju dan keluar dari gerbang rumah mami. Ia segera keluar dari kamarnya, ia sudah memakai celana jeans skinny dan kaos lengan pendek berwarna hitam polos.
"Nona mau kemana?" Armando menahan Rara untuk keluar.
Rara menoleh ke arah Armando dengan wajah judes.
__ADS_1
"Apa urusanmu? Aku ingin pergi dan kau tak berhak melarangku" ucap Rara, ia berusaha menutupi rasa takutnya saat berbicara agak ketus pada Armando.
"Nona Luna berkata aku harus mengawasimu" kata Armando dengan nada tegas.
"Mengawasi saja kan? Kau tahu arti dari mengawasi?" tanya Rara sambil mengeluarkan ponselnya.
"Mengawasi artinya adalah melihat dan memperhatikan seseorang, jadi kau hanya cukup lihat dan perhatikan" ucap Rara sambil membaca artikel yang ada diponselnya, dan melirik ke Armando.
Armando diam saja ia tetap melakukan tugasnya dan menahan Rara agar tidak pergi. Dengan santai Rara tetap berjalan, Armando menangkap tangan Rara dan memutar Rara ke arah badannya. Terjadilah mereka berdua berpelukan.
"Kau sengaja ingin memelukku?" tanya Rara sambil tersenyum malu.
Armando terkejut, ia melepaskan Rara dengan wajah bersemu merah.
"Aku tetap ingin pergi, bila memang kak Luna memintamu mengawasiku maka kau boleh mengikutiku" ujar Rara enteng.
Ia membalik badannya dan tersenyum senang, ini adalah trik agar ia bisa pergi berdua dengan Armando. Armando membukakan pintu mobil untuk Rara, namun Rara mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak mau duduk dibelakang" tolak Rara, ia membuka sendiri pintu mobil bagian depan dan duduk.
Armando hanya melihat Rara dengan tatapan tak percaya.
"Apakah mobil ini bisa berjalan sendiri?" Rara membuka kaca mobil dan bertanya pada Armando yang masih terpaku di depan pintu mobil.
"Kemana nona ingin pergi?" tanya Armando, ia enggan menoleh ke arah Rara.
Senyuman Rara membuat Armando tak dapat fokus.
"Aku ingin ke tempat dimana banyak pasangan muda ke sana" ucap Rara sambil tersenyum antusias.
Armando menoleh ke Rara dengan tatapan heran, Rara tersenyum dan mengangguk dengan imutnya. Armando langsung mengalihkan wajahnya dari Rara, ia tak mau terpesona lebih dalam dengan gadis yang sedang duduk disampingnya.
"Ayo kita berangkat.." Rara menyenggol lengan Armando.
Armando mengikuti keinginan Rara namun ia masih tak tahu tempat yang Rara maksud. Rara melihat sebuah toko pakaian, ia tak suka dengan jas yang digunakan Armando.
"Berhenti disini" perintah Rara, Armando menepikan mobilnya.
Rara langsung keluar, Armando hanya melihat ke arah Rara.
"Kau tak mau mengikutiku?" tanya Rara sambil membuka pintu mobil kembali.
Armando tak bergeming, ia sudah tahu tujuan Rara.
__ADS_1
"Hanya pemberitahuan saja, aku akan menyebrang jalan sembarangan bila tak ada yang membantuku" ancam Rara.
Armando menghela nafasnya panjang, ia hanya tak ingin terbawa suasana dan perasaan. Akhirnya Armando keluar dari mobil, Rara tersenyum senang.
Ternyata Rara benar-benar tidak bisa menyebrang, ia maju dan mundur saat akan menyebrang jalan. Armando geleng-geleng kepala melihat tingkah Rara, ia langsung meraih tangan Rara dan menggandengnya untuk menyebrang bersama.
Rara menatap ke arah Armando yang memiliki tubuh 20cm lebih tinggi darinya. Saat sampai di sisi jalan, Rara tak mau melepaskan genggaman Armando dan langsung masuk ke toko.
"Aku tak mau mengganti pakaian ku" ujar Armando yang sudah menebak Rara akan memintanya memakai baju yang lain.
Rara tak perduli, ia tetap memilihkan sebuah kaos untuk Armando.
"Ini pakailah, dan ini perintah" ucap Rara dengan wajah serius.
Armando tak menyentuh kaos yang Rara berikan, ia hanya menatap lurus ke arah Rara. Dada Rara berdebar-debar ditatap oleh Armando.
"Apa rencanamu dan nona Luna?" tanya Armando datar.
Rara mengalihkan pandangannya, ia malu Armando bisa menebak semua ini rencananya dengan Luna.
"Emmm.. apa maksudmu?" Rara pura-pura tidak tahu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa nona Luna yang merencanakan ini? Agar aku bisa berkencan denganmu?" tebak Armando membuat mata Rara membulat.
Rara mengangguk ragu, ia tak berani menoleh ke arah Armando. Sepertinya pria itu marah.
"Bila memang nona Luna mengizinkannya, maka aku tak akan ragu" ucap Armando.
Ia mengambil kaos yang Rara berikan dan mengganti pakaiannya tanpa paksaan. Rara terkejut dengan perubahan sikap Armando, pria itu tersenyum riang. Setelah mengganti bajunya, Armando langsung menemui Rara kembali.
"Baiklah nona, aku akan mengajakmu ketempat yang bagus" ujar Armando sambil menggandeng tangan Rara dengan wajah senang.
Rara masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, Armando pun merasa tak ada yang harus ia tahan lagi bila memang nona mudanya tak keberatan dengan perasaannya pada Rara.
"Tunggu..." Rara menarik tangannya.
Armando menoleh ke arah Rara.
"Ada apa nona?" tanya Armando heran.
"Sepertinya aneh jika kita berkencan dan kau memanggilku nona" Rara cemberut.
"Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan sayang?"
__ADS_1